Selasa, 29 Desember 2009

Hasan Bashri Menjadi Korban Provokasi.

Hasan Bashri Menjadi Korban Provokasi.




Tidak diragukan lagi, Hasan Bashri merupakan pembesar ulama Bashrah dizamannya. Pada suatu hari ia sedang duduk bersama para murid-muridnya yang membentuk halaqah di sebuah masjid untuk menyampaikan berbagai nasehat yang bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan ruhani mereka.
Namun belum lama aktivitas itu berlangsung, Panglima Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi datang bersama dengan para pengawal melalui sebuah pintu masjid yang lain. Ketika itu Hajjaj segera menebarkan padangannya, mencari halaqah yang paling banyak pengikutnya. Maka segera ditemukan sebuah halaqah yang dimaksud dengan dipimpin oleh Syeikh Hasan Bashri. Panglima itu segera mendekati dan mencari tempat duduk di dekat Syeikh Hasan. Ketika Syeikh Hasan menyadari datangnya seseorang yang dikiranya ingin mendengarkan fatwa-fatwanya ini, ia segera memberi tempat, kendati majlis itu telah penuh sesak para hadirin.
Sebenarnya Hasan Bashri, “begitu kata Sa’id bin Marwan”, telah menyadari bahwa yang datang itu tiada lain adalah seorang panglima. Ketika itulah aku tunggu bagimana reaksi Hasan. Adakah ia mempersingkat majlis pengajiannya karena ada rasa takut terhadap Hajjaj. Ataukah malah memperpanjangnya, dengan maksud agar mendapat simpati Hajjaj. Setelah lama aku perhatikan, ternyata pengajian Hasan berjalan normal-normal saja sebagaimana biasanya, tidak dipercepat, dan tidak pula diperpendek. Malah dalam kesempatamn itu, pengajiannya pun tisdak dihentikan sementara untuk menghormati sang Panglima. Hal ini berlangsung sampai pengajian itu selesai, sebagaimana biasanya.
Seusai menyampaikan ceramah, Hasan bersikapseakan tidak mengetahui kehadiran Hajjaj. Maka Hajjaj segera menjulurkan tangannya ke pundak Hasan seraya mengatakan pada para Hadirin :
“Hasan merupakan orang benar, dengan demikian tekunilah halaqah ini dan sejenisnya.. Sebagaimana aku pernah mendengar keterangan Rasulullah Saw.yang mengatakan bahwa Majlis-majlis dzikir (pengajian) merupakan taman-taman surga. Sehingga jika saja saya tidak memegang dan dibebani urusan ketentaraan ini, kalian semua akan tidak akan bisa mengalahkanku mengenai ketekunan menjadi anggota halaqah seperti ini.Tiada lain karena aktivitas seperti ini akan menangguk keutamaan yang besar sekali.” begitu kata Hajjaj.
Bukan itu saja yang dikatakan Hajjaj, malah masih banyak sekali kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya sehingga Hasan dan para hadirin dibuat takjub karenanya. Setelah itu Hajjaj segera beranjak pergi. Namun beberapa saat kemudian, datanglah seorang lelaki dari penduduk Syam menuju halaqah Hasan itu seraya mengadukan :
“Wahai orang-orang Islam, adakah kalian tidak heran melihat diri saya yang telah tua ini, namun saya masih diwajibkan perang dan menghasilkan sendiri peralatannya, baik itu berupa kuda atau keledai, bahkan harus mendirikan khemah sendiri. Padahal aku masih menanggung tujuh anak perempuan.”
Mendengar pengaduan ini, Hasan Bashri dan hadirin banyak yang menaruh belas kasihan. Dan setelah lelaki itu selesai mengutarakan pengaduannya, maka Hasan pun mendongakkan kepala seraya mengatakan :
“Semoga Allah melaknat Hajjaj, ia telah mempergunakan hamba-hamba Allah sebagai pelayan menurut kemauannya sendiri. Telah mengambil harta Allah sebagai rampasan. Sering memerangi orang lain hanya karena berebut dinar dan dirham. Apalagi ketika memerangi musuh, ia akan memasang khemah yang begitu mewah dan naik keledai yang begitu lincah. Namun jika memberangkatkan saudara-saudaranya untuk perang, mereka tanpa dibekali keperluannya, banyak pula yang harus berjalan kaki dan menanggung lapar.”
Kalimat sejenis itu, “kata Sa’id bin Marwan”, diucapkan Hasan berulang-ulang hingga Hajjaj sudah terkesan dengan Panglima yang begitu buruk. Tragisnya disitu ada lelaki yang simpati pada Hajjaj, maka secepatmnya ia beranjak pergi menuju Hajjaj untuk melaporkan atas hujatan yang dilakukan Hasan. Tidak berselang lama akhirnya seorang utusan Hajjaj datang menghadaop Hasan seraya mengatakan :
“Datanglah pada pada Panglima, ia sekarang menunggumu !”. begitu ucap utusan itu.
Segera saja Hasan pun bangkit dan beranjak pergi menuju Panglima Hajjaj. Maka disaat kritis inilah, kami dan para pengikutnya yang lain betul-betul mengalami kegoncangan hati bercampur takut, mengingat kalimat-kalimat yang telah disampaikan Hasan tadi betul-betul pedas. Hal ini kemungkinan besar yang akan mengancam jiwa Hasan.
Namun belum berselang lama, Hasan ternyata telah kembali lagi dengan senyum khasnya, bahkan malah banyak tertawa. Padahal tidak pernah ia tertawa sedemikian itu, paling-paling jika ada sesuatu yang menggelikan, ia hanya tersenyum, tidak lain. Namun kali ini terlihat agak lain.
Setelah ia sampai pada tempat duduk, segera saja ia menyampaikan mengenai pentingnya menjaga amanah. Ia juga mengatakan:
“Jangan disangka bahwa khianat itu hanya berkisar mengenai uang, baik berupa dinar maupun dirham. Namun khianat yang lebih busuk lagi yaitu jika terdapat seseorang yang berbicara bersama kita, kita pun seakan menjadi kawan karibnya, namun tiada tersangka ia kemudian pergi mengadu-adukan semua itu kepada orang yang sikapnya bagaikan percikan bara api. Aku tadi telah datang dihadapan Hajjaj, dimana ia mengatakan :”Jangan banyak bicara !”, dan menjelaskan apa yang telah kukatakan sehingga diadukan oleh lelaki tadi. Dan alhamdulillah, aku masih diselamatkan Allah dari perbuatan buruk Hajjaj.” begitu tutur Hasan dengan landai.
Setelah menyampaikan kalimat itu, Hasan segera bangkit menaiki keledainya untuk pulang. Namun ketika di tengah perjalan itu ia menoleh, didapatinya banyak orang yang membuntuti (yang kemungkinan besar adalah orang-orang yang sangat simpati pada Hasan). Seketika itu pula Hasan langsung berhenti seraya mengatakan :
“Adakah kalian memerlukan uluran tanganku, atau akan bertanya mengenai sesuatu ?. Kalau tidak memerlukan aku, kalian harus pulang sekarang juga.” Dan Hasan pun terus berjalan pulang tanpa memperhatikan mereka lagi. Sebuah sikap yang tampak begitu mukhlis.
Melalui ujian seperti ini dan sejenisnya, sikap hati seseorang akan tampak. Dengan demikian jika kita melihat kalangan ulama yang sering berubah sikapnya, bahkan sering saling mendengki dan tidak saling membantu antara mereka, ketahuilah, orang-orang seperti ini tiada lain termasuk sosok pembeli kehidupan dunia dengan menjual akherat. Merekalah orang-orang yang bangkrut.
Ya Allah, belas kasihanilah kami dengan lemah lembut-Mu, wahai Yang paling Pengasih di antara para pengasih ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar