Selasa, 29 Desember 2009

Hancurnya Sebuah Kecapi

Hancurnya Sebuah Kecapi



Baginda merupakan raja yang gemar terhadap kesenian. Khususnya mengenai syair dan lagu-lagu yang menyentuh perasaan. Sering pula ketika Baginda berlibur, maka para pengiringnya diperintahkan untuk membawa alat-alat musik yang akan mengiringi berbagai lagu ketika melepas lelah. Pada suatu hari baginda ingin berlibur menuju tempat wisata di daerah Duwin, namun kali ini para pengawal tidak diperkenankan untuk mengikuti Baginda, cukuplah Baginda diringi oleh seorang laki-laki dari Bani Hasyim yang bernama Sulaiman bin Abi Ja’far. Betapa hambarnya liburan kali ini dengan tanpa diikuti para pengiring atau para pemusik. Untuk menyiasati suasana ini, Baginda segera memanggil Sulaiman seraya mengatakan :
“Aku dengar kau memiliki sahaya wanita yang bersuara merdu. Kalau itu benar, hendaklah kau panggil kemari untuk mendendangkan beberapa lagu yang akan menghibur kita ketika istirahat di tempat liburan nanti.”
“Benar wahai Baginda, aku akan menjemputnya dengan segera. Tunggulah kedatangan kami kembali !”. begitu jawab Sulaiman.
Dalam waktu yang tidak lama, wanita biduan itu pun telah hadir bersama tuannya. Maka Baginda segera menitahkan segera mendendangkan lagu-lagu merdu dengan maksud hatinya agar terhibur seakan kembali muda lagi, dan bahkan akan sebagaimana bayi yang pulas dalam buaian ibunya.
Sejenak kemudian, setelah sedikit alat musik dipersiapkan, sahaya itu pun mendendangkan lagu-lagu syahdu. Namun kali ini suaranya tidak seindah yang dibayangkan oleh Baginda. Terdengar agak fals. Hal inilah yang menyebabkan Baginda segera bertanya :
“Mengapa suaramu terdengar agak fals begitu”. tanya Baginda kepada biduanita itu.
“Anu Baginda, anu… kecapinya bukan milikku sendiri sehingga aku harus belajar lebih banyak lagi agar sesuai dengan yang diharapkan.” jawab sahaya itu.
“Dimana kecapimu sendiri, adakah masih layak ?.” sahut Baginda lagi.
“Oh, masih Baginda, sekarang tertinggal di rumah. Ketika aku berangkat ke sini, saya kira Baginda disertai peralatan musik yang cukup, nyatanya tidak diiringi para pemusik. Maafkan Baginda atas kekeliruanku.” sambung wanita itu lagi.
“Kalau begitu, wahai Sulaiman !, ambilkan kecapi milik wanita ini di rumahmu dan segeralah datang kemari”. begitu titah Baginda.
Sulaiman pun segera kembali ke rumah untuk mengambil kecapi, kemudian kembali agak tergesa-gesa agar memuaskan hati junjungannya. Namun di tengah perjalanan kembali, ia melintasi sebuah pasar Rabi’ yang agak ramai sehingga menjadikan jalan setengah macet. Agar perjalanannya tidak terganggu, Sulaiman segera berteriak :
“Minggir… minggir.. utusan Baginda Harun Ar-Rasyid mohon diberi jalan !” begitu pinta Sulaiman.
Kebetulan saja ketika itu Sulaiman menjumpai seorang lelaki tua yang sedang memunguti biji kurma untuk dimakan. Si tua itu agak terkejut mendengar teriakan Sulaiman, sehingga segera mendongakkan kepalanya. Seketika itu terlihat olehnya sebuah kecapi (yang dulu dianggap sebagai barang maksiat, namun sekarang …?, jangan-jangan malah sunnah.). Maka barang itu segera direbut dari tangan Sulaiman, kemudian prak…. hancur berantakan dibanting ke tanah. Segera saja si tua itu ditangkap dan diserahkan kepada penguasa daerah Rabi’ seraya mengatakan :
“Wahai penguasa Rabi’, tahanlah si tua ini, ia merupakan orang yang bermasalah dengan Baginda.”
“Ada masalah apa si tua itu ditahan. Padahal tidak seorang pun di Baghdad ini akan dapat ditemukan seorang yang lebih rajin ibadahnya dibanding dia”. sahut penguasa Rabi’ dengan keheranan.
“Nanti saja dengarkan keteranganku di hadapan Baginda Harun Rasyid”. kilah Sulaiman lebih lanjut.
Sulaiman pun segera melaporkan ulah si tua itu ke hadapan Baginda. Ketika mendengar pengaduan ini, amarah Baginda betul-betul telah sampai titik didih, sehingga Sulaiman berusaha untuk meredakannya agar Baginda tidak terjangkit stroke atau stress yang berkepanjangan.
“Mestinya Baginda tidak perlu marah, akan lebih baik jika berdarah dingin saja, yakni utuslah hamba untuk segera pergi ke daerah Rabi’, agar penguasa itu segera memenggal kepala si tua itu kemudian dibuang saja ke sungai Dajlah. Sikap demikian itu akan lebih meringankan beban psikologis Baginda”. begitu saran Sulaiman lebih gawat.
“Tidak, namun tahap awal, kita panggil dahulu orang itu dan kita ajak bicara baik-baik.” begitu tukas Baginda.
Baginda pun mengirim seorang utusan untuk menjemput orang tua itu. Maka berangkatlah utusan tersebut menuju penguasa Rabi’.
“Wahai orang tua, Amiril mukminin menghendaki anda untuk menghadap sekarang juga”. kata utusan kepada orang tua.
“Ya, baiklah, aku akan datang ke istana” jawab si tua tanpa beban.
“Kalau demikian, naiklah sekarang juga ke punggung kuda yang saya tunggangi, tempatnya masih cukup, disamping akan lebih cepat sampai di istana.” sambung utusan itu lagi.
“Tidak, aku akan berjalan kaki saja.” tukas pak tua itu lagi.
Maka berangkatlah pak tua itu tanpa dikawal seorang pun menuju istana Baginda. Dan setelah dia memasuki pintu gerbang. Baginda segera di beri tahu mengenai kehadirannya. Padahal ketika itu Baginda masih dikelilingi ahli-ahli musik dengan berbagai alat-alat kemaksiatannya. Maka Baginda segera bertitah
“Wahai kawan-kawan, seorang ulama berkeinginan bertemu denganku. Sekarang bagaimana, apakah alat-alat munkar ini kita pindahkan atau kita yang berpindah gedung Jangan sampai dia melihat kita dalam keadaan bergelut dengan kemaksiatan, gengsi dong !”. begitu Baginda menawarkan.
Semua yang hadir akhirnya sepakat untuk berpindah gedung dengan meninggalkan seluruh peralatannya untuk menyaksikan dialog interaktif dengan pak tua itu. Selanjutnya pak tua itu dipersilahkan memasuki gedung itu, namun di sakunya masih penuh dengan biji-biji kurma yang dipungutnya ketika berjalan menuju kerajaan.
Mengetahui barang yang bagaikan pelor yang bergelayut di saku itu, seorang pengawal menghentikannya dan menyarankan agar barang itu dibuang dahulu di luar istana. Akan tidak sopan jika menghadap Baginda dalam kondisi yang demikian itu. namun pak tua itu malah mengatakan :
“Ngawur kamu, ini sebagai persiapan makan soreku nanti, jangan sembarangan kamu”.
“Sudahlah, nanti saya carikan makanan sampai bapak kenyang”. begitu tawar si pengawal.
“Aku tidak membutuhkan makananmu”. pahut pak tua itu dengan ketus.
Ketika mengetahui pembicaraan yang alot ini, Baginda pun mengalah :
“Biarkan dia memasuki istana dengan biji-biji kurma kesayangannya.”begitu baginda mempersilahkan masuk, hingga si pengawal tadi dibuat ngacir.
Pak tua itu pun memasuki istana dengan mengucapkan salam yang begitu sopan. Kemudian Baginda langsung mencecar dengan pertanyaan:
“Mengapa bapak berbuat nekad merusak kehormatan raja ?.
“Elhoh, apa kiranya yang saya perbuat wahai Baginda. Barang apa pula yang aku rusakkan ?.” begitu pak tua itu malah balik bertanya.
Pertanyaan seperti ini jelas akan membuat malu jika saja Baginda harus menjawab : ‘kau telah merusak dan menghancurkan kecapi yang nota bene merupakan alat maksiat.’(sebab raja di saat itu masih mempunyai rasa malu). Namun tampaknya Baginda tidak berhenti sampai disitu, pak tua terus dihujani pertanyaan dan diinterogasi sampai sepuas-puasnya, sehingga pak tua terpaksa mengeluarkan jurus-jurus andalan.
“Wahai baginda, aku telah mendengar ayah dan kakek-kakek baginda selalu membaca ayat Al-Qur’an ketika mereka berada di atas mimbar masjid setiap hari Jum’at :

Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, menyantuni pada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji dan kemunkaran( QS 16 : 90 ).

“Sedangkan ketika itu, “lanjut orang tua itu lagi”, aku melihat sebuah kemunkaran sehingga aku harus bertindak untuk menghilangkannya, wahai Baginda”
“Kalau demikian, hilangkanlah” sahut Baginda.
Hanya itu yang diucapkan Baginda, lain tidak ada. Sehingga orang tua itu langsung berpamitan untuk keluar istana. Namun beberapa saat kemudian, Baginda memanggil seorang pengawal seraya mengatakan :
“Cobalah buntuti dari jauh orang tua itu. Jika saja ketika bertemu dengan kawan-kawannya ia tidak mengatakan bahwa dirinya telah berani menghadap Baginda, maka berikanlah uang sekantung ini padanya. Sikap seperti itu menunjukkan keikhlasannya. Namun jika ia berbangga diri telah berani berhadapan dengan Baginda, uang ini sekali-kali jangan kau serahkan padanya.” begitu pesan Baginda.
Setelah pengawal itu lama membuntuti orang tua tersebut, tampak ia tidak menjumpai kawan-kawannya, namun malah asyik memunguti biji-biji kurma yang terbenam dalam tanah untuk makanannya. Segera pengawal itu mendekatinya seraya memberikan sekantung uang tadi. Namun betapa teropranjatnya, si tua itu malah berkata :
“Katakan pada Amiril Mukminin, hendaklah uang itu segera dikembalikan dari mana Baginda mengambilnya.”
Pengawal itu pun kembali dengan hati kecut, namun belum lagi melangkah jauh, pak tua itu sayup-sayup mendendangkan :

Dunia selalu ‘kan menyusahkan para empunya.
Jika banyak miliknya, banyak pula susahnya.

Ia selalu menghinakan mereka yang memuliakannya.
Namun memuliakan mereka yang menghinakannya.

Jika kau tidak butuh, maka tinggalkan saja
Ambillah apa yang kau berhajat kepadanya.

Selamat memetik kemenangan wahai kekasih Allah, sangat sedikit manusia yang sepertimu. Saking sedikitnya, boleh dibilang tidak ada. ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar