Rabu, 30 Desember 2009

Istana Mutiara

Istana Mutiara



Dahulu kala hiduplah seorang lelaki dari kaum Bani Israil bersama seorang isteri dan anak-anaknya. Kehidupan dunia ini dirasakan begitu berat, sehari sering hanya makan sekali saja, malah kadang esoknya sudah tidak ditemukan apa pun untuk mengganjal perut keluarganya. Namun kondisi seperti ini malah sebagai cambuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibadahnya begitu khidmat, dimana dalam keadaan ketiadaan makanan sering dijadikan kesempatan untuk berpuasa.
Sebenarnya dia ingin sekali merobah nasib, bagaimana ekonomi yang menjadi tiang penjaga keluarganya itu bisa sedikit lebih baik. Tiada lagi hanya Dialah Yang bisa merobah keadaan itu. Dia Yang memuliakan siapa saja yang dikehendaki dan menghinakan siapa pun yang dimurkai.
Maka pada suatu malam dia keluar rumah mencari tempat yang sunyi menyembah dan memohon kepada Allah, kiranya Dia sudi memberi petunjuk, pekerjaan apa yang layak dikaruniakan padanya.
Dalam keheningan malam dan kekhusukan ibadahnya tiba-tiba saja terdengar suara :
“Hai Abid, julurkan tanganmu itu.” panggil suara itu.
Segera saja lelaki itu menjulurkan tangannya. Tiba-tiba saja di telapak tangannya sudah ada dua butir mutiara yang menakjubkan, bersinar gemerlapan menyilaukan pandangan. Dipandangnya mutiara itu dengan senyum simpul penuh kegembiraan. Selanjutnya dengan segera dia melangkahkan kaki untuk pulang menemui sang isteri tercinta dan memperlihatkan mutiara yang baru diperolehnya seraya mengatakan :
“Sekarang kita telah terbebas dari penderitaan hidup, kita akan segera menjadi kayawan, eh hartawan dinda.!” katanya pada sang isteri.
Begitu isterinya menyadari, dia langsung berjingkrak kegirangan. Di benaknya terbayang sudah rumah yang begitu mewah dengan segala perabotnya yang luks sebagaimana seorang pejabat yang baru saja berhasil mengkorup uang negara miliaran ringgit.
Namun pada malam berikutnya lelaki itu bermimpi memasuki taman surga yang begitu indah. Dan disebelah taman itu bertengger dua istana kembar yang begitu megah saling berhadapan. Temboknya saja dari emas memerah, sedangkan atapnya tampak gemerlapan. Setelah didekati, ternyata berupa susunan mutiara yang menakjubkan. Segera saja dia bertanya pada seseorang yasng menjaga taman itu :
“Milik siapa gerangan istana kembar seindah ini ?.”
“Oh, itu calon milik tusn beserta isteri tuan sendiri. Allah telah mempersiapkan rumah masa depan seindah ini khusus untuk tuan dan isteri, sebagai balasan amal-amal tuan selama ini.” begitu si tukang taman itu mengatakan.
Lelaki itu mencoba memasuki ke dalamnya dan mengamati seluruh sisi bangunan itu dengan ketakjuban yang tiada habis-habisnya, namun setelah dia mendongakkan pandangannya, sayang sekali atapnya berlobang dua tempat.
“Mengapa istana seindah ini masih ada cacatnya, hai tukang taman ?.” tanya lelaki itu.
“Itu tersebab ulah tuan sendiri, dimana tuan mengambil dua butir mutiara lemarin malam. Dan sekali-kali bukan kesalahan arsiteknya, apalagi menyalahi bestek yang ada.” jawab si tukang taman.
Dengan terkejut sekali lelaki itu terbangun dari tidurnya dan segera mengabarkan pada sang isteri, dimana akhirnya keduanya sepakat untuk mengembalikan saja kedua mutiara itu ke temat semula.
Setelah malam tiba, lelaki itu segera menyepi lagi seraya berdo’a agar kedua butir mutiara itu dikembalikan pada tempatnya di surga. Beberapa saat kemudian Allah memperkenankan do’anya dan mutiara itu menghilang dari hadapannya. Maka kembalilah rumah tangga lelaki itu pada kondisinya semula, namun penghuninya begitu tenteram dan selalu bersyukur terhadap pemberian Allah kendati hanya sedikit.
‘Aisyah Ummul Mukminin pernah mengatakan bahwa perut Rasulullah tidak pernah kenyang barang sehari saja selama hidupnya. Kendati begitu beliau tidak pernah mengadukan perihalnya pada seorang pun. Sebab kondisi miskin adalah lebih dicintai beliau dari pada memiliki harta yang melimpah ruah. Seringkali semalam suntuk beliau dalam kedaan lapar, namun pagi harinya beliau pun tidak meninggalkan puasa. Kondisi lapar itu sekali-kali tidak menghalangi ketekunannya untuk berpuasa. Padahal jika saja beliau mau, tentulah Allah akan memberi harta benda yang melimpah, baik itu berupa emas, perak, buah-buahan atau pun kehidupan yang lebih layak. Seringkali aku sendiri menangis haru demi melihat apa yang beliau alami. Sering pula ku usap-usap perutnya untuk meredakan rasa lapar beliau itu, sehingga pernah kukatakan pada beliau :
“Aku relakan diri ini menjadi tebusanmu wahai Rasulullah ! Alangkah akan lebih baik jika tuan mempergunakan harta dunia ini sekedar cukup untuk menopang peribadatan tuan.” begitu aku mengadu.
Beliau lantas menjawab : “Wahai ‘Aisyah !, untuk apa aku harus bersusah payah mengurusi dunia, padahal para Rasul yang bergelar Ulul Azmi itu lebih sabar dalam menghadapi ujian yang lebih berat dari pada apa yang aku alami. Terbukti mereka telah berlalu dengan selamat membawa keyakinan mereka. Mereka telah menghadap Tuhan dengan mendapat tempat kembali yang begitu mulia, pahala mereka begitu agung. Melihat kondisi seperti itu, aku sangat malu jika saja hidupku ini bergelimang nikmat hingga bahagianku di akherat nanti dibawah apa yang mereka peroleh. Padahal tiadalah dambaan yang selama ini menjadi idamanku selain bagaimana aku bisa sejajar dengan mereka itu, hal ini yang lebih aku cintai.”
Setelah kejadian ini, dalam jangka sebulan Rasulullah pun wafat. Demikian kata ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha.
Beliau Saw. juga pernah bersabda : “Empat masalah yang menjadikan seseorang celaka. Pertama, mata yang tidak pernah menangis. Kedua, hati yang begitu kesat. Ketiga, angan yang begitu muluk. Keempat yaitu sangat menggandrungi kehidupan dunia ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar