Kamis, 31 Desember 2009

Ka’bah Tempat Manusia Berkiblat

Negeri Makkah yang terkenal tandus itu, dahulunya adalah bernama Bakkah, yang artinya sebagai tempat manusia berdesak-desakan ketika melakukan thawaf. Kawasan itu telah disebutkan Allah sebagai daerah berkah, yang berarti merupakan kebaikan yang meliputi segala sektor, baik untuk kehidupan duniawi atau pun ukhrawi. Hal ini tidaklah lepas dari do’a yang telah diucapkan oleh moyang para Nabi, yaitu Nabi Ibrahim ketika beliau menginjakkan kakinya di kawasan gersang itu. Padahal beliau akan menempatkan anak cucunya untuk merawat dan memakmurkan Ka’bah yang telah berhasil dibangunnya. Setelah menyadari bahwa tanah Bakkah itu tidak mungkin akan dijadikan sebagai lahan bercocok tanam, maka Nabi Ibrahim segera berdo’a.
Rabbi ij’al haadzaa baladan aaminan wa urzuq ahlahu minats tsamaraati .

Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri ini(Makkah) sebagai negeri yang aman, dan berilah rizki penduduknya buah-buahan(QS 2 : 127 )

Itulah do’a seorang Nabi yang termaktub dalam Al-Qur’an. Begitu cerdas dan simpelnya pikiran beliau ketika berdo’a. Yang diminta langsung buah-buahan, bukan pohon-pohon yang rindang yang akan mengeluarkan buah namun harus ditanam dulu, kendati akan sering pula diserang hama ketika hendak berbuah. Sikap seperti itu akan sama dengan ucapan kita. “Ya Allah, saya membutuhkan duit, uang, bukan pekerjaan dan bukan pula kesibukan hidup. Yang demikian itu memang telah terbukti kebenarannya, sehingga Makkah menjadi kota pusat perdagangan. Barang-barang apa pun akan laku diperjual belikan di negeri itu, kendati di negeri asalnya hanya bisa laku jika telah dibanting harganya. Sehingga dalam surah Quraisy dijelaskan pula bahwa pada zaman dahulu, jika datang musim kemarau, para penduduk Makkah akan berangkat mernuju daerah Utara, seperti Mesir, Syam, Iraq dan lain-lain. Sedangkan jika datang musim penghujan, mereka akan pergi ke daerah Selatan, seperti Yaman dan sekitarnya guna berniaga dan mencari barang yang laku di pasaran Makkah. Malah negeri itu sekarang kendati tanahnya tetap gersang, ternyata di dalam mengandung sumber Petro Riyal yang membuat negera-negara Barat menelan air liur yang tiada henti-hentinya. Semoga penduduk negeri Nabi Ismail itu pandai bersyukur agar kenikmatan yang diberikan Allah dapat kekal, amin.
Akan halnya Ka’bah, merupakan kiblat yang begitu sakral. Sebuah bangunan yang paling awal sebagai tempat ibadah manusia. Telah banyak pula orang yang mengatakan (mungkin dapat dikatakan mutawatir) bahwa disana merupakan tempat pembalasan dunia dalam arti jika saja seseorang ketika di negeri asalnya itu bersikap buruk terhadap sesamanya, maka jika ia berada di negeri itu segera akan dibalas pula mengenai perilakunya itu. Disana didapatkan pula sebuah batu besar yang ada bekas telapak kaki Nabi Ibrahim ketika berdiri di atasnya untuk membangun Ka’bah sebagai tangga, itulah Maqam Ibrahim. Dan sampai sekarang, tidak akan ada burung yang berani menyebarang tepat di atas udara Ka’bah. Malah biasanya kalau ada burung menyeberangi udaranya, ia merupakan burung sakit yang mencari kesembuhan dengan udara di atas Ka’bah itu.
Rasulullah telah mengatakan :“Haji yang mabrur itu tiadalagi balasannya kecuali surga”.
Sebagaimana keterangan hadits Muttafaq ‘Alaih dari Abu Hurairah. Pada sekali kesempatan bersabda pula :
“Shalat di Masjidku ini(yakni Masjid Nabawi) adalah lebih utama dari pada seribu shalat dibanding dalam masjid-masjid yang lain kecuali Masjidil Haram. Sedangkan shalat di Masjidil haram adalah lebih utama dari pada seratus shalat dibanding shalat di Masjidku ini”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad yang ditash-hih oleh Ibnu Hibban dari Abdullah bin Zubair.
Dengan demikian keutamaan shalat di Masjidil Haram adalah seratus ribu kali jika dibanding pada masjid-masjid yang lain. Begitu mudah mendulang pahala.
Memang kemudahan-kemudahan mendapatkan pahala seperti ini, hanyalah dikhususkan pada ummat Muhammad, mengingat umur mereka yang pendek-pendek dengan postur tubuh yang kecil-kecil. Bandingkan saja dengan umur Nabi Nuh yang telah dikatakan Al-Quran bahwa beliau berdakwah pada kaumnya itu selama 950 tahun. Dan rata-rata kedewasaan ketika itu adalah umur 200 tahun. Sedangkan kaum Tsamud dan kaum ‘Ad yang telahdihancurkan Allah, menurut sinyalemen Al-Qur’an ketika mereka mati dan membujur kaku seakan mereka pokok kurma yang tumbang (QS 54 : : 20 ). Menurut keterangan, ketinggian rata-rata mereka mencapai 60 hasta, sekira tiga puluh meter lebih. Sedangkan manusia sekarang ini jika saja menginjak 60 tahun, hendaknya segera bersiap-siap membeli kafan, dan kalau di Jakarta hendaknya bersiap untuk membeli rumah tipe 2 x 1, kuburan, dan bersiap pula mengenai biaya penggaliannya. Itupun belum tentu aman dari penggusuran. Dengan demikian tidak usah kita mati di Jakarta, sengsara ..!.
Syeikh Izzuddin Ibnu Abdis Salam (Mesir) telah mengatakan pula bahwa memang Allah telah memberi kita ummat Muhammad waktu-waktu atau tempat-tempat, dimana ketika ibadah kita bertepatan dengan waktu atau tempat tersebut, pahalanya akan dilipat gandakan tanpa dapat diperkirakan lagi. Waktu-waktu utama itu kalau setiap minggu seperti hari Jum’at, atau Ramadhan untuk bulan, hari Arafah, bulan-bulan Haram sebagaimana Dzil Hijjah, Muharam, Rajab dan Dzil Qa’dah dan lain-lain. Sedangkan tempat-tempat yang penuh keutamaan yaitu sebagaimana Masjidil Haram, Arafah, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha dan lain-lain. Sehingga jika saja seseorang beramal bertepatan dengan hari Jum’at, di dalam Masjidil Haram dan bertepatan dengan Lailatul Qadar, ia akan memperoleh pahala luar biasa besarnya. Sebaliknya, pada tempat-tempat dan waktu itu pula jika seseorang melakukan kedurjanaan, ia akan mendapat dosa alang kepalang besarnya. Misalnya saja jika seseorang berzina dengan ibunya, bertepatan di malam Lailatul Qadar dan di dalam Masjidil Haram. Ini merupakan kebiadaban yang sulit terampuni.
Kendati pun Ka’bah itu begitu mulia, namun tidak lepas pula dari percobaan berbagai pihak untuk menodai,. Sebagaimana menjelang kelahiran Rasulullah saw., seorang gubernur Nasrani Yaman yang menjadi bawahan kerajaan Ethiopia (Habasyah) yang bernama Abrahah bin Asyram pernah mencoba untuk meluluh lantakkannya. Peristiwa itu tiada lain dipicu oleh kedengkiannya terhadap Ka’bah itu sendiri. Mengapa bangunan kusam itu selalu dikunjungi berbagai lapisan masyarakat dari seluruh penjuru sehingga menjadikan Makkah sebagai kota yang tak pernah mati, siang dan malam. Padahal Yaman yang menjadi kekuasaannya tidaklah seramai Makkah.
Untuk mencapai maksud itu., ia mencoba untuk membangun tempat ibadah yang lebih megah dan lebih cantik dari pada Ka’bah yang terletak di kota Shan’a agar perhatian manusia beralih ke tempat itu. Ia beri nama gereja itu dengan Al-Qulais. Kemudian ia berusaha mempengaruhi seluruh rakyat untuk berhaji saja di tempat itu, namun dengan cara-cara yang kurang terpuji sehingga sebagian penduduk Makkah geram dibuatnya. Makin lama perbuatan Abrahah itu semakin membabi buta dan tidak mengenal batas-batas toleransi. Pada Akhirnya seseorang yang terkenal pemberani dari suku Kinanah (Makkah) memasuki gereja itu seraya mengencingi dan malah melumurkan tinjanya pada tembok-tembok gereja itu.
Setelah pelaku peristiwa ini dapat diketahui dan ternyata dari penduduk Makkah, berang dan geram Abrahah sudah tidak dapat ditahan lagi, ia ingin segera menghancurkan Ka’bah dengan niat sekali mendayung dua tiga pulau terlapaui, yakni dalam sekali menyerbu, Ka’bah akan hancur dan diharapkan seluruh rakyat Makkah akan segera beralih ke Al-Qulais.
Maka berangkatlah angkatan perang Abrahah dengan menunggang Mammoud (mahmud)1 menuju Ka’bah hingga mencapai kawasan Al-Mughammas, daerah di luar Makkah. Disana ia merampas kawanan onta Abdul Muthalib yang ketika itu sebagai penguasa Ka’bah. Sebenarnya Abdul Muthalib telah berusaha mengadakan negosiasi agar angkatan perang itu kembali dengan mendapat konpensasi sepertiga harta daerah Tihamah(Makkah dan sekitarnya), namun tawaran itu ditolak oleh Abrahah melalui ajudannya, Abu Yaksum. Mereka malah bernafsu sekali untuk segera menghancurkan Ka’bah. Setelah negosiasi ini kandas, Abdul Muthalib dengan sangat meminta agar seluruh ontanya dikembalikan. Segera saja Abrahah mengembalikan seluruh onta Abdul Muthalib yang telah dirampasnya sembari mengatakan :
“Kami datang kesini sangatlalah merugi jika hanya mengurusi onta yang anda miliki. Maksud pokok kami adalah menghancurkan Ka’bah”. begitu ucapnya pada Abdul Muthalib.
“Adapun Ka’bah itu sudah ada penguasanya sendiri, aku hanya sekedar menjaga. Ia merupakan rumah Allah (Baitullah). Kami serahkan saja segala urusannya pada-Nya.” begitu jawab Abdul Muthalib yang menunjukkan ketidak berdayaan dirinya dan kaumnya dalam membela rumah suci itu. Sikap seperti ini sebenarnya dapat dijadikan indikasi, betapa lemahnya daya juang kaum Musyrikin untuk membela kepentingan agama Allah, tidak ada jihad yang mengarah menjujung tinggi agama. Sehingga Abrahah tidak mendapatkan perlawanan sedikit pun dari mereka.
Sebenarnya sebelum angkatan perang mereka diberangkatkan dari Al-Mughammas ini telah mendapat firasat buruk, gajah-gajah mereka selalu berpaling dan menderum jika saja dihela, dan akan segera bergegas jika diarahkan pada kawasan yang lain.
Setelah mengetahui kenekatan Abrahah ini, Abdul Muthalib segera kembali ke Ka’bah untuk menjalankan thawaf terakhir, berpamitan sebelum Ka’bah itu hancur. Dengan kesedihan yang mendalam dan perasaan tercabik-cabik, ia tumpahkan air matanya seraya menyenandungkan do’a :

Ya Allah, seseorang akan selalau membela hak miliknya.
Belalah hak milik-Mu dengan segala kekuasaan-Mu.



Jangan Kau beri kemenangan penyandang Salib itu.
Bahkan curahkan kemenangan-Mu itu pada kami.
Luluh lantakkan mereka di atas kemenangan-Mu.

Dan jika Engkau biarkan mereka menghancurkan.
Segala kehendak hanyalah Engkau yang mengetahui.

Ya Allah, tiada kuharap selain Engkau
Ya Allah, cegahlah mereka dengan kekuatan-Mu.

Musuh Baitullah hakikatnya musuh-Mu jua.
Cegahlah mereka yang merobohkan tempat suci-Mu.

Setelah angkatan perang Abrahah diberangkatkan dan telah berada antara Al-Mughammas dan Ka’bah itulah dari arah selatan (Yaman) mereka melihat kawanan burung aneh. Paruhnya berupa belalai panjang, sedangkan pada belalai dan kedua kakinya mencengkeram batu. Dengan demikian setiap burung membawa tiga batu. Batu itu lebih besar dari pada kedelai namun lebih kecil dari pada kacang tanah. Tiba-tiba saja burung-burung itu menyerang dengan batu-batu sijjil yang lebih kecil dari pada batu-batu intifadhah. Dan alangkah fatalnya, setiap batu yang dilemparkan mesti tepat mengenai sasaran, mulai dari ubun-ubun tembus sampai setiap dubur tentara Abrahah. Seketika itu seluruh prajurit berlarian menyelamatkan diri, namun burung-burung itu tidak mau kehilangan sasaran sehingga Abrahah dan bala tentaranya hancur lumat . Malah sendi-sendi tubuh Abrahah sendiri seluruhnya terlepas dan mati dengan dada yang terbelah. Sedangkan Abu Yaksum sempat melarikan diri dan segera melaporkan peristiwa itu ke raja Negos Habasyah, namun setelah menghentikan uraiannya, seekor Ababil segera melemparkan kerikil-kerikil tajam ke tubuhnya sehingga menemui ajalnya dihadapan sang baginda. Tammatlah riwayatmu kini. Semoga Allah menambah kemuliaan Ka’bah dan mereka yang menghormatinya, semoga pula kita dapat menjadi tamu-tamu Allah di rumah suci-Nya itu, amin ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar