Rabu, 30 Desember 2009

Pengembaraan Syeikh Hatim Asham

Pada suatu hari Syeikh Hatim Al-Asham dalam pengembaraannya sampailah di daerah Baghdad, dimana masyarakat setempat segera mengerumuninya. Malah diantara mereka ada yang mengatakan :
“Wahai Abu Abdir Rahman, tuan merupakan orang asing yang belum lancar mempergunakan bahasa setempat, namun aku lihat orang-orang yang bertanya kepada tuan selalu tuan jawab dengan kalimat yang memuaskan, apakah rahasia yang bersemayam di lubuk hati tuan ?”.
“Aku selalu mempunyai tiga hal yang selalu aku tunjukkan pada kawan bicaraku. Pertama, aku sangat gembira jika kawan bicaraku itu pada pihak yang benar. Kedua, aku sangat sedih jika dia dalam pihak yang salah. Ketiga, aku berusaha keras menjaga diri agar terhindar mengibul padanya”. begitu jawab Syeikh Hatim lugas.
Pendapat Syeikh Hatim ini ternyata sampai ke telinga Syeikh Ahmad bin Hanbal. Seketika itu pula beliau mengatakan :
“Subhanallah, alangkah cerdiknya dia. Tolonglah aku segera diantarkan kepadanya”.
Dan ketika Syeikh Ahmad bin Hanbal telah sampai di hadapan Syeikh Hatim, beliau segera mengutarakan sebuah pertanyaan :
“Wahai Syeikh Hatim, sikap apakah yang bisa menyelamatkan seseorang dari petaka dunia ?”.
“Tuan sendiri tidak akan selamat dari petaka dunia, “jawab Syeikh Hatim”, terkecuali jika tuan menyandang empat sifat. Pertama, tuan sudi memaafkan tindakan bodoh seseorang atau suatu kaum. Kedua, tuan harus mencegah tindakan bodoh tuan sendiri. Ketiga, rela memberikan sesuatu yang menjadi milik tuan kepada mereka. Keempat, sekali-kali tuan jangan berharap mengenai pemberian mereka. Kalau tuan bisa melaksanakan empat perkara ini, tuan akan mendapat jaminan selamat dari petaka dunia.
Beberapa minggu kemudian, Syeikh Hatim melanjutkan pengembaraannya menuju Madinah, dimana masyarakat kota Rasulullah itu menyambut dengan antusias kedatangannya. Namun segera saja mereka dikejutkan oleh sebuah pertanyaan :
“Kota manakah ini ?”. begitu Syeikh Hatim memulai sebuah pancingan.
“Adakah tuan belum tahu, daerah ini merupakan kawasan kota Rasulullah”. jawab mereka seakan belum menyadari mengenai apa yang terjadi lebih lanjut.
“Kalau demikian, dimana istana Rasulullah Saw. aku ingin melaksanakan shalat barang beberapa rakaat saja di dalamnya.” tanya Syeikh Hatim lebih lanjut.
“Rasulullah tidak pernah membangun sebuah istana, bahkan rumahnya saja sangat rendah sehingga tampak menempel begitu saja di tanah.” begitu jawab mereka.
“Kalau demikian, dimana istana-istana para sahabat Rasulullah ?”. tanya Syeikh Hatim lebih lanjut.
“Para sahabat juga tidak pernah membangun sebuah istana. Rumah mereka sangat sederhana sebagaimana rumah Rasulullah.” sahut mereka kembali.
“Kalau begitu aku keliru memasuki kota ini. Kalau tidak salah, kawasan ini adalah kota Fir’aun.” begitu sergah Syeikh Hatim menohok ulu hati mereka.
Demi mendengar ucapan Syeikh Hatim yang terakhir ini, mereka tidak bisa menahan diri, emosi mereka berkobar sehingga Syeikh Hatim segera diseret untuk menghadap penguasa Madinah. Dan setelah berada di hadapan penguasa, segera saja mereka mengadukan :
“Orang asing ini mengatakan bahwa kota ini merupakan kota Fir’aun. Hal ini merupakan sebuah penghinaan yang tiada tara. Akan pantas jika tuan menghukum Hatim dengan siksaan yang setimpal.” begitu mereka memberatkan tuduhan.
“Apakah benar tuan mengatakan begitu, wahai Hatim.” tanya penguasa Madinah.
“Maaf tuanku, jawab Syeikh Hatim lebih lanjut”, tuan jangan terburu-buru menjatuhkan sebuah vonis yang tidak adil kepadaku. Sebab aku merupakan orang asing, dimana aku bertanya kepada masyarakat, kota apakah ini ?. Mereka pun menjawab bahwa daerah ini merupakan kota Rasulullah Saw. Aku tanyakan lagi, dimana istana beliau ?. Akupun mendapat jawaban bahwa beliau tidak pernah membangun sebuah istana. Padahal Allah telah berfirman :
Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri Rasulullah Saw (Al-Ahzab : 21)
Padahal yang aku lihat merupakan kebalikan dari apa yang telah diajarkan Rasulullah sehingga di kanan kiri jalan telah banyak tertanam berbagai gedung mewah. Sekarang aku bertanya, siapakah yang kalian ikuti. Adakah kalian mengikuti Rasulullah atau mengikuti Fir’aun, selaku orang pertama yang membangun istana dari batu bata ?.”
Ternyata orang-orang yang menyeret Syeikh Hatim hanya diam seribu bahasa sehingga beliau dilepaskan begitu saja tanpa mendapat keputusan lebih lanjut.
Itulah sikap hidup Syeikh Hatim Al-Asham. Kisah sebuah kesederhanaan ulama salaf seperti ini akan bisa menjadikan saksi bagi ummat di kemudian hari. Mereka lebih menyukai kesederhanaan dan berusaha semaksimal mungkin meninggalkan berbagai kenikmatan duniawi yang kebanyakan akan menjauhkan diri dari ingat Allah SWT.
Diriwayatkan pula dari Ummul Mukminin, Hafshah binti Umar bin Khathab bahwa pada suatu hari ia mengatakan pada sang ayah yang ketika itu sedang memegang tampuk khalifah.
“Wahai Amiril Mukminin, ayahku !, akan lebih baik jikalau ayah berganti dengan pakaian yang agak bagus, atau ayah beralih pada makanan yang menunya lebih mendukung kesehatan tubuh, bukan makanan yang seperti ini. Sebab sekarang Allah telah memberi rizki yang lebih luas karena beberapa negeri telah berhasil ditaklukkan.” begitu desak sang putri.
“Kalau demikian aku akan menumpahkan segala isi hatiku kepadamu, wahai anakku”. begitu jawab Umar yang disangkanya akan luruh hatinya.
“Begini wahai anakku, “lanjut Umar”, adakah kau belum mengenal penderitaan Rasulullah Saw. selaku suamimu. Belumkah kau menghayati sikap-sikap Rasulullah. Dan apakah kau belum juga menyadari mengenai berbagai ajaran Rasulullah Saw. Dan…..!”.
Setelah Umar terus menerus mencecar jawaban seperti itu, hati Hafshah tidak dapat lagi menahan harunya sehingga menagis panjang dan sangat sulit untuk diredakan. Namun Umar terus saja meneruskan ucapannya.
“Dalam mencermati sikap kedua sahabatku itu (yakni Rasulullah dan Abu Bakar), keduanya telah menapak sebuah jalur kebenaran yang mengandung ridha Allah. Dengan demikian jika saja aku tidak menapak jalur yang telah dilalui mereka, adakah aku akan menapak jalur lain yang akan berseberangan dengan jalur itu ?. Padahal aku sangat mendambakan sekali, kiranya diriku mampu untuk bersama-sama dengan keduanya, terutama dalam menghadapi kehidupan mereka yang begitu berat. Dengan demikian aku akan bisa berkumpul dengan keduanya dalam menggapai kehidupan yang bahagia nanti di kemudian hari”.
Mendengar tutur kata seperti ini, Ummul Mukminin tidak bisa lagi menahan air matanya, dimana ia terpaku di tempat itu sampai ayahnya beranjak meninggalkan dirinya ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar