Rabu, 30 Desember 2009

Sebuah Kejujuran

Dahulu kala Persia merupakan sebuah kerajaan selatan yang besar, sedangkan di utara bertengger kekaisaran Romawi. Keduanya merupakan negara terkuat dizamannya dan saling berebut pengaruh, namun kesemuanya telah lenyap ditangan prajurit Islam. serbenarnya Rasuulullah pernah berkirim surat pasda dua kerajaan itu untuk mengajak mereka kedalam pangkuan Islam dengan tanpa mengganggu eksistensi negeri mereka. Namun di pihak Kaisar Romawi, Heraclius ketika itu, sebenarntya telah mengetahui kebenaran yang diajarkan Rasulullah, akan tetapi karena desakan rakyatnya dia akhirnya mengingkari hati nuraninya sendiri. Di pihak Kisra malah merobek-robek surat Rasulullah hingga beliau ganti berdoa’a agar Allah merobek-robek pula kerajaannya. Setelah beberapa waktu, terbukti kebenaran do’a seorang Rasul ini. Dimulai dari terbunuhnya Kisra oleh anaknya sendiri kemudian ketika tampuk khalifah dipegang oleh Umar Ra. negeri itu telah jatuh dalam genggaman tentara Islam.
Ketika masih berjaya, sebenarnya Kisra merupakan raja yang adil kendati mereka sebagai pengikut ajaran Zoroaster atau agama Majusi yang menyembah api itu sebagai mediator mendekatkan diri kepada tuhan mereka Ahura Madza dan Ahriman.
Tersebutlkah dalam kisah bahwa telah terjadi persengketaan di antara dua orang rakyatnya. Itu semua bermula dari seseorang yang membeli rumah beserta tanahnya dari tetangga yang tidak jauh dari kediamannya. Namun ketika rumah itu telah berada di tangan pembeli, pada suatu hari ia ingin menambah satu bangunan lagi dimana harus menggali tanah sebagai tancapan pondasi. Ketika penggalian inilah ditemnukan periuk tembikar dan ketika dibuka ternyata berisi berbagai perhiasan emas yang tiada ternilai harganya. Si pembeli itu akhirnya kebingungan, sebab ketika transaksi jual beli itu dilakukan, pembelian hanya mengarah pada rumah dan tanah, tidak termasuk barang temuan itu. Beberapa hari kemudian, ia segera pergi ke rumah si penjual dan mengatakan sejujur-jujurnya. Namun tidak kalah jujur pula, si penjual mengatakan :
“Yang aku jual itu rumah dan pekarangannya sekali. Adapun mengenai simpanan emas yang terpendam itu aku tidak tahu menahu. Dengan demikian barang-barang itu menjadi milikmu secara sah.”
“Tidak, kau harus mengambilnya sekarang juga, sebab barang-barang itu tidak termasuk dalam transaksi jual-beli.” begitu sergah si penjual.
Akhirnya keduanya malah terseret dalam perdebatan sengit dengan tidak ada pihak yang mau mengalah, dimana ujung-ujungnya harus minta keputusan hukum seadil-adilnya dengan menghadap Kisra. Mereka lantas m,enuju ke istana kerajaan yang terkenal dengan sebutan Iwan itu, lantas menuturkan kasus perdatanya secara rinci dan Kisra berusaha menjadi hakim yang baik . Setelah dipikirkan masak-masak, Kisra lantas bertanya pada si pembeli :
”Adakah bapak mempunyai anak ?.”
“Oh, saya mempunyai banyak anak, namun seluruhnya telah berkeluarga, tinggal anak lelaki sulung saja yang masih bersama orang tuanya.” jawab si pembeli.
“Masih kecil atau sudah besar ?.” tanya Kisra lagi.
“Sudah dewasa baginda.” sahut pembeli.
Selanjutnya Kisra mengalihkan pertanyaannya pada si penjual :
“Apakah bapak juga mempunyai anak ?.”
“Betul baginda, anak saya juga banyak.” jawab pembeli.
“Berapa yang laki-laki dan berapa pula yang perempuan”. tanya baginda lagi.
“Oh, anak saya masih kecil-kecil baginda, hanya saja yang pertama telah dewasa.” sergah pembeli klagi.
“Laki-laki atau perempuan ?.” tanya baginda lagi.
“Perempuan baginda.” jawab si pembeli lagi.
“Kalian saya perintah dengan segera untuk mengawinkan anak-anak kalian itu. Wahai pembeli, anak lelakimu itu kawinkan sekarang juga dengan anak wanita si penjual ini dan harta temuan itu berikan pada anak kalian agar dapat menjadi bekal dalam mengarungi hidup barunya.
Keduanya pun terbengong-bengong namun pada akhirnya merasa puas atas kebijaksanaan rajanya. Dan segera saja keduanya dikawinkan dengan bermodal harta temuan yang tidak ternilai itu. Maka terkenallah Kisra sebagai raja yang sangat adil dan bijaksana. Bahkan keadilan Kisra terbukti pula ketika menghadapi kasus yang lain.
Pada suatu hari beginda mengutus seorang petugas untuk menarik pajak tahunan ke seluruh rakyat di dalam wilayah kerajaan. Namun si pertugas itu menarik dengan melebihi target yang telah disepakati. Maka baginda menyuruh dengan segera untuk mengembalikan seluruh kelebihan itu, dan si petugas tadi segera mendapat hukuman yang setimpal. Ketika itu Kisra berfalsafah :
“Setiap raja yang memeras keringat rakyatnya dengan semena-mena, dia tidak akan bisa bertahan klebih lama, malah berkah bumi pertiwinya akan segera lenyap dan berganti huru hara yang ujung-ujungnya raja itu sendiri akan terdongkel dari singgasananya.” itulah komitmen Kisra.
Dia mengatakan pula : “Kekuatan raja terletak pada kerajaannya itu sendiri, sedangkan kekuatan kerajaan akan sangat bergantung pada tentaranya. Dan kekuatan tentara agan bergantung sekali pada kesejahteraan mereka, dimana kesejahteraan itu harus diciptakan dengan menegakkan supremasi hukum yang berpihak pada pubklik, wassalam.”
Sementara itu ada seseorang yang pernah mengajukan pertanyaan pada seorang ahli hikmat :
“Lebih baik mana antara raja yang gagah berani di medan tempur dibandingkan raja yang begitu adil ?.”
Ahli Hikmat itu pun menjawab :
“Jika seorang raja telah bersikap adil maka tidak diperlukan lagi mental pemberani itu.” begitulah hikmat yang perlu kita selami maknanya ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar