Rabu, 30 Desember 2009

Sebuah Wasiat Seorang Ayah

Tersebutlah seorang lelaki tua dari kaum Bani Israel yang terkenal santun dan rajin beribadah. Usianya yang telah senja itu dirasakannya begitu berat untuk menghadapi kehidupan ini, dia diberi karunia seorang putera yang belum dewasa. Untuk menepis pengangguran dan sebagai aset masa depan anaknya, dia memelihara seekor sapi pula disamping pekerjaan lain sebagai penopang hidupnya.
Suatu hari pak tua itu menggembalakan sapinya hingga sampai pada kawasan hutan yang begitu lebat. Dengan bersandar dibawah pohon, dia memikirkan nasib keluarganya yang tidak lama lagi mungkin akan ditinggalkannya, namun begitu mantap bahwa Allah akan mengatur segalanya. Dengan keyakinan itu pula akhirnya dia mendapat ide untuk melepaskan sapinya dibelantara hutan itu. Dan seketika itu pula ide itu dilaksanakan dengan memulainya dari mengucapkan do’a :
“ Ya Allah, aku titipkan sapi ini padaMu sebagai bekal anakku nanti setelah dewasa.” begitu ucapnya seraya melepas sapinya itu dibelantara.
Anehnya sapi itu menjadi liar seketika, hingga akan lari dari siapa saja yang berusaha mendekati namun begitu cepat gemuk.
Kemudian pak tua itu pun segera pulang dan mengabarkan apa yang telah diperbuatnya pada isterinya. Namun selang beberapa hari, pak tua itu menderita sakit sesuai dengan perkiraan sebelumnya dan akhirnya meninggal dunia. Untungnya pak tua sudah sempat berwasiat mengenai tempat sapi itu dan mengajarkan pula cara untuk menangkapnya kembali.
Begitu ditinggal si bapak, anak tadi cepat tanggap dan bersikap dewasa, sangat berbakti pada ibunya, tidak pernah membantah apapun yang dikehendaki sang ibu disamping ibadahnya yang begitu rajin seakan mewarisi sifat-sifat ayahnya. Sang anak itu harus membagi menjadi tiga bagian, sepertiga untuk memperbanyak shalat, sepertiga lagi untuk tidur dan sepertiga lagi untuk melayani kebutuhan sang ibu. Dan jika hari telah pagi, dia segera pergi mencari kayu bakar dan menjualnya kepasar. Dari hasil itu sepertiga untuk bersedekah dan sepertiganya lagi diberikan pada ibunya dan yang sepertiga lagi untuk kebutuhan dirinya.
Pada suatu hari sang ibu mengatakan :
“ Sesungguhnya ayahmu dulu telah berwasiat memberimu seekor sapi yang dilepas pada kawasan hutan disana. Sekarang carilah sapi itu, mudah saja kuncinya, dimana kau harus berdo’a dengan menyebut “ Demi Tuhan Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub hendaklah Engkau kembalikan sapi itu padaku, begitu kau harus berdo’a.” demikian kata sang ibu.
“ Ciri-cirinya lagi yaitu jika saja kau memandangnya, seolah-olah cahaya matahari memancar dan keluar dari seluruh tubuhnya.” sambung ibunya pula.
Dengan hati yang girang sekali pemuda itu segera pergi kehutan yang telah ditunjuk sang ibu, dan setelah sampai disana diapun berdo’a sesuai dengan pesan ibunya tadi. Sejenak kemudian tiba-tiba sapi itu berlari mendekati dirinya namun begitu jinak hingga lehernya segera dipasang tali kemudian dituntun pulang. Namun anehnya ketika ditengah perjalanan, sapi itu mengatakan :
“ Wahai pemuda, tunggangilah punggungku ini, perjalanan begitu jauh agar kau tidak penat.”
“ Ibuku tidak menyuruhku begitu, namun aku hanya disuruh menuntunmu pulang.” jawab pemuda itu.
“ Demi Tuhan Bani Israel, jika saja kau menunggangi penggungku niscaya aku segera menjadi liar lagi dan kau tidak akan bisa menangkapku kembali.” sahut sapi itu.
Tersentak kaget pemuda itu mendengar ucapan seperti ini namun perasaan yang mendera hati itu ditahan saja.
“ Wahai pemuda, mari kita berangkat pulang. Pribadi seperti kamu ini jika saja menyuruh gunung untuk berjalan kemana yang kau kehendaki, ia akan menuruti perintahmu demi baktimu yang begitu tulus pada seorang ibu.
Keduanya pun berangkat pulang dan disambut oleh ibunya dengan wajah ceria. Ketika itulah sang ibu mengatakan :
“ Wahai anakku, kau merupakan seorang pemuda yang miskin, sedangkan waktu siangmu telah tersita habis untuk mencari kayu bakar, malammu terlalu sibuk dengan shalat, untuk itu juallah sapi ini sebagai bekal masa depanmu.” begitu sang ibu menyuruhnya.
“ Wahai ibu, berapa harga sapi ini harus kulepaskan ?.” tanya pemuda.
“ Tiga dinar saja telah boleh kau lepas, namun kau harus minta persetuajuanku sebelumnya.” tukas sang ibu.
“ Ya ibu, akan kuturuti segala maksud ibu, Insya Allah.” Sahut pemuda itu lagi.
Maka berangkatlah pemuda sederhana itu kepasar sapi dengan menuntun sapi satu-satunya yang akan menjadi bekal hidup dikemudian hari. Tetapi baru saja separoh perjalanan ditempuhnya, datanglah seseorang yang bertanya kepadanya :
“ Wahai pemuda, adakah kau jual sapi ini ?. “
“ Betul pak, betul sekali.” jawab pemuda itu.
“ Berapa harganya.” Tanya lelaki itu pula.
“ Tiga dinar namun dengan syarat bapak harus menunggu sebentar dimana saya harus mendapat persetujuan ibu, bagaimana.” jawab pemuda itu.
“ Berhubung waktuku mendesak sekali, bagaimana jikalau kubeli enam dinar, namun tidak perlu aku harus menunggu izinmu itu. Sudahlah, ibumu pasti akan lebih senang.” desak lelaki itu.
“ Aku tidak akan melepas sapi ini kendati dengan harga emas seberat tubuhnya jika saja ibuku menjadi korban ulahku.” jawab pemuda itu dengan tegas.
“ Ya sudah, kembalilah menemui ibumu, aku tunggu kau disini.” desak lelaki itu.
Pemuda itu pun kembali menemui ibunya dengan menuntun sapinya itu dan melaporkan tawaran lelaki tadi. Kemudian sang ibu mengatakan :
“ Bawalah kembali sapimu itu dengan harga enam dinar, namun dengan syarat kau harus mendapat persetujuan dariku.” begitu pesan sang ibu.
Pemuda penurut itupun menuntun sapinya lagi berangkat menemui orang tadi. Dan setelah bertemu, diapun mengatakan :
“ Ibuku melepaskan sapi ini untukmu dengan harga enam dinar namun aku harus minta persetujuannya.” begitu kata pemuda.
“ Wah, ini waktunya betul-betul telah mendesak bagaimana jika kubayar duabelas dinar dan kau tidak usah kembali untuk mohon restu ibumu, kasihanilah aku.” desak lelaki itu.
Kendati telah begitu penat, pemuda itu pun kembali menemui ibunya untuk memohon persetujuan. Kali ini begitu jelas, ternyata ibunya itu bukan orang sembarangan, dia mengatakan :
“ Wahai anakku, lelaki yang kau jumpai itu merupakan malaikat yang turun dari langit untuk menguji sikap baktimu kepadaku dengan menjelma sebagai manusia. Nanti jika kau jumpai lagi, maka tanyakan saja padanya :
“ Apakah dia menyuruhmu menjual sapi ini atau tidak, itu saja anakku.” begitu pesan sang ibu.
Pemuda itupun segera kembali menjumpai malaikat yang sedang menunggunya, kemudian langsung saja dia tanyakan :
“ Ibu bertanya padamu, apakah sebaiknya sapi ini dijual atau tidak ?.” ucap pemuda.
“ Katakan pada ibumu hendaknya sapi ini ditahan dulu, nanti Nabi Musa As. akan membeli sapi ini sebagai media untuk mencari seorang pembunuh yang telah menghabisi nyawa seorang ummat Bani Israel. Namun jangan dilepas terkecuali dengan uang dinar sepenuh kulit sapi ini setelah disembelih dan dikuliti.” begitu saran malaikat.
Ternyata Allah telah menentukan takdirNya dimana selang beberapa bulan terjadilah peristiwa pembunuhan, sedangkan seluruh masyarakat tidak mengetahui siapa yang bertindak durjana itu. Dalam kejadian ini seluruh ahli warisnya tidak akan puas sebelum si pembunuh ditemukan. Mereka segera saja mengadukan perihalnya pada Nabi Musa As. Maka ketika itulah beliau memohon petunjuk kepada Allah, siapa gerangan yang membunuhnya. Akhirnya Allah menyuruh ahli warisnya itu untuk menyembelih sapi apa pun warna dan jenisnya akan cukup sebagai prosesi tersebut, namun mereka mempersulit diri dan akibatnya dipersulit pula oleh Allah., dimana mereka diharuskan menyembelih sapi yang warna bulunya kuning keemasan dan setiap orang yang memandang mesti tertarik padanya. Sapi itu memang ada, yaitu milik pemuda tadi, namun harganya yang minta ampun, seluruh kulit sapi itu dijahit kembali hingga berbentuk kantung gambar sapi asalnya, kemudian diisi dengan dinar emas sampai penuh, itulah harganya. Kendati hampir berputus asa, ahli waris itu ternyata berhasil pula membelinya. Kemudian Nabi Musa menyembelihnya lantas lidah atau ekornya dipotong dan dipukulkan pada mayat yang terbunuh. Dengan seizin Allah, mayat itu pun bangkit berdiri seraya mengatakan bahwa orang yang membunuhnya itu tidak lain salah seorang ahli warisnya sendiri. Akhirnya Nabi Musa dengan tegas mengqishsash si pembunuh itu dan melarang memberi harta pusaka kepadanya. Maka sejak itu pula menurut hukum syari’at, seorang pembunuh dilarang untuk mendapatkan bagian harta pusaka sebagaimana tertera dalam hadits Rasulullah Saw. :
“ Seorang pembunuh tidak akan bisa mendapatkan bahagian harta pusaka setelah terjadi peristiwa penyembelihan sapi ( dizaman Nabi Musa As.).”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar