Selasa, 29 Desember 2009

Do’a Yang Mustajabah

Do’a Yang Mustajabah






Rasulullah Saw telah mengatakan bahwa do’a merupakan sebuah ibadah. Bahkan dalam hadits lain disebutkan, tiadalah suatu yang kemuliannya akan melebihi sebuah do’a. Disamping itu Allah telah menjanjikan, Dia akan selalu memerkenankan apa yang diminta oleh hamba-Nya. Namun yang perlu diperhatikan, dalam berdo’a itu hendaknya dipenuhi berbagai syarat-syaratnya agar lebih diperhatikan dan diperkenankan Allah :

Pertama, hendaknya memperhatikan saat-saat yang tepat, sebagimana hari Arafah, hari Jum’at, bulan Ramadhan, ketika sahur pada setiap malam hari, sebagaimana Allah telah berfirman :

“Dan ketika sahur, para hamba-Ku itu memanjatkan do’a”.

Kedua, dalam situasi dan kondisi yang mulia, sebagaimana ketika terjadi pertempuran, ketika turun hujan dan ketika didirikan shalat, sebagaimana Rasulullah mengatakan :

“Do’a yang dipanjatkan antara azan dan iqamah tidak akan ditolak.”

(HR. Tirmidzi dan merupakan hadits hasan).

Ketiga, menghadap kiblat dengan mengangkat kedua belah tangan tinggi-tinggi sehingga tampak ketiaknya, sebagaimana apa yang dilakukan Rasulullah dan dilihat sendiri oleh Salman Al-farisiy :

“Bahwasannya Rasulullah Saw. datang ke tempat wuquf di Arafah, kemudian tidak henti-hentinya memanjatkan do’a sampai matahari tenggelam.

(Riwayat Muslim)

Bersabda pula :

“Sesungguhnya Tuhanmu itu hidup dan dermawan. Dia akan malu jika saja hamba-hamba-Nya menengadahkan tangan kepada-Nya, kemudian Dia menolak mereka sehingga kembali dengan tangan kosong”

(Hadits hasan dari riwayat Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Diriwayatkan pula dari Anas bin Malik :

“Bahwasannya Rasulullah Saw. mengangkat kedua belah tangannya sehingga tampak ketiaknya yang memutih, namun tidak mengacung-acungkan telunjuknya.

(HR. Muslim).

Keempat, hendaklah dengan suara rendah, dalam arti tidak terlalu keras, juga tidak terlalu samar, sesuai dengan firman Allah :

Tatkala Zakariya berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut

(Maryam :2).

Diriwayatkan pula dari Abu Musa Al-Asy’ary bahwasannya ketika kami mendekati Madinah beserta Rasulullah Saw. maka ketika itulah beliau membaca takbir yang diikuti oleh para sahabat yang lain dengan suara gegap gempita. Segera saja Rasulullah Saw. mengatakan :

“Wahai manusia, sesungguhnya Dia Yang kalian mohon untuk memperkenankan do’a itu bukanlah Zat yang tuli, bukan pula ghaib. Sesungguhnya Dia itu seakan diantara kalian dan antara kendaraan kalian (sangat dekat).”

(Muttafaq Alaih ).

Kelima, Tidak perlu berpauyah-payah agar rima kalimat yang diucapkan selalu seimbang sebagiamana pantun atau syair, sebeba kondisi yang diperlukan seharusnya dengan penuh khusyu’ dan tadharru’, dimana berpantun dan bersya’ir malah akan membuyarkan kondisi tersebut, sebagaimana Rasulullah Saw. telah mengatakan :

“Takutlah kalian bersajak ketika berdo’a. Akan lebih layak jika kalian mengatakan : “Ya Allah, sesuangguhnya aku memohon kepadamu untuk bisa memasuki surga dan segala apa pun yang bisa mendekatkan kepadanya, baik itu berupa ucapan atau perbuatan. Aku juga memohon perlindungan kepada-Mu dari memasuki neraka serta apa pun yang mendekatkan kepadanya, baik berupa ucapan atau perbuatan.”

(HR. Bukhari dari Ibnu Abbas).

Keenam, lebih layak jika dengan penuh khusyu’, tadharru’, penuh harapanb dan merasa takut sesuai dengan firman :

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut

(Al-A’raf :54)

Rasulullah juga telah bersabda :

“Jika Allah itu mengasdihi seorang hamba, maka Dia akan mengujinya sehingga Dia mendengar sendiri rintihan suaranya (dalam berdo’a).

(HR. Abu Manshur Ad-Dailamy dalam Musnad Al-Firdaus dari Anas bin Malik).

Ketujuh, memantapkan terhadap apa yang dimohon dan apa yang menjadi harapan, sesuai sabda Rasulullah Saw.

“Janganlah seseorang mengucapkan do’a dengan “Ya Allah ampunilah aku, jika saja Engkau mau” atau “Ya Allah, kasihanilah aku jika Engkau mau”, hendaklah ia memantapkan apa yang diminta, sebab tidak akan ada yang memaksakan kehendak Allah.” (Muttafaq Alaih dari Abu Hurairah ).

Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan :

“Janganlah kondisi buruk seseiorang itu sampai menghalangi untuk berdo’a, sebab kendati Iblis itu seburuk-buruk makhluk, namun masih diperkenakan pula permintaannya, periksa firman :

“Berkata Iblis :”Ya Tuhanku, berilah tangguh aku sampai hari manusia dibangkitkan. Allah menjawab : “Maka seseungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. (Al-Hijr : 36).

Kedelapan, Bersungguh-sungguh dan mengulang-ulang terhadap yang dimohon, sebagaimana apa yang dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud :

“Jika saja Rasulullah berdo’a maka diulangnya sampaituga kali, dan jika beliau memohon maka juga diulanginya tiga kali”

(Muttafaq Alaih).

Kesembilan, memulai do’a dengan memuji kebesaran Allah dan mengakhirinya dengan membaca shalawat kepada Rasulullah, sebagaimana tindakan Rasulullah sendiri. Beliau ketika mulai berdoa maka akan membaca :

“Subhana rabbi al-‘aliyyil a’laa al-wahhab”.

(HR. Ahmad dari Salamah bin Akwa’).

Abu Sulaiman Ad-Daraniy mengatakan :

“Jika kalian memohon kepada Allah SWT. Mengenai suatu hajat , hendaklah dimulai dengan mebaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. kemudian baru memanjatkan apa yang diminta. Dan akhirilah do’a itu dengan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad pula. Dengan tindakan itu tentu Allah akan menerima dua shalawat itu dan tidak akan meninggalkan apa yang berada di antara dua shalawat tersebut.”

Kesepuluh, ini merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan, yakni bertaubat dari segala dosa dan mencabut dari segala tindakan aniaya serta menghadap Allah dengan sepenuh hati. Sikap seperti ini akan lebih dekat untuk segera diperkenankan mengenai apa yang dimaksudkan ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar