Kamis, 31 Desember 2009

Bal’am bin Ba’aura’

Bal’am merupakan seorang keturunan Bani Israil yang hidup di negeri Syam yang ketika itu sebagian besar penduduknya terdiri dari kaum Jabbarin (Jababirah). Ia termasuk orang yang terkenal alim, dimana jika memandang ke arah atas, maka akan tampak ‘Arsy Allah. Dan bila dihitung maka tidak kurang dari dua belas ribu tempat tinta para murid yang belajar kepadanya. Seorang penulis yang tiada bandingannya ketika itu. Di samping memiliki doa yang begitu mustajabah sehingga jika ia memanjatkan doa kepada Allah, seketika itu pula apa yang dimaksudkan akan diperkenankan. Hal ini tiada lain karena dia mengetahui ismul A’zham (asma Allah yang sangat rahasia). Seringkali pula tatkala terjadi berbagai bencana atau pun malapetaka, ia tampil ke depan untuk mengatasi dan memberi solusi terbaik dalam menyelamatkan para penduduk. Namun dia diberi juga oleh Allah tiga buah doa yang sangat khusus, yaitu doa-doa yang hanya sekali pakai. Dengan demikian jika doa itu dipakai atau diberikan kepada orang lain, maka hilanglah tuahnya. Ia hidup dengan seorang isteri yang cukup cantik dan beberapa anak lelaki yang tampan-tampan pula.
Pada suatu hari isterinya mohon didoakan agar menjadi wanita tercantik di negeri itu agar menjadi idola dan menarik perhatian setiap yang memandangnya. Permintaan itu segera disanggupi oleh Bal’am dan ia pun menjadi wanita tercantik di negeri itu sehingga banyak pula para pengagumnya. Namun sebuah kecantikan tidaklah selamanya akan membawa kebahagiaan. Kini wanita itu setiap hari malah sering keluar rumah dengan tidak begitu memperhatikan lagi keutuhan rumah tangganya. Akibatnya dapat ditebak, Bal’am selalu uring-uringan dengan isteri yang bagaikan putri cinderella itu sehingga tidak tahan menghadapi wanita tua-tua keladi, semakin tua semakin sering pergi. Disumpah serapahinya wanita itu semoga menjadi anjing, seketika itu juga isteri yang durhaka itu menjadi anjng dengan tangis yang tak henti-hentinya. Anak-anak Bal’am sendiri tampak begitu sedih melihat nasib ibunya yang sengsara itu. Maka mereka pun memohon pada sang ayah, agar sudilah kiranya dia mengembalikan wujud ibunya. Setelah mereka mendesak sang ayah begitu rupa, akhirnya ia pun berdoa dan dalam sekejap saja ibunya telah kembali pada wujud semula.
Kaum Bani Israel ketika itu kebanyakan menjadi pengikut Nabi Musa yang melarikan dari dari Mesir karena dikejar-kejar Fir’aun. Mereka diberi petunjuk Allah agar memasuki tanah Syam sesuai dengan janjikan Allah bahwa jika saja memasuki tanah itu, mereka akan segera mendapat kemenangan dalam menghadapi kaum kafir Jababirah sehinga Syam kelak akan menjadi negeri kaum Bani Israel itu.
Ketika mendapat informasi bahwa kaum Bani Israel ini akan menyerbu negeri Syam, sebenarnya hati kaum Jababirah sudah dirayapi rasa gentar, sehingga banyak pula di antara mereka yang segera menemui Bal’am bin Ba’ura’ untuk menyelamatkan kehidupan mereka dari serbuan itu.
“Wahai tuan Bal’am, berdoalah kepada Allah agar mengusir Musa bersama bala tenteranya?” begitu permintaan mereka.
“Aku tidak berani bertindak sebelum mendapat izin Allah,” begitu kata Bal’am.
Mengetahui keengganan Bal’am ini, kaum Jababirah segera memberikan berbagai hadiah, emas, perak ratna mutu manikam yang gemerlapan agar dia sudi berdoa.
Namun Allah segera menjawab:
“Jangan kau berdoa untuk menyengsarakan Bani Israel. Mereka adalah para hamba-Ku yang dipimpin oleh dua orang Nabi pula.”
Namun kaum Jababirah itu mendesak sekali lagi dengan membawa perbagai hadiah yang sangat menggiurkan, sehingga isteri Bal’am segera menganjurkan agar dia mau berdoa, kendati hanya satu atau dua patah kata saja.
“Berdoalah!, mengingat kalau harta yang berharga itu harus diraih dengan kerja, pastilah akan memakan usia, bahkan belum tentu seumur hidup akan bisa mendapatkannya”. begitu saran sang isteri dengan menelan air ludah menahan keinginan yang menggebu-gebu.
Maka Bal’am segera mohon izin pada Allah, adakah doa’ yang demikian itu diperkenankan atau yang lain. Namun kali ini tidak ada sebuah jawaban dari Allah, sehingga Bal’am bertindak menurut akalnya sendiri dan mengenyampingkan petunjuk Allah yang pertama. Di samping mendapat tekanan isterinya, kaum Jababirah itu banyak yang mengatakan:
“Jika saja Allah melarangnya, mestilah Dia memberi tahu kepada tuan sebagaimana kejadian yang pertama.”
Maka terjadilah apa yang terjadi, sebelum berdoa Bal’am malah mengatakan bahwa Allah sangat membenci pada perzinahan, padahal kaum Bani Israil yang dipimpin Nabi Musa itu merupakan orang pelarian yang kebanyakan tidak memiliki isteri. Untuk menghancurkan mereka, hendaknya seluruh wanita kaum Jababirah disarankan segera mendekati kaum Bani Israel dan menyerahkan tubuh-tubuh mereka agar disetubuhi tanpa dengan ikatan tali perkawinan, dimana perbuatan itu segera akan mengundang murka Allah yang selanjutnya mereka akan dihancurkan-Nya dengan tanpa pertumpahan darah. Maka wanita-wanita itu segera bersolek sedemikian rupa dengan di pimpin oleh anak gadis raja mereka sendiri untuk menjebak Bani Israel. Sebelum berangkat, anak gadis itu disarankan oleh Bal’am.
“Untuk dirimu, wahai putri junjunganku, janganlah kau mau dizina terkecuali oleh Musa sendiri.”
Maka kaum Bani Israel yang kebanyakan imannya keropos itu pun berpesta pora mengadakan perzinahan besar-besaran tanpa menggubris lagi seluruh saran dan nasehat Nabi Musa. Padahal mereka baru saja menyembah anak sapi yang dipimpin oleh Samiri.
Akan halnya anak gadis raja itu setelah mencari-cari Nabi Musa dan ternyata tidak ada sebuah tanggapan, maka segera mendekati seorang pemimpin dari dua belas suku keturunan Nabi Ya’qub. Dan ternyata lelaki itu pun jatuh dalam rayuannya, namun setelah mau berzina, wanita itu melaporkan dulu mengenai hasil usahanya kepada yang ayah bahwa yang terkena rayuannya bukan Nabi Musa, akan tetapi hanya seorang pemimpin dari dua belas pemimpin suku-suku mereka. Setelah berpikir cukup, sang ayah segera mengizinkan sang putri untuk berzina dengan lelaki itu. Dan ketika perbuatan itu berlangsung, seorang lelaki dari keturunan Nabi Harun dapat mengetahui kebinatangan ini, maka segera saja keduanya dilempar dengan tombak hingga menemui ajalnya, kemudian tubuhnya diangkat dengan tombak tinggi-tinggi, agar kaum Bani Israel melihat atas hukuman yang ditimpakan pada mereka.
Setelah terjadi perzinahan besar-besaran ini, Bal’am pun berdoa agar Allah menimpakan kepada Nabi Musa dan kaumnya suatu malapetaka sehingga tidak berhasil memasuki negeri Syam. Sedangkan dari akibat perzinahan tadi, tujuh puluh ribu lelaki Bani Isarel mati terkena epidemi (tha’un) berupa penyakit yang tak tersembuhkan sampai merenggut ajal mereka.
Akibat doa Bal’am ini, kaum Bani Israel terkungkung dan terjebak di Padang Taih, sebuah kawasan yang selalu membuat bingung mereka yang di dalamnya. Dikisahkan jika saja Bani israel itu pagi-pagi berangkat ke utara agar bisa keluar dari kawasan itu, maka ketika sore tiba-tiba telah berada pada tempat mereka ketika berangkat. Demikian pula jika saja ke daerah timur menjelang petang, maka paginya mereka telah berada di tempat berangkat itu lagi. Akhirnya Nabi Musa segera bermunajat kepada Allah mengenai penyebab bingung seperti itu, maka Allah segera memberi tahu bahwa itu semua akibat ulah dan doa yang diucapkan Bal’am bin Ba’aura’.
“Sebagaimana Engkau telah memperkenankan doa Bal’am untuk mencelakan aku beserta kaumku, maka perkenankanlah doaku agar dia celaka. Lepaskan pula ismul A’zham dan iman yang telah Engkau karuniakan kepadanya, ya Allah.” begitu Nabi Musa memohon.
Allah pun memperkenankan doa Rasul-Nya, sehingga ismul A’zham dan iman serta makrifat yang dimiliki Bal’am terlepas dan keluar dari tubuhnya bagaikan seekor merpati putih yang terbang. Maka kafirlah dia disamping lidahnya selalu menjulur sampai ke pusar. Dimana jika dikembalikan lagi, ia akan menjulur lagi. Demikian dia mendapat hukuman dari Allah sampai matinya. Sehingga dalam Al-Qur’an dikatakan :
Perumpamaannya seperti anjing, jika saja kamu menghalaunya, maka dijulurkanlah lidahnya. Dan jika kamu membiarkannya, maka lidahnya akan dijulurkannya pula. ( QS . 7 : 176 ).
Setelah peristiwa itu, Nabi Musa segera memerintahkan sisa-sisa kaumnya untuk memasukli negeri Syam yang dijanjikan Allah itu. Ternyata perintah suci ini dirtanggapi negatif , malah banyak pula yang mengatakan :
“Wahai Musa!, sesungguhnya dalam negeri itu terdapat kaum Jababirah yang gagah perkasa. Sehingga kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar sendiri dari negeri itu. Dan jika saja mereka telah keluar darinya, maka kami akan memasukinya.”
Itulah Bani Israel, kaum pengecut, kalau ada wanita begitu rakus, namun ketika harus memanggul senjata ternyata ketakutannya melebihi wanita pingitan. Namun dengan sabar Nabi Musa masih mau mengarahkan lagi pada mereka agar menjadi kaum yang pemberani sehingga bisa memasuki negeri yang telah dijanjikan Allah.
“ Serbulah mereka dengan melalui gerbang kota itu. Jika saja kalian memasukinya, niscaya kalian akan mendapatkan kemenangan.” begitu ucapan dua orang yang memperkuat himbauan Nabi Musa.
Namun Bani Israel malah berkeluh kesah dan dengan kurang ajar mengatakan kepada Nabi Musa:
“Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasuki untuk selama-lamanya selagi mereka masih bercokol di dalamnya. (kalau kau masih ngotot juga) Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sedangkan kami hanya duduk-duduk menanti di sini saja”.
Astaghfirullahal Azhim, dengan tubuh lemah lunglai, akhirnya Nabi Musa bermunajat kepada Allah :
“Ya Allah, aku tidak punya kekuasaan lagi kecuali pada diriku sendiri dan saudaraku (Harun). Maka dari itu pisahkanlah antara diri kami dengan orang-orang yang fasik itu”.
Akhirnya Nabi Musa sendiri wafat di padang Taih dengan kaumnya yang belum memiliki sebuah negeri. Namun ketika beliau akan wafat, beliau sempat berdoa hendaklah janazahnya didekatkan dengan negeri harapan itu kendati tidak berhasil diraihnya, maka doa itu pun diperkenankan Allah sehingga janazah beliau dimakamkan hanya berjarak beberapa kaki dengan batas negeri itu.
Akan halnya Bani Israel masih kebingungan di Padang Taih selama empat puluh tahun sebagai hukuman atas ulah mereka dalam menentang kebijaksanaan Allah dan Rasul-Nya, dimana dalam kebingungan itu, hampir-hampis saja mereka punah ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar