Kamis, 31 Desember 2009

Ketika Rindu Dendam Membakar Jiwa

Telah maklum bahwa Nabi Isa diciptakan Allah dan terlahir dengan tanpa memiliki ayah. Sedangkan Nabi Adam As. malah tidak berayah dan beribu, namun Isteri Nabi Adam, ibunda Hawa, ia diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam sendiri, tegasnya ia bisa disebut berayah namun tidak beribu. Dan manusia yang lain diciptakan secara normal melalui ayah dan ibu. Semua kebijaksanaan ini jelas membuktikan atas kekuasaan Allah yang telah menciptakan apa saja dengan kehendak-Nya sendiri dan ‘semau-Nya’ sendiri.
Akan halnya nabi Isa, merupakan seorang Nabi yang terkenal zuhud dan termasuk jajaran Ulul Azmi, yakni mereka yang sikapnya begitu teguh, tidak mudah tergoncangkan jika terlanda badai yang akan merusak prinsip-prinsip dan aturan yang dikehendaki Allah. Kehidupan beliau sangat bersahaja, tidak memiliki rumah, tidak beristri, sehingga pernah beliau ketika tidur hanya mempergunakan bongkahan batu sebagai bantal. Namun ketika itu Iblis pun datang dengan mengatakan:
“Bukankah engkau merupakan nabi yang terkenal zuhud, mengapa kealamu harus diganjal dengan batu, itu sudah mengundang kenikmatan duniawi.”
Mendengar ucapan Iblis ini segera saja nabi Isa melempar batu tersebut. Sampai taraf begitu sikap zuhudnya.
Beliau juga pernah menemui seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun. Dalam kesempatan itu segera saja pemuda itu berkata:
“Wahai Nabi Isa, hendaklah tuan bermohon kepada Tuhan agar memberikan cintanya sedikit saja kepadaku, mungkin hanya seberat dzarrah (semut kecil),” begitu pintanya.
Permononan ini segera saja dijawab oleh beliau dengan mengatakan:
“Wahai pemuda, jiwamu tidak akan mungkin mampu menanggung cinta dan kerinduan kepada Allah, kendati seberat dzarrah.”
Mendapat jawabab seperti ini, si pemuda tampak termangu, kemudian mengatakan lagi:
“Wahai Ruhullah, jika saja aku tidak mampu menanggung rindu dendam seberat dzarrah, hendaklah engkau memohonkan cinta itu kendati separoh berat dzarrah,” begitu sahut sang pemuda masih belum surut.
Mengetahui hasrat yang begitru kuat, nabi Isa pun memohon kepada Allah agar kiranya pemuda itu diberi kemampuan untuk menyintai Allah sesuai dengan porsi yang diminta tersebut. Kini nabi Isa pun berdoa dengan khusyu’, sedangkan si pemuda yang mengamini di belakang beliau. Dan setelah ptrosesi itu selelsai, nabi Isa pun berlalu meninggalkan pemuda itu setelah keduanya mengucapkan salam perpisahan.
Beberapa minggu kemudian, nabi Isa datang lagi ke tempat pemuda itu, namun kini tampak sudah sepi, beliau tidak menjumpai pemuda itu lagi, dengan tidak diketahui ke mana perginya. Maka Nabi Isa pun bertanya para tetangganya agar bisa bertenmu dengannya. Dari mereka ada yang mengatakan bahwa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.
Penjelasan ini kiranya telah cukup sebagai informasi yang akurat, namun belum mampu menunjukkabn keberadaan pemuda itu. Beliau pun berdoa lagi kepada Allah, kiranya dapat dipertemukan dengannya. Selesai berdoa beliau dapat melihat pemuda itu sedang berada di antara gunung-gunung, duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit tanpa berkedip. Segera saja beliau menyusul pemuda itu seraya mengatakan:
“Wahai pemuda, lihatlah, aku ini Isa yang beberapa waktu yang lalu bertemu denganmu.”
Mendengar sapaan ini, pemuda itu tampak tidak bereaksi, pandangannya kosong dan tidak berucap sepatah kata apa pun. Demi melihat nabi Isa yang tidak mendapatkan sambutan ini, Allah segera menurunkan wahyu kepadanya:
"Wahai Isa, dia tidak mungkin dapat mendengar pembicaraan manusia, sebab dalam hatinya kini telah bersemayam kecintaan dan rindu dendam kepada-Ku, kendati hanya seberat dzarrah. Demi Kemuliaan dan Keagungan-Ku, jika saja engkau menebasnya dengan pedang atau memotongnya dengan gergaji, ia tidak akan merasakan semua itu.”
Jika ditanyakan, adakah mungkin menyintai Zat yang ghaib itu bisa mengakat dalam hati?.
Untuk menjawabnya bisa kita gambarkan, jika saja di sekitar kita terdapat anak balita yang sejak kecil ditinggal merantau oleh sang ayah, dia belum pernah melihat sosok ayahnya. Kemudian kita katakan secara panjang lebar mengenai berbagai sifat baik ayahnya itu. Maka dengan sendirinya sang anak akan sangat merindukannya, kendati belum pernah melihat. Kemudian kita gambarkan pula mengenai citra Abu Jahal atau koruptor dengan sejelek-jelek sikap dan dengan penuturan yang begitu menjengkelkan, maka sang anak akan segera membencinya dengan sepenuh hati, kendati ia belum pernah melihat Abu Jahal atau koruptor tersebut. Dengan demikian kecintaan atau kerinduan terhadap barang abstrak itu sangat dimungkinkan dan tidak termasuk perkara yang aneh.
Namun kecintaan sepenuhnya hendaklah diarahkan kepada Allah. Dia yang telah memberi nikmat kita tak terhingga, baik nikmat kehidupan, rizki, kesehatan dan kenikmatan ruhani. Tidak ada seorang pun yang akan bisa melebihi dalam memberi nikmat selain Dia. Denganm demikian barang siapa cintanya kepada selain Allah itu melebihi kecintaannya kepada Allah sendiri, jelas hal ini merupakan kekeliruan langkah yang harus segera dibenahi. Bagaimana kecintaan kita terhadap Rasulullah kalau begitu?
Cinta kita terhadap Rasulullah sekali-kali tidak bisa dikatakan sebagai syirik, atau menduakan Allah, bahkan merupakan sikap yang sangat terpuji, sebab merupakan representasi dari cinta kepada Allah itu sendiri. Demikian pula cinta kepada para ulama dan mereka yang bertaqwa serta beramal shaleh. Bahkan mencintai mereka yang dicintai Allah merupakan sikap terpuji, dimana kesemuanya akan bermuara para Sang Prima Causa, Allah itu sendiri. Dengan demikian pada hakikatnya tidak ada yang dicintai terkecuali hanya Allah semata, lain tidak.
Indikasi orang bercinta dengan Allah dapat dilihat dari beberapa tanda di bawah ini:
Barangsiapa yang mengaku memiliki tiga perkara tetapi tidak menjauhkan diri dari tiga perkara yang lain, dia orang pendusta: [1] Orang yang mengaku merasa lezat berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia. [2] Orang yang mengaku ikhlas dalam beramal, namun masih meinginginkan sanjungan manusia. [3]. Orang yang mengaku menyintai Allah yang telah menciptakannya, namun tidak pernah bersikap tawadhu’. Malah ummat ini telah diprediksi Rasulullah Saw, bahwa mereka akan dimabuk lima perkara, yakni menyintai dunmiawi sehingga melupakan akhirat. Menyintai harta benda sehingga melupakan hisabnya. Menyintai makhluk sampai melupakan Sang Khaliq. Gemar berbuat dosa namun enggan bertaubat. Amat bangga dengan bangunan-bangunan mewah, namun melupakan kubur. ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar