Kamis, 31 Desember 2009

Memakan Gunung

Samarkand merupakan kawasan yang berdekatan dengan Bukhara. Dari kedua kawasan itu telah muncul ulama-ulama yang amat terkenal, sebagaimana Abu Laits as-Samarqandi atau Imam Bukhari selaku perawi dan pemilik kitab hadits shahih yang tiada bandingnya sampai sekarang. Bahkan dari Samarkand pula, seorang ulama yang bernama Ibrahim telah menjelajah di pulau Jawa ini, yang pada akhirnya lidah jawa mengatakan Syeikh Ibrahim Asmorokondi. Beliau memiliki seorang putra yang bernama Raden Rahmad Rahmatullah, alias Sunan Ampel yang telah berjasa menggelar Islam di daerah Jawa Timur, dan termasuk jajaran Wali Songo, kini makamnya berada di Surabaya, sedangkan ayahnya dimakamkan di Tuban. Terbukti kita tidak bisa terlepas dari berkahnya.
Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ulama dan ahli fiqih yang masyhur. Beliau yang meriwayatkan dari ayahnya menceritakan bahwa seorang di antara para nabi menerima wahyu dalam bentuk mimpi. Mimpi seorang nabi atau seorang shiddiqin adalah benar adanya, berlainan dengan mimpi-mimpi lainnya, yang pada lazimnya hanya sebagai bunga tidur atau malah dari pedaya syetan.
Dalam mimpi itu, nabi tersebut mendapat perintah yang berbunyi: “Hendaklah besuk pagi engkau keluar rumah menuju ke barat. Engkau akan menjumpai berbagai peristiwa. Pertama, apa saja yang engkau lihat, hendaklah engkau makan. Kedua, apa yang engkau jumpai, hendaklah engkau sembunyikan. Ketiga, apa yang engkau temui, hendaklah engkau terima. Keempat, jika engkau bertemu dengan pihak yang memohon bantuan, janganlah engkau putuskan harapannya. Kelima, hendaklah engkau melarikan diri darinya.”
Keesokan harinya, nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke arah barat. Kebetulan yang pertama dihadapinya adalah sebuah bukit besar membiru. Nabi itu kebingungan seraya bergumam: "Aku diperintahkan memakan apa pun yang pertama kali aku hadapi, namun sungguh mustahil jika aku harus mencaplok sebuah gunung, apalagi menelannya!”
Dalam kondisi bimbang ini, ia pun menimbang dan memutuskan bahwa dirinya harus mematuhi perintah itu, kendati amat berat dirasa. Pertama kali yang harus dilaksanakan adalah mendekati gunung itu yang sekarang masih tampak jauh. Jangan-jangan setelah didekati, kebijksanaan Allah beralih pada yang lebih mudah, atau gunung itu sendiri hanya bayangan maya!
Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit dengan membulatkan tekad akan memakannya semampu dirinya, di mana Allah tidak akan membebani kewajiban pada seseorang melainkan sebatas kemampuannya. Ketika dia sudah berada di dekatnya, tiba-tiba bukit itu mengecil sehingga menjadi seonggok roti. Betapa riang hati nabi tersebut. Bukan karena mendapat makanan, namun karena kewajiban berat yang menjadi tanggungannya kini akan bisa dilaksanakan dengan mudah. Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Ternyata sungguh bercitarasa tinggi, amat manis bagaikan madu. Hal inilah yang mendorong dirinya seakan tidak tersadarkan untuk segera mengucap 'Alhamdulillah'.
Ujian pertama dapat dilalui dengan lega, kini nabi itu meneruskan perjalanannya. Di tengah perjalanan itu ia menemukan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan pesan dalam mimpinya supaya disembunyikan. Segera saja nabi itu menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu keluar di atas tanah. Ditanamnya kembali dengan hati-hati, namun tetap saja keluar sebagaimana yang pertama. Hal ini dilakukan sampai tiga kali berturut-turut. Aneh!
Setelah penanamannya tidak berhasil, lama berfikir, akhirnya mangkuk itu ditinggalkan begitu saja tanpa menghiraukan lagi, bagaimana bila ditemukan orang atau nyang lain. Kini ia meneneruskan perjalanannya kembali. Ketika itulah dia menjumpai seekor elang sedang mengejar burung kecil. Terdengar burung kecil itu dengan sangat memohion pertolongannya: “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku!”
Mendengar permohonan ini, segera saja dia menangkap burung itu lalu dimasukkan ke dalam baju luarnya. Sejenak kemudian, si elang pun datang setraya mengatakan, "Wahai nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi, namun aku tahu, engkau telah menyembunyikannya. Oleh sebab itu janganlah engkau memutus harapanku dari rezekiku.”
Nabi itu tampak termenung sebentar, kemudian teringat pesan dalam mimpinya bahwa ia tidak diperbolehkan untuk memutuskan harapan. Kini ia menjadi bingung untuk mencari penyelesaian perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging paha tubuh nabi itu sendiri dan diberikan kepada elang. Setelah mendapat daging itu, elang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan kembali.
Kini ia meneruskan perjalannya kembali Tidak lama kemudian dia bertemu dengan bangkai yang menebar aroma sangat busuk, dia pun teringat pesan di dalam mimpi, yakni agar segera melarikan diri. Segera saja ia berklari menjauh dengan tidak berpaling sedikit pun.
Setelah ia berhasil melaksanakan lima pesan dalam mimpinya, kini ia kembali ke rumahnya dengan tanpa mengetahui maksud berbagai peristiwa itu. Namun ia telah membulatkan prinsip, bahwa dengan tanpa mengetahui takwil atau maksud apa yang telah dilaksanakan, hatinya telah merasa lega, terutama karena beban yang menjadi tanggungannya kin telah terlepas.
Setelah melaksanakan shalat ‘Isya’ dan menghendaki untuk menuju pembaringan, nabi itu pun tidak lupa memanjatkan do’a, "Ya Allah, aku telah melaksanakan perintah-Mu yang telah Engkau perintahkan melalui mimpiku, hendfaklah Engkau terangkan kepadaku mengenai takwil semua peristiwa itu!”
Dalam tidur itu, ia bermimpi dan diberitahu oleh Allah bahwa yang pertama engkau makan itu adalah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit, namun jika seseorang berlaku sabar dan dapat menahannya, ia akan menjadi lebih manis daripada madu.
Rasulullah Saw bersabda: barang siapa menaham amarah dalam kondisi ia mampu melampiaskannya, dio Hari Kiamat nanti ia akan dipanggil di muka para makhlukl. Ia di suruh memilih, bidadari mana yang dusukai.
(HR. Tirmidzi dari ayah Sahal bin Mu’adz bin Anas al-Juhani – hasan).
Kedua, semua budi baik itu walaupun disembunyikan, ia tetap akan nampak juga. Dalam hal ini Allah berfirman:
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula (QS. Az-Zalzalah: 8).
Ketiga, jika engkau menerima amanah seseorang, janganlah engkau berkhianat kepadanya. Allah berfirman:
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Mahamendengar lagi Mahamelihat (QS. An-Nisa’: 58).
Keempat, jika ada pihak yang meminta pertolongan kepadamu, usahakanlah untuk membantu apa yang menjadi kebutuhannya, meskipun engkau sendiri dalam kondisi membutuhkan. Allah berfirman:
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS. Al-Maidah: 3).
Kelima, bau yang busuk itu ialah mengumpat (ghibah), hendaklah engkau lari dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul untuk ngrumpi, mengumpat dan menggunjing. Itu akan laksana memakan daging ikhwan yang sudah busuk, sesuai dengan firman:
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahapenerima taubat lagi Mahapenyayang. (QS. Al-Hujurat: 12).
Semoga menjadi perhatian kita dan bermanfaat adanya, amin. ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar