Kamis, 31 Desember 2009

Do'a Mustajabah

Sayidina Ali bin Abi Thalib Karamallaahu Wajhah, merupakan kemenakan Rasulullah Saw. Ayah Rasulullah Saw, yakni Abdullah adalah saudara sekandung dengan Abu Thalib. Ali bin Abi Thalib telah masuk Islam sejak mudanya dan yang telah memegang jabatan khalifah ke empat setelah Utsman bin Affan Ra. Beliau telah diberi gelar Rasulullah Saw dengan gerbang ilmu. Memang beliau berlidah amat petah, banyak nasihat dan petuahnya yang bermanfaat bagi ummat. Juga banyak khutbah-khutbahnya yang dikumpulkan oleh para ulama, sebagaimana Sayid Radhi, Ibnu Duraid, Mufadhal dan lain sebagainya.
Pernah pada sebuah kesempatan, Sayidina Ali mengutarakan khutbah di hadapan kaum Muslimin. Ketika beliau hendak mengakhiri khutbahnya, tiba-tiba berdirilah seseorang ditengah-tengah jamaah sambil berkata, “Ya Amirul Mu’minin, mengapa do’a kami terasa tidak pernah diperkenankan? Padahal Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Ud’uuni astajib lakum” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu).
Sayidina Ali menjawab: Bagaimana do’a Anda akan diperkenankan. Allah jelas tidak sudi mendengarkan do’a kalian, apalagi mau mengabulkannya, karena hati kalian telah berkhianat kepada Allah dengan delapan hal, yaitu:
Kalian beriman kepada Allah, mengetahui dan meyakini adanya Allah, tetapi tidak sepenuh hati melaksanakan kewajiban kalian kepada-Nya. Inilah sebuah kondisi yang amat sedikit mamfaatnya dalam mempengaruhi kekuatan iman kalian.
≈ Kalian mengatakan beriman kepada Rasul-Nya, tetapi kalian enggan dan kadang malah menentang sunnahnya, serta mematikan syari’atnya. Ini juga merupakan sikap yang amat berseberangan dengan iman, malah memandulkan buah dari keimanan kalian itu?
≈ Kalian membaca Al Qur’an yang diturunkan melalui Rasul-Nya, tetapi tidak amat minim dari kalian yang mau mengamalkannya secara sungguh-sungguh.
≈ Kalian berkata, “Sami’na wa aththa’na (Kami mendengar dan kami patuh), tetapi sikap hidup kalian tampak selalu berseberangan dengan ajaran yang tersurat dan tersirat dalam ayat-ayat-Nya.
≈ Kalian menginginkan surga, ironisnya, pada setiap saat kalian tampak melakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari surga, bahkan malah mendekatklan kepada neraka. Mana bukti keinginanmu itu?
≈ Setiap saat kalian merasakan kenikmatan yang diberikan Allah, namun sangat ironis, kalian ingkari, kalian kufuri nikmat-nikmat itu. dan terbukti kalian tidak bersyukur kepada-Nya.
≈ Allah memerintahkanmu agar memusuhi syetan seraya berkata, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang nyala-nyala” (QS. Al Faathir: 6). Relitasnya, kalian selalu bersahabat dengan syetan, selalu memperturutkan ajakannya, dan malah menentang perintah-perintah Allah. Ternyata syetan tidak kalian musuhi, namun malah kalian jadikan sebagai sahabat.
≈ Kalian jadikan cacat atau kejelekkan orang lain di depan mata, tetapi kalian sendiri orang yang sebenarnya lebih berhak dicela daripada mereka.
dalam kondisi nmencengkeram delapam poin ini, bagaimana mungkin do’a kalian bisa diterima. Artinya, hakikatnya kalian sendiri yang telah menutup seluruh pintu dan jalan do’a untuk menuju kepada Allah dengan berbagai delapan poin penentangan itu. Dengan demikian sudah untung ketika Allah mendengar do’a kalian, Dia tidak melaknat, tidak mengutuk kalian. Ringkasnya, agar do’a kalian selau didengar Allah, hendaklah mantapkan delapan poin yang positif itu, yakni bertaqwalah kepada Allah sebatas maksimal, perbaiki amalmu, bersihkan batinmu, dan lakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan begitu, semoga Allah memperkenankan do’a kalian itu.
***
Dalam riwayat lain, ada seorang laki-laki datang kepada Imam Ja’far Shadiq, dengan mengatakan:,
“Ada dua ayat dalam Al Qur’an yang aku pahami maksudnya?”
“Bagaimana dua bunyi ayat itu?” tanya Imam Ja’far.
“Yang pertama berbunyi, “Ud’uuni astajib lakum” (Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu), (QS. Al Mu’min: 60). Namun apa yang aku alami adalah kebalikan janji itu, yakni do’aku tidak pernah diperkenankan Allah, bagaimana?,” ujar lelaki itu.
“Apakah kalian berpikir atau bahkan mencurigai bahwa Allah telah melanggar janji-Nya?” tanya Imam Ja'far.
"Tidak," jawab orang itu.
"Lalu ayat yang kedua apa?," tanya Imam Ja'far lebih lanjut.
"Ayat yang kedua berbunyi "Wamaa anfaqtum min syai-in fahuwa yukhlifuhu, wahuwa khairun raaziqin" (Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka A akan menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya), (QS. Saba: 39). Aku telah berinfak tetapi aku tidak melihat penggantinya," ujarnya.
"Apakah kamu berpikir bahwa Allah melanggar janji-Nya?" tanya Imam Ja'far lagi.
"Tidak," jawabnya.
"Lalu mengapa?" kejar Imam Ja'far.
"Aku tidak tahu," jawabnya.
Imam Ja'far kemudian menjelaskan, "Akan aku kabarkan kepadamu - insya Allah - seandainya kalian mentaati apa yang diperintahkan Allah kepada kalian, kemudian kalian berdo'a kepada-Nya, niscaya Allah memperkenankan do'a kalian. Sekarang mengenaim infak kalian yang kalian katakana tidak pernah berdampak posistif. Sebenarnya begini, sahabat, jika kalian mencari harta yang halal, kemudian kalian infakkan harta itu di jalan yang benar, maka infak satu dirham niscaya Allah menggantinya dengan yang lebih banyak. Kalau kalian berdo'a kepada Allah, maka berdo'alah kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh, Allah akan memperkenankan do'a kalian, kendati kalian orang yang berdosa."
"Apa yang dimaksud dengan sungguh-sungguh berdo’a?" sela orang itu.
Apabila kalian melakukan amal fardhu maka agungkanlah Allah, kemudian relakan Dia atas segala apa yang telah ditentukan-Nya bagimu. Jangan lupa membaca shalawat kepada Rasulullah Saw dengan bersungguh-sungguh. Sampaikan pula salam kepada beliau selaku pimpinanmu yang memberi petunjuk. Setelah kalian membaca shalawat kepada Nabi, kenanglah nikmat Allah yang telah dicurahkan-Nya kepadamu. Lalu bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat yang telah kalian peroleh. Ingat-ingat pula dosa-dosamu satu demi satu kalau bisa. Akuilah dosa itu di hadapan Allah. Akuilah apa yang kalian ingat dan minta ampun kepada-Nya atas dosa-dosa yang tidak engkau ingat. Bertaubatlah kepada Allah dari seluruh maksiat yang engkau perbuat dan niatkan bahwa kalian tidak akan kembali melakukannya. Beristighfarlah dengan seluruh penyesalan, dengan penuh keikhlasan, serta rasa takut tetapi juga dipenuhi harapan.
Kemudian panjatkan do’a, "Ya Allah, aku memohon maaf kepada-Mu atas seluruh dosaku. Aku memohon ampun dan taubat kepada-Mu. Bantulah aku untuk mentaati-Mu dan bimbinglah aku untuk melakukan apa yang Engkau wajibkan kepadaku, antarkan diriku pada segala hal yang Engkau ridhai. Karena aku tidak melihat seseorang bisa menaklukkan kekuatan apap pun, kecuali dengan kenikmatan yang Engkau berikan. Setelah itu, ucapkanlah hajatmu. Dengan begitu aku berharap Allah tidak akan menyiakan do'amu."
Demikian Imam Ja'far mengakhiri nasihatnya. Semogalah kita diciptakan sebagai hamba yang didengar, diluluskan dan diperkenankan segala do’anya, amin. ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar