Kamis, 31 Desember 2009

Penduduk Gunung Qaf

Pada tanggal 27 Rajab, tahun ke 11 setelah Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul, yang berarti beliau telah berumur 51 tahun, beliau dipanggil Allah untuk menghadap di haribaan-Nya dengan Isra’ dan Mi’raj sebagai wahana yang menyampaikan maksud tersebut. Padahal perjuangan Islam dikala itu menghadapi ujian yang maha berat. Gangguan dan hinaan semakin hebat. Dengan demikian peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu dimaksudkan untuk menambah kekuatan iman dan keyakinan beliau sebagai Rasul, yang diutus Allah ke tengah-tengah manusia untuk menyampaikan risalah-Nya.
Ketika Rasulullah menjalani Mi’raj itulah, beliau melihat sebuah gunung yang cujkup besar, Qaf namanya. Ia berada pada sebuah padang perak mengkilat yang menghampar. Di belakang gunung itu masih ada tujuh puluh gunung yang lain lagi. Dan di belakangnya terdapat suatu kota. Diantara kota-kota itu ada yang berpenghuni makhluk dari jenis Bani Adam. Maka setelah Rasulullah sampai di sana, mereka dengan serta merta mengucapkan salam seraya memuji atas kemurahan Allah yang telah mempertemukan mereka dengan Rasulullah, serta menyatakan keimanannya pada beliau.
“Siapakah kalian, tampaknya kami belum pernah melihat kalian.” begitu sapa Rasulullah di awal perjumpaan.
Maka seorang pimpinan mereka tampil kemuka menerangkan jati dirinya :
“Kami merupakan komunitas kaum Bani Israel yang hidup setelah nabi Musa As. diutus Allah. Namun setelah beliau wafat, terjadilah huru hara dan perpecahan anatara Bani Israel sehingga menimbulkan berbagai bencana yang begitu dahsyat. Pada masa itu tidak kurang dari empat puluh tiga nabi terbunuh, sehingga masyarakat tidak lagi mengetahui mana yang hak dan mana yang batil. Menyadari terjadinya kerancuan seperti itu, kira-kira dua ratus orang yang ahli ibadah dan bersikap zuhud tampil untuk membenahi masyarakat. Digelarnya amar makruf dan nahi ‘anil munkar, namun Bani Israel malah menghabisi mereka. Dua ratus orang itu dibunuh dalam satu hari. Setelah pereode tersebut, keadaan masyarakat menjadi lebih runyam lagi, keonaran muncul di mana-mana dan tampak sudah sulit dipadamkan.
Dari sebab tidak mampu kami untuk menanggulangi bencana di segala lini itu, kami berdo’a semoga Allah menyelamatkan kami dari bencana yang mengancam keselamatan akidah kami. Dan ketika kami masih berdo’a itulah tiba-tiba hamparan tanah yang berada di hadapan kami terkuak lebar, kemudian kami terperosok ke dalamnya, dan terus terperosok sampai dasar bumi. Kami berada di sana selama delapan belas bulan, dan setelah itu baru kami bisa keluar menuju tempat ini. Sebelum kesemuanya terjadi, Nabi Musa As. telah berpesan kepada kami bahwa jika saja kami bisa menjumpai Nabi Muhammad yang akan diutus pada akhir zaman, hendaklah kalian sampaikan salamku padanya. Berpesan pula agar engkau mengajari kami mengenai Al-Qur’an, shalat, puasa, berjum’atan dan hukum-hukum yang lain. Maka pada kesempatan pertemuan ini, mereka pun diajari Rasulullah mengenai apa yang telah diwasiatkan oleh Nabi Musa. Kemudian Rasulullah berkeliling melihat kehidupan mereka. Dalam perjalanan inilah beliau melihat banyak keganjilan yang belum pernah dilihatnya selama ini.
“Mengapa rumah kalian selalu terbuka, siang dan malam tidak pernah kalian tutup”. tanya Rasulullah.
“Kami merupakan suatu komunitas (kaum) yang sangat aman, tidak pernah terjadi keributan sama sekali, baik mengenai harta atau pun yang lain. Dengan demikian kami tidak memerlukan penjaga keamanan.” begitu jawab mereka.
“Terlihat pula rumah kalian tertata rapi dan dalam tipe yang sama yang tampak keasriannya, mengapa ?”. kejar Rasulullah lagi.
“Masyarakat di sini , “kata mereka”, merupakan komunitas satu hati, duduk pun sama rendah dan berdiri sama tinggi, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing. Tidak seperti perumahan yang ada di dunia, kendati dalam tipe yang sama, namun menjadi RSS (Rumah Sangat Semrawut) tersebab hati mereka yang sangat serakah dan menggandrungi dunia.”
“Mengapa pula masjid kalian begitu jauh dari perumahan ?” tanya Rasulullah lagi.
“Tiada lain agar menambah pahala kami. Dimana seseorang yang berangkat ke masjid dari tempat yang jauh, pahalanya akan melebihi mereka yang berada di dekat masjid. Itulah tujuan kami, wahai Rasulullah”. tukas m ereka kembali.
“Mengapa jika saja terdapat salah satu anggota keluarga yang mati, mereka selalu dikuburkan di depan rumah?”.tanya Rasulullah kembali.
“Kebijaksanaan itu tiada lain agar kami dalam mengarungi kehidupan dunia ini selalu ingat terhadap maut yang selalu mengintai setiap waktu. Dengan demikian kami akan selalu beramal kebajikan sebagai persiapan apa yang terjadi setelah maut merenggut jiwa kami.” begitu jawab mereka.
“Mengapa aku lihat, “pertanyaan Rasulullah selanjutnya”, kalian tidak pernah tertawa ?.
“Sikap yang demikian itu tiada lain karena kebanyakan tertawa akan mengesatkan hati, sehingga lama kelamaan akan tertutup hidayah. Demikianlah sikap kami, wahai Rasulullah”. tukas mereka kembali.
“Adakah kalian pernah mengalami sakit ?”. tanya Rasulullah lebih lanjut.
“Sakit merupakan penghapus terhadap dosa, padahal komunitas kami tidak mengenal dosa, juga tidak pernah melakukannya. Dengan demikian kami tidak pernah mengalami sakit.” begitu aneh jawab mereka.
“Adakah kalian juga bercocok tanam ?” Rasulullah kembali bertanya.
“Benar, kami juga bercocok tanam. Namun setelah itu kami serahkan saja kepada Allah sampai datangnya hari panen. Dan ketika panen itulah kami berkumpul bersama untuk mengambil sebagian kecil panenan itu, kemudiuan kami biarkan saja sisanya yang tertinggal lebih banyak.” jawab mereka mengherankan pula.
“Adakah kalian memiliki binatang ternak ?” tanya Rasulullah lagi.
“Benar, seluruh binatang ternak kami selalu berada di padang sahara. Hanya saja jika kami memerlukan satu dua, kami langsung mengambil seperlunya, kemudian sebagian besar yang lain kami tinggalkan begitu saja di sana.” jawab mereka tambah aneh pula.
“Aku lihat, “kata Rasulullah”’ mengapa wajah-wajah kalian memucat ?”.
“Tiada lain perubahan warna tersebut karena seluruh masyarakat kami merasa takut sekali atas kematian. Dalam arti bukan karena menyintai keghidupan dunia, namun amal-amal kami yang kelak sebagai bekal di akherat serasa belum cukup untuk menghadapi huru hara di belantara kiamat nanti” begitu mereka menguraikan.
“Adakah sering terjadi kematian di kalangan masyarakat kalian.” tanya Rasulullah kembali.
“Rata-rata dalam masyarakat kami akan terjadi kematian satu orang dalam jangka setahun, tidak lebih.” sambung mereka kembali.
Setelah dialog ini selesai, Rasulullah segera berpamitan untuk meneruskan perjalanannya bersama Jibril As.◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar