Kamis, 31 Desember 2009

Si Badui yang Pemberani

Pada kurun-kurun awal yang ditengarai Rasulullah sebagai khairul Qurun, tsummal ladzina yaluunahum, tsummal ladzina yalunahum. (periode Rasulullah dan sahabat merupakan generasi terbaik, kemudian mereka yang hidup sesudahnya (tabi’in), kemudian mereka yang hidup sesudahnya lagi (tabi’inat tabi’in). Memanglah pada kurun tersebut tidak ada batas dan jurang pemisah antara pejabat dan rakyat jelata sehingga siapa pun akan leluasa untuk memberi nasihat kepada pihak-pihak yang dirasakan menyalahi aturan yang telah digariskan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Keadaan yang kondusif inilah yang menjadikan tatanan masyarakat begitu dinamis. Pihak penguasa akan segera membenahi kesalahan yang diperbuatnya ketika mendapat teguran, namun anggota masyarakat itu sendiri juga konsekuen untuk mengikuti langkah pemimpinnya jika memang telah sesuai dengan tuntunan. Bukan sebagai masyarakat yang hanya pandai mengkritisi mengenai apa yang tidak sesuai dengan aturan baku, namun ketika masyarakat itu harus melaksanakan kewajibannya, ternyata banyak yang menghindar. Sikap-sikap seperti ini tidak akan menjadikan suasana menjadi tenteram, bahkan sebaliknya malah menyeret pada keadaan yang runyam.
Tersebutlah dalam kisah bahwa seorang badui (padang pasir dan pedusunan) bertandang ke istana Baginda Sulaiman bin Abdul Malik. Dan setelah pembicaraan dimulai, maka Baginda menawarkan agar si badui itu mengutarakan berbagai maksud kepentingannya. Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh si badui itu.
“Wahai Amiril Mukminin,” kata si badui, “hamba akan mengutarakan ucapan yang mungkin akan menjadikan berat hati bagi Baginda. Dengan demikian hamba harap Baginda siap menanggungnya, sebab di balik ucapan itu akan mengandung berbagai manfaat yang akan dapat Baginda petik di kemudian hari.”
“Wahai badui!, sikapku selama ini selalu berlapang dada terhadap mereka yang bersifat curang atau terhadap mereka yang sama sekali tidak aku harapkan kebajikannya. Dengan demikian sama sekali tidak akan pernah menjadi beban jika saja orang yang menghadapku itu pribadi sepertimu, yakni komunitas yang sama sekali tidak pernah aku curigai akan berbuat buruk. Maka dari itu utarakan saja apa yang menjadi maumu,” begitu Baginda mempersilakan si badui untuk segera mengutarakan maksudnya.
“Wahai Amiril Mukminin!, setelah aku mencermati keadaan Baginda, ternyata Baginda selalu dikelilingi orang-orang penjilat. Mereka selalu mencari kesempatan untuk menangguk keuntungan materi dari Baginda, malah banyak pula yang rela menjual akhiratnya demi kepentingan sesaat untuk mendapat muka dari Baginda. Banyak pula yang berani menyeberang untuk memuaskan hati Baginda, kendati jelas-jelas akan berseberangan dengan tuntunan Allah yang menjadi penyebab mengundang murka-Nya. Kebanyakan mereka tampak takut jika berhadapan dengan Baginda, namun sekali-kali mereka tidak pernah merasa takut kepada Allah. Jika sikap mereka itu tidak segera dihentikan, hal ini jelas menyeret pada perusakan akhirat dengan umpan penjarahan terhadap duniawi. Untuk itu hendaknya Baginda segera membenahi sikap mereka dengan jalan Baginda tidak mempercayai mereka lagi mengenai urusan-urusan Allah yang menjadi tanggungjawab Baginda. Sebab mereka tidaklah mempedulikan lagi terhadap tanggungjawab itu, apakah bisa terlaksana atau tidak. Di samping itu, kalau Baginda mencermati keadaan ummat, maka mereka banyak yang hidup dalam penderitaan, padahal Baginda akan ditanya di muka Allah nanti mengenai tanggungjawab Baginda dalam mengurusi rakyat, sedangkan rakyat sekali-kali tidak akan ditanya mengenai aktivitas Baginda dalam mengurusi mereka. Dengan demikian hendaklah Baginda tidak hanya memperbaiki keduniaan mereka, sedangkan keadaan akhirat Baginda terbengkelai. Sebab separah-parahnya kerugian yaitu seseorang yang menjual akhiratnya tidak terurus karena sibuk mengurusi dunia orang lain - man baa’a akhiratahu bi dunia ghairihi.”
“Wahai badui, waspadalah dan hati-hatilah dalam mengucap, sebab lisan itu merupakan senjata yang paling tajam,” begitu kata Baginda.
“Apa yang Baginda katakan memang benar, namun seluruh nasihatku itu kelak hanya akan memberi manfaat bagi langkah-langkah Baginda lebih lanjut. Dan sekali-kali tidak akan berpengaruh buruk,” begitu tangkis badui dengan sopan, namun sangat tajam.
Demikian pula apa yang disampaikan Abu Bakrah kepada Muawiyah yang ketika itu sebagai pemegang tampuk khalifah. Pada suatu kesempatan ia mengatakan:
“Wahai Muawiyah, bertakwalah kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa setiap malam yang telah engkau lalui, atau siang yang engkau lewati, semua itu jelas memperpendek usiamu sehingga dirimu sedikit demi sedikit mendekati akhirat, dan tidak boleh tidak engkau mesti masuk ke sana. Padahal di belakangmu selalu bersedia sosok yang memburu nyawamu. Ia telah memasang garis finish yang tidak akan bisa engkau lintasi. Setelah aku cermati, betapa cepat larimu menuju garis finish itu, begitu pun pemburu itu hampir-hampir saja bisa menangkapmu. Sadarilah olehmu bahwa apa yang kita alami ini semuanya akan berlalu begitu saja menuju kawasan yang kekal abadi selamanya. Dengan demikian jika perbuatan kita banyak yang baik, maka akan dibalas dengan kebaikan. Namun jika banyak yang buruk, maka akan dibalas dengan keburukan pula. Resapilah apa yang telah aku katakan ini, wahai Muawiyah!,” demikian nasihat Abu Bakrah dengan tanpa tedeng aling-aling.
Begitulah sikap dan tindakan para penyandang ilmu (dahulu!) ketika berjumpa dengan para penguasa. Ilmu mereka begitu mantap dalam menghantar iman, sehingga iman itu pun selalu memberi reaksi positif dalam menghantarkan para penyandangnya untuk selalu menjunjung tinggi sebuah kebenaran. Sebaliknya jika saja yang berada di samping para penguasa itu ulama suu’, kondisi ini malah akan memperparah posisi penguasa itu sendiri. Biasanya ulama suu’ itu akan mencari muka dan menjilat hati para penguasa. Sering pula mencarikan celah-celah hukum yang akan memperingan sebuah tindakan terlarang seorang penguasa, malah hukum-hukum yang perlaku harus dikonversikan (disesuaikan) dengan kehendak hati para penguasa. Bisa pula mereka bertindak sebagaimana seorang ulama yang mukhlis, namun bertendensi lain, bukan demi memperjuangkan kebenaran, namun demi mendapatkan tempat di hati para pendengar dan para penguasa, sehingga banyak ulama sekarang yang sikapnya tidak ubah sebagaimana artis yang dikerumuni fans-fans yang menggandrunginya. Popularitas menjadi tujuan utama. Kalau sikap mereka sudah seperti itu, maka tidak diragukan lagi jelas mengandung dua tipuan. Pertama, orang seperti ini akan menampakkan bahwa tujuannya dalam memberi nasihat itu adalah memperbaiki keadaan dan perilaku publik, padahal nun jauh di relung hatinya menyimpan sebuah maksud agar dirinya dikenal dan popularitasnya terdongkrak. Padahal jika maksud dan tujuannya itu betul-betul mukhlis karena Allah, tentulah jika ada orang lain yang bertindak memperbaiki perilaku publik, dan ternyata dia diterima serta pengaruhnya begitu bagus pada jiwa mereka, orang yang pertama itu mestinya akan bersyukur kepada Allah dengan bertindaknya seseorang yang telah mencukupi kewajibannya. Hal ini dapatlah dimisalkan sebagaimana jika ditemukan si Amir yang sedang sakit dan belum ada orang yang merawatnya. Kemudian si Bakar bertindak merawatnya dan mengadakan terapi secukupnya sehingga sakit si Amir menjadi sembuh. Tentulah jika si Candra itu berhati jujur akan sangat gembira dengan tindakan si B tadi. Namun jika si Candra ini tetap menyangkal bahwa terapi yang dilaksanakan dirinya akan lebih sempurna dan lebih mujarab, maka si Candra ini adalah orang yang tertipu. Begitu pula jika seseorang yang memberi nasihat itu selalu mengatakan bahwa ucapannya lebih bisa diterima masyarakat dari pada yang lain. Asumsi seperti ini adalah salah besar. Kedua, jika saja ia mengatakan bahwa dalam memberi nasihat itu ia bermaksud memberi pertolongan bagi mereka yang terzalimi atau dirugikan, maka anggapan seperti ini keliru pula. Dan di dalamnya akan mengandung tipuan sebagaimana yang pertama tadi.
Demikian uraian yang sedikit ini semoga menjadikan manfaat adanya ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar