Selasa, 29 Desember 2009

Hakikat Duniawi

Hakikat Duniawi






Yunus bin Ubaid mengatakan:

“Dalam hidup ini diriku aku tamsilkan sebagaimana seorang yang sedang tidur, ia bermimpi melihat berbagai apa yang dibenci atau disukai. Setelah itu, ia pun terbangun. Demikian pula para manusia ketika menjalani hidup ini, mereka kebanyakan tertidur. Maka ketika ajal telah menjemputnya, barulah mereka tersadar. Dan ternyata apa pun yang telah diusahakan mereka dalam tidurnya itu, ternyata hanya sebuah impian. Tangan mereka tidak pernah memegang apa pun yang mereka harapkan itu”.

Pernah pula nabi Isa As melihat duniawi dengan pandangan spiritualnya. Ketika itu beliau melihatnya dengan berbentuk seorang wanita yang sudah tua dengan berbagai perhiasan yang gemerlapan. Segera saja beliau bertanya:

“Berapa kali kau kawin, ibu!”.

“Aku sudah lupa menghitungnya, karena begitu banyak.” begitu jawab wanita tua itu.

“Adakah perpisahan denganmu itu tersebab perceraian atau kematian?”. tanya nabi Isa lebih lanjut.

“Ha…ha..!. Semua mati aku bunuh”. demikian sambung wanita itu dengan bangga.

“Betapa bodoh para suamimu yang belakangan, mengapa mereka tidak pernah berpikir dan mengambil ibrah terhadap nasib diri mereka yang selalu menjadi korban kebiadabanmu”. sahut nabi Isa lebih lanjut.

Al-‘Ala’ bin Ziyad mengatakan:

“Pada suatu malam aku bermimpi melihat seorang wanita tua dengan kulit yang sudah berkerut, ia mengenakan berbagai perhiasan yang begitu mempesona, sedangkan di belakangnya banyak sekali orang yang mengiringinya. Mereka selalu memandang dengan penuh ketakjuban dan saling berebut untuk meminangnya. Segera saja aku ikut mendekat dan melihat dengan mata kepala. Ketika itu aku betul-betul takjub, mengapa banyak manusia yang tergila-gila dan tidak lagi memekai akal sehatnya. Segera saja wanita itu aku hardik dengan mengatakan:

“Celaka betul sikapmu itu, siapa kau?”.

“Adakah kau belum juga mengenalku?. tanya balik wanita itu.

“Aku tidak pernah mengenal siapa dirimu”. jawabku apa adanya.

“Akulah keduniaan”. jawab wanita itu menjijikkan.

“Aku mohon perlindungan kepada Allah dari segala kejahatanmu”. sambungku lagi.

“Jika saja kau ingin selamat dari kejahatanku, hendaklah kau tidak rakus mencari uang”. sahut wanita jelek itu.

Abu Bakar bin Ayyas mengatakan:

“Dalam suatu kali aku pernah bermimpi melihat duniawi, seakan ia merupakan seorang wanita tua yang telah beruban dengan paras yang jelek sekali. Ia bertepuk tangan memanggil orang banyak, dimana setelah itu banyak sekali orang yang segera mengikutinya. Para pengikut itu segera berjoget ria dengan bertepuk tangan riuh. Namun setelah duniawi itu berada di hadapanku, maka segera mengatakan:

“Jika saja aku bisa memperolehmu, aku akan segera menjadikan dirimu sebagaimana mereka itu”.

Mendengar ucapan ini, Ibnu Ayyas segera menangis seraya mengatakan:

“Mimpiku itu terjadi sebelum aku berada di Baghdad ini”.

Al-Fudhail meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan:

“Nanti ketika hari kiamat telah tiba, maka dunia beserta isinya itu akan didatangkan dengan menuyerupai seorang wanita tua dengan rambut beruban dan mata yang terbeliak dan taring yang menjijikkan serta rupa yang begitu jelek. Segera saja wanita itu mendekati orang banyak seraya dikatakan:

“Adakah kalian mengenal wanita ini?”.

Orang banyak ketika itu langsung mengatakan:

“Na’udzu billah jika aku mengenal orang jelek itu!”.

Segera saja mereka mendapat jawaban:

“Inilah dunia yang dulu kalian telah berebut karenanya, malah saling membunuh antar sesama dan memutus tali persaudaraan. Tidak tertinggalkan saling mendengki dan curiga. Namun sekarang kalian baru menyadari terkena tipuan. Kemudian wanita itu dilemparkan ke neraka jahanam. Maka segera saja ia berteriak-teriak:

“Wahai Tuhan, dimana para pengikutku sekarang ini?”

Dengan segera Allah mengatakan:

“Susulkan para pengikutnya ke dalam jahanam”.

Ketika itulah banyak orang yang ketakutan, jangan-jangan termasuk orang yang paling dahulu dimasukkan dalam jahanam.

Abu Umamah Asl-bahili mengatakan bahwa ketika Rasulullah Saw telah diutus, maka para bala terntera Ibl;is segera menghadap kepada Iblis selaku pimpinannya. Merka mengatakan:

“Tuan, sekarang seorang nabi akhuir zaman telah diutus beserrta ummatnya yang terkenal ahli ibadah itu. bagiaman kita harus bersikap?”. Begitu Tanya anak buah.

“Adakah mereka mau dan menyukai keduniaan?” Tanya Iblis kemudian.

“tampaknya memang demikian”. Sahut anak buah lagi.

“Jika saja mereka masih menyukai duniawi, aku tidak akan terlalu bersusah jika saja berhakla dalam pereode ini tidak disembah lagi. Kita cukup beramngkat ketuika pagi dan sore klepada mereka dewngan menjulutrkan tiga perkara. Pertama, kita bujum, agar mereka mengambil harta dengan tanpa prosedur yang benar. Kedua, kita bujuk pula gar mereka mempergunakannya pada jalan yang tidak benar pula. Ketiga, kita bujuk mereka agar menahan dan menjauh untuk m,engelurkan hak-hak harta. Tiga [erkara itu sudah cukup sebagai sumber segala kejahatan. Kalian tidfak aperlu bersusah hati”. Begitu kata Iblis.

Seorang lelaki mengatakan kepada Syeikh Hasan Bashri:

“Bagaimana pendapat tuan mengenai seorang lelaki yang diberi cukup kekayaan oleh Allah, dimana dia selalu bersedekah dan menyambung tali persaudaraan. Adakah dia boleh bersenang-sebnag dengan hartanya itu?”.

“Ia tidak boleh bersikap sedemikian itu sehingga jika saja seluruh dunia itu menjadi miliknya, maka ia hanya diperbolehkan mempergunakannya dengan sekedar cukup, kemudian yang lain dipergunakan beramal kebajikan sebagai persiapan ketika maut menjemputnya”. begitu kata Syeikh Hasan.

Seorang lelaki bertanya kepada Ali bin Abi Thalib Ra.

“Hendaklah Amiril Mukminin menjelaskan mengenai posisi duniawi?”.

“Bagaimana aku harus menjelaskan mengenai keduniaan, dimana mereka yang sehat, maka sebentar lagi akan terlanda sakit. Siapa saja merasakan tenteram, ia akhirnya masih menyesal. Bahkan mereka yang miskin, ia akan bersusah hati. Dan barang siapa merasa kaya, maka ia akan terfitnah. Kendati pun duniawi itu halal, maka nanti di akherat masih dibebani dengan hisab. Sebaliknya jika diperoleh dengan jalan haram, maka seseorang jelas akan menerima siksaan. Dan ketika harus menjamah barang yang masih syubhat, maka seseorang tidak terlepas dari cela. Lebih ringkasnya lagi, yaitu halalnya mengandung hisab dan haramnya mengandung siksaan.

o0o

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar