Kamis, 31 Desember 2009

Sebuah Amanat

Sebuah Amanat


Dahulu kala hiduplah seorang lelaki bersama seorang isteri yang terkenal shalihah dan anak-anaknya yang selalu hidup dalam lingkungan agama yang cukup kental. Kehidupan dunia ini dirasakan begitu berat, sehari sering hanya makan sekali saja, malah kadang esoknya sudah tidak ditemukan apa pun untuk mengganjal perut keluarganya. Namun kondisi seperti ini malah sebagai cambuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibadahnya begitu khidmat, dimana dalam keadaan ketiadaan makanan sering dijadikan kesempatan untuk berpuasa. Ia bernama Abdul Karim.
Sebenarnya dia ingin sekali merobah nasib, bagaimana ekonomi yang menjadi tiang penjaga keluarganya itu bisa sedikit lebih baik. Tiada lagi hanya Dialah Yang bisa merobah keadaan itu. Dia Yang memuliakan siapa saja yang dikehendaki dan menghinakan siapa pun yang dimurkai, seorang hamba hanya diwajibkan berikhtiar sekuat tenaga. Namun masalah rizki anehya tidak ditentukan oleh kepintaran atau pun kebodohan seseorang, sehingga kita lihat banyak dari mereka yang pengetahuannya tidak begitu tinggi namun rizkinya begitu lancar. Sebaliknya banyak pula yang berilmu tinggi namun rizkinya serba pas-pasan. Yang celaka lagi bilamana seseorang tidak berpengetahuan, namun juga sulit mendapatkan rizki. Dan yang lebih celaka lagi adalah mereka yang ketika di dunia hidup dengan sengsara dan di akherat malah memasuki neraka, dua kecelakaan besar berkumpul menjadi satu.
Pada suatu Abdul Karim keluar menuju tanah Tanah Haram Makkah untuk melakukan thawaf sunnah sebagaimana kebiasaannya. Namun ketika berangkat itulah ia menemukan sebuah kantung yang cukup mendebarkan hatinya. Setelah dibuka, ternyata berisi uang dinar emas yang gemerlapan, seribu keping jumlahnya. Langkahnya segera terhenti, kemudian berbalik menuju ke rumah untuk mengabarkan pada isterinya mengenai penemuan itu. Maka segera saja isteri itu mengatakan :
“Barang-barang yang ditemukan dalam lingkup Tanah Haram itu wajib di umumkan kepada masyarakat agar pemiliknya bisa mendapatkannya kembali”.
Mendengar saran sang isteri, lelaki itu segera kembali untuk memasang pengumuman penemuannya di tembok luar Masjidil Haram, mengingat dalam Masjid tidak diperbolehkan untuk mencari atau mengumumkan sebuah kehilangan. Namun ketika masih dalam perjalanan, ia telah mendengar seorang penunggang kuda yang berteriak mengumumkan :
“Siapa yang menemukan sebuah kantung yang berisi uang seribu dinar !”.
Abdul Karim tersentak, nafsunya seakan berontak agar uang penemuannya tidak usah dikabarkan pada orang yang kehilangan itu, namun hati kecilnya mengatakan : “Akan segera ia berikan pada orang tersebut”. Maka dengan memantapkan langkahnya, ia segera berteriak :
“Aku yang telah menemukan uangmu yang hilang !”,
Kemudian ia segera mendekat dan memberikan uang tersebut dengan perasaan lega seakan melepaskan sebuah beban yang menindih relung hatinya. Namun anehnya si penunggang kuda itu malah mengatakan :
“Uang itu aku berikan lagi padamu.”
“Kau jangan bergurau, aku tidak menghendaki sikap yang demikian itu”. begitu sahut Abdul Karim.
“Aku tidak bergurau, saudaraku. Namun malah aku tambah lagi, sembilan ribu dinar, terimalah….”. begitu kata si penunggang kuda itu.
Abdul Karim malah tambah tercengang. Ada apa ini !, dunia seakan-akan beputar begitu cepat sehingga membuat kepalanya mendadak pusing.
“Begini saudaraku, “lanjut si penunggang kuda lagi”, kemarin aku telah diutus oleh saudagar dari daerah Iraq untuk membawakan uang sepuluh ribu dinar seraya mengatakan :
“Hendaklah yang seribu dinar kau jatuhkan di jalanan Tanah Haram ini. Kemudian pada hari selanjutnya, kau harus berkeliling mencari penemunya, dimana jika kau dapatkan dan ternyata uang itu diserahkan kepadamu kembali, maka segeralah kau serahkan kesemuanya, sebab dia merupakan orang yang kena dipercaya. Sedangkan pribadi yang bersikap demikian itu pada biasanya akan memakan dan mengambil sebagiannya, dan selebihnya akan segera disedekahkan pula. Dergan demikian sedekah kita akan di terima Allah karena melalui tangan orang yang terkenal bisa dipercaya.” begitu tutur si penunggang kuda itu.
Setelah mengetahui duduk masalahnya, Abdul Karim pun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, kemudian menasarufkan harta itu pada fakir miskin yang lain, disamping dirinya sendiri.
Dikisahkan pula bahwa ketika Kisra berkuasa, Baginda memilih seorang guru yang begitu terkenal untuk mendidik seorang putra mahkota yang kelak akan menggantikan kedudukannya setelah wafat. Guru itu pun segera datang dan melaksanakan tugas yang dibebankan kepada dirinya dengan sebaik-beiknya, mengingat yang di didik merupakan putra orang nomor satu di Persia dan yang akan memegang tampuk kerajaan kelak di kemudian hari. Setelah beberapa tahun berlangsung, akhirnya pendidikan yang diberikan kepada putra mahkota itu tampak berhasil memuaskan.
Pada suatu hari anak tersebut dipanggil oleh sang guru untuk datang di rumahnya, namun anehnya baru saja datang, putra kerajaan satu-satunya itu langsung disebat dengan cemethi begitu rupa sehingga merasakan sakit yang luar biasa. Padahal selama ini ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Segala kewajibannya sebagai seorang murid, ia penuhi dengan sebaik-baiknya. Tak pelak algi putra mahkota itu pun berpikir panjang dan menggerutu tak habis-habisnya. Hal ini berlangsung sampai ayahandanya mangkat, yang kemudian langsung digantikan dirinya. Peristiwa penyebatan ini betul-betul menjadi ganjalan pikirannya, kendati ia telah memegang tampuk kekuasaan. Bukan karena rasa sakitnya, namun apa maksud sang guru bertindak sedemikian rupa dimana sampai kini ia belum bisa menyingkap rahasianya.
Untuk menghilangkan kekalutannya itu, pada suatu hari ia memanggil sang guru dengan penuh hormat. Dan setelah sampai di kerajaan dan terjadi perbincangan yang begitu hangat, maka di sela-sela itu, ia menanyakan maksud sebatan yang dilakukan sang guru dulu ketika ia masih belajar. Maka guru itu pun mengatakan :
“Sadarilah olehmu wahai Baginda, setelah Baginda mendapatkan ilmu pengetahuan yang begitu tinggi, aku menyadari bahwa sebentar lagi Baginda akan memegang tampuk kekuasaan setelah ayahanda Baginda mangkat, maka sebatan yang aku lakukan dulu tidak lain bermaksud agar Baginda merasakan sakitnya siksaan atau sebuah tindakan yang zalim, dimana aku harapkan dari tindakan itu Baginda tidak akan berbuat zalim dan berlaku sewenang-wenang kepada orang lain, sebagaimana tindakanku dulu, sehingga kerajaan ini bersih dari segala penyelewengan. Tiada lain kekuasaan merupakan sebuah amanah yang harus di laksanakan dengan sebaik-baiknya. Begitu maksud tindakanku dulu Baginda !”.
Mendengar keterangan seperti ini, Baginda betul-betul berterima kasih, tidak lupa memohon doa restu dari gurunya, kiranya diri Baginda dapat menjalankan roda pemerintahan itu dengan sebaik-baiknya. Tiada lupa memberikan beberapa bingkisan sebagai hadiah kepada sang guru yang telah berpayah-payah mendidik sehingga menjadi manusia yang penuh arti dalam menghadapi kehidupan dunia ini.
Begitu Syeikh Ibnu Hajar Al-Haitsami menuturkan dalam Az-Zawajir ‘an Iqtiraahil Kabair ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar