Selasa, 29 Desember 2009

Nabi Isa As. Mencerca Ulama Suu’

Nabi Isa As. Mencerca
Ulama Suu’



Telah maklum bahwa Nabi Isa diciptakan Allah dan terlahir dengan tanpa memiliki ayah. Sedangkan Nabi Adam As. malah tidak berayah dan beribu, namun Isteri Nabi Adam, ibunda Hawa, ia diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam sendiri, tegasnya ia bisa disebut berayah namun tidak beribu. Dan manusia yang lain diciptakan secara normal melalui ayah dan ibu. Semua kebijaksanaan ini jelas membuktikan atas kekuasaan Allah yang telah menciptakan apa saja dengan kehendak-Nya sendiri dan ‘semau-Nya’ sendiri.
Akan halnya nabi Isa, merupakan seorang Nabi yang terkenal zuhud dan termasuk jajaran Ulul Azmi, yakni mereka yang sikapnya begitu teguh, tidak mudah tergoncangkan jika terlanda badai yang akan merusak prinsip-prinsip dan aturan yang dikehendaki Allah.

Pada suatu hari beliau menyampaikan ajarannya kepada kaum Hawariyin, yakni para pengikut pilihan Nabi Isa yang dengan setia membela beliau baik dalam suka maupun duka. Dalam uraian ajaran itu, beliau pengkritik habis para ulama suu’, yaitu orang alim yang dengan ke’alimannya mereka membuat kedok untuk meraup berbagai kepentingan duniawi.
Wahai ulama suu’, “kata Nabi Isa”, kalian tampak melaksanakan puasa, shalat, sedekah, namun tidak mau melakukan apa yang kau perintahkan sendiri. Kalian baca apa yang tidak kalian amalkan. Betapa busuk apa yang kalian tetapkan. Kalian melakukan taubat hanya melalui ucapan dan angan-angan kosong, namun perbuatan kalian terbukti hanya memperturutkan hawa nafsu. Dengan demikian sikap kalian itu laksana orang mandi membersihkan kulit luar, namun hati kalian tetap sebagai sarang kotoran.
Dengan hak, aku mengatakan pada kalian, janganlah kalian seperti tapisan (pengayak) dimana ketika gandum yang telah ditumbuk itu ditapis, maka tepung yang lembut akan keluar darinya, sedangkan sekam dan kotoran yang lain malah yang tertinggal. Demikian pula kalian, dari mulut kalian selalu keluar kata-kata hikmah, namun di hati kalian tetap bertengger kedengkian dan kesombongan. Wahai penyembah keduniaan, bagaimana seseorang akan bisa menemukan akherat, padahal keinginan dan kepentingannya terhadap dunia tidak pernah putus.
Dengan hak pula aku mengatakan, sesungguhnya hati kecil kalian itu selalu menangis, ketika kalian menjadikan keduniaan di bawah mulut kalian, sedangkan amal kebajikan, kalian jadikan di bawah telapak kaki, alias kalian injak-injak sedemikian rupa. Dengan hak aku mengatakan, kalian telah merusak akherat tempat kembali kalian dengan jalan selalu berusaha memperbaiki keduniaan kalian. Dengan demikain menurut pandangan kalian, kesuksesan dunia ini lebih kalian cintai dari pada kebahagiaan di akherat. Kalau begitu, manusia mana lagi yang lebih rendah martabatnya di banding kalian. Itu semua jika kalian menyadari.
Celakalah kalian, sampai kapan kalian berbuih-buih menguraikan sikap-sikap yang patut disandang mereka yang menginginkan selamat di akherat nanti, sedangkan kalian sendiri tetap besikap kesat dan ketus mengenai apa yang kalian katakan sendiri. Yang demikian itu bagaikan orang yang berteriak agar masyarakat meninggalkan keduniaan, kemudian kalian sendiri yang mengambilnya dengan cara pelan-pelan agar mereka tidak merasa, aneh !.
Celakalah kalian, apakah ada manfaat jika saja sebuah rumah yang gelap, kemudian diberi lampu, namun lampu itu tidak ditaruh di dalamnya, malah ditaruh di atap. Dengan demikian ruangan rumah itu tetap gelap dan mengundang keresahan. Demikian pula diri kalian, dimana cahaya dan nur ilmu yang kalian miliki itu hanya berada di mulut kalian, sedangkan hati kalian tetap gelap dan kosong.
Wahai penyembah keduniaan (ulama suu’), kalian tidaklah akan bernasib seperti ahli ibadah yang betul-betul merasakan nikmatnya ketakwaan, tidak pula bisa mencapai martabat merdeka yang menyebabkan kemuliaan.. Hampir saja keduniaan yang kalian gandrungi itu akan mencerabut kalian dari pangkal kehidupan, kemudian keduniaan itu akan melemparkan kalian pada muka-muka kalian sendiri, lantas menjungkalkan kalian pada lobang-lobang hidung kalian, dan melibas dosa-dosa kalian melalui ubun-ubun kalian. Ilmu-ilmu yang kalian dapat itu pula yang akan mendorong kalian dari belakang untuk diserahkan pada Dia Yang Maha Membalas, dalam keadaan sendiri, telanjang dan tanpa alas kaki. Kemudian Dia akan memberhentikan kalian pada kejahatan yang telah kalian perbuat, lantas membalas dengan setimpal terhadap perilaku busuk kalian itu.” demikian kritikan pedas Nabi Isa terhadap ulama suu’.
Imam Ghazali telah mengatakan : “Seorang muballigh, yaitu mereka yang selalu mengajak dan menganjurkan masyarakat untuk lebih mencintai akherat, membencikan terhadap keduniaan, baik dengan ucapannya ataupun dengan tindakannya. Adapun mengenai apa yang telah diciptakan oleh para Muballigh yang berseberangan dengan ketentuan itu, seperti berusaha menciptakan kalimat-kalimat yang bersajak atau syair-syair yang tidak berpengaruh pada menjunjung kehormatan agama, tidak pula mempertakuti masyarakat, malah seakan memberanikan untuk berbuat maksiat dan mengandalkan atas besarnya rahmat Allah, maka mereka wajib dihapus dari sebuah negeri, sebab tiada lain mereka itu adalah penyambung lidah Dajjal dan wakil-wakil syetan”.
Demikian, semoga kita bisa menapak perilaku yang selalu akan mengundang ridha Allah.
Rabbanaa hab lanaa min ladunka rahmatan wa haiyi’ lanaa min amrina rasyada.

Rabbana, ya Allah Tuhan kami ! berilah kami rahmat dari haribaan-Mu, dan persiapkanlah diri kami pada kebenaran pada setiap kami melangkah. ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar