Selasa, 29 Desember 2009

Surat Izin Dalam Berdakwah

Surat Izin Dalam Berdakwah


Pada zaman khalifah Al-Makmun beerkuasa, tahun 198 – 218 H. tersebutlah seorang lelaki yang rajin menggeluti amar makruf dan nahi anil munkar, ia bernama Muhtasib. Padahal pada zaman itu seorang yang berprofesi semacam itu harus mengantongi lisensi alias SID (surat Izin Dakwah). Ketika para pegawai kerajaan mendengar orang liar ini, segera saja mereka melaporkan pada Khalifah. Langkah selanjutnya, orang tersebut ditangkap dan dihadapkan pada pengadilan yang dipimpin oleh Khalifah senduiri.
“Aku telah mendengar bahwa dirimu merupakan seorang yang ahli dalam berdakwah dan amar makruf nahi anil munkar, namun tidak memiliki lisensi dari kerajaan, tidak pula pernah aku perintahkan bertindak sejauh itu. Benarkah yang demikian itu”. begitu tanya Baginda kepada Muhtasib.
Ketika itu Baginda duduk di sebuah kursi sambil membaca sebuah roman atau kisah-kisah yang lain. Namun tidak disadari sebuah buku terjatuh di dekat telapak kaki Baginda. Dalam kondisi seperti ini, pada diri Muhtasib segera muncul sifat dan profesi aslinya. Maka ia langsung mengatakan :
“Wahai Baginda, angkatlah kaki tuan dari menginjak asma Allah, kemudian Baginda baru mengutarakan maksudnya”.
Mendapat teguran seperti ini, Baginda belum juga menyadari mengenai maksud Muhtasib, hingga Baginda bertanya sampai berulang-ulang.:
“Apa yang kau ucapkan ?”.
“Kalau Baginda tidak mau mengangkat kaki, izinkanlah aku mengangkat kaki Baginda”. begitu sahut Muhtasib.
Seketika itu Baginda melihat ke arah bawah, maka barulah menyadari dan segera memungut buku tersebut dan menciuminya, kendati merasa malu karenanya.
“Kenapa kau melaksanakan amar makruf dan nahi anil munkar yang mestinya menjadi tanggung jawab kerajaan. Kamilah yang disinyalir Allah dalam sebuah ayat :

Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar. (QS. 22 : 41 ).

“Memang benar Baginda berpendapat yang demikian itu, namun mestinya diriku juga tidak terlepas menjadi anggota Baginda atau kalau tidak terlalu muluk, menjadi penolong dan kekasih Baginda. Pendapat yang demikian ini tidak pula akan ada yang mengingkari, terkecuali mereka yang belum memahami Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. Periksalah sekalai lagi, wahai Baginda :
Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi peolong pada sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang makruf dan mencegah yang munkar (QS. 9 ; 71 ).
Apalagi Rasulullah Saw. juga telah mengatakan :

“Orang mukmin yang satu terhadap orang mukmin yang lain adalah laksana bangunan yang satu, dimana sebagiannya saling menguatkan pada sebagian yang lain”. ( Muttafaq Alaih dari Abu Musa Al-Asy’ari).

Dengan demikian, “lanjut si Muhtasib”, jika saja Baginda mengikuti tuntunan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, akan sangat berterima kasih pada mereka yang menolong dan membantu tugas Baginda. Namun jika Baginda malah menampakkan sikap congkak dan sombong, maka Dia yang telah memberi kemuliaan pada Baginda, dan di tangan Dia pula kehinaan dan kejatuhan Baginda dipertaruhkan, akan tidak pernah menyia-nyiakan terhadap pahala mereka yang selalu beramal baik. Dengan demikian, “lanjut Muhtasib lagi”, sekarang terserah Baginda saja, apakah aku dilarang mengenai perbuatanku itu atau yang lain.”
Mendengar ucapan Muhtasib ini, baginda malah merasa senang namun bercampur bengong. Kemudian mengatakan :
“Orang sepertimu itulah yang pantas untuk melaksanakan tugas seperti itu, teruskan amalmu itu atas perintahku dan pendapatku” begitu kata Baginda seraya melepaskannya.
Muhtasib pun meneruskan profesinya seperti biasa seakan tidak pernah ada sebuah gangguan sama sekali. Sebuah liku-liku dalam berdakwah ◙




Diplomasi Abu Abdir Rahman



Di zaman Khalifah Hisyam bin Abdul Malik berkuasa, tahun 105 – 125 H. dan termasuk jajaran khalifah Bani Umayyah. Pada suatu hari Baginda bermaksud melakukan haji di Tanah Suci Makkah. Ketika telah memasuki Makkah itulah Baginda mengatakan kepada para pengawalnya :
“Wahai para kawan, hendaklah kalian mendatangkan seorang sahabat Rasulullah kepadaku. Aku berkehendak untuk berbincang-bincang kepadanya, terutama agar diriku mendapat nasehat darinya”. begitu kata Baginda merendahkan diri.
“Wahai Baginda, “jawab seorang pengawal”, tidak seorang pun dari para sahabat Rasulullah itu yang masih hidup. Pada pereode sekarang ini mereka sudah digantikan para tabi’in, yakni mereka yang meneladani perilaku para sahabat Rasulullah”.
“Kalau begitu datangkanlah seorang dari mereka ?”. sahut Baginda lagi.
Segera saja seorang tabi’in yang bernama Abu Abdir Rahman didatangkan, sehingga memasuki khemah Baginda. Ketika memasuki ke khemah itu dan mau menginjak permadani yang dihamparkan untuk Baginda, Abu Abdir Rahman segera melepas alas kakinya, kendati menurut kesopanan, seseorang tidak diperbolehkan melepas alas kaki di hadapan Baginda. Lalu dia mengucapkan salam yang aneh pula, tidak menyebutkan ‘Amiril Mukminin’, malah langsung duduk berhadapan dengan Baginda, bukan di sampingnya. Apalagi ia mulai pembicaraan dengan memanggil : “bagaimana keadaanmu, wahai Hisyam”. betul-betul tampak kurang ajar.
Mengetahui perilaku Abu Abdir Rahman ini, Baginda tidak bisa lagi membendung amarahnya sehingga hampir-hampis saja ia dipancung lehernya. Namun sikap Abu Abdir Rahman begitu cerdik :
“”Kau sekarang berada di lingkungan Tanah Haram Allah dan Rasul-Nya, tidak bisa kau seenaknmya bertindak seperti itu, kalau singgasanamu tidak ingin segera roboh.” begitu jawabnya membuat nyali Baginda mengecil.
Sejenak kemudian Baginda segera mencermati, mengapa Abu Abdir Rahman itu bersikap demikian terhadap seorang pemimpin.
“Mengapa kau bersikap tidak wajar terhadapku, wahai Abu Abdir Rahman?.” tanya Baginda.
“Dimana terletak ketidak wajaranku ?.” Abu Abdir Rahman malah balik bertanya.
Dijawab demikian ini, amarah Baginda memuncak lagi sampai ke ubun-ubun yang paling atas. Dalam kondisi itu, Abu Abdir Rahman dibentaknya :
“Kau telah melepas alas kaki di depanku , juga tidak kau cium telapak tanganku. Kau panggil aku tanpa gelar Amiril Mukminin atau kun-yah1, malah kau duduk persis di depanku tanpa mendapat izinku. Apalagi kau panggil aku ‘Hisyam”. begitu Baginda mencecar Abu Abdir Rahman dengan muka merah padam.
Akan halnya Abu Abdir Rahman seakan bersikap tidak mengerti, malah ia menjawab dengan lancar atas semua tuduhan yang dilontarkan Baginda.
“Wahai Baginda, setiap hari aku selalu melepas alas kakiku di hadapan Tuhan Seru Sekalian Alam sampai lima kali, namun tidak pernah sekalipun Dia menyiksa, marah atau membenciku. Mengapa kau begitu berseberangan dengan sikap yang telah diajarkan-Nya ?. Mungkinkah kau memang musuh satu-satunya ?.” begitu jawabnya.
Mendengar jawaban ini, Baginda seakan dibuat mati berdiri. Kemudian Abu Abdir Rahman segera melanjutkan :
“Adapun mengenai ucapanmu bahwa aku tidak mau mencium tanganmu. Dengarkan wahai Baginda !. Ali bin Abi Thalib telah mengatakan :”Seseorang tidak diperbolehkan mencium tangan orang lain terkecuali pada isterinya ketika akan melampiaskan syahwat padanya, atau pada anaknya karena kasih sayang”.
Mendengar ucapan ini, Baginda hanya terpaku seakan tak bernyawa, namun Abu Abduir Rahman tak peduli lagi, ia melanjutkan pula:
“Menanggapi ucapanmu bahwa aku tidak mau memanggil dengan gelar Amiril Mukminin. Dalam hal ini perlu kau ketahui bahwa tidaklah setiap rakyat yang berada dalam wilayahmu itu semuanya akan rela jika dirimu menyandang gelar seperti itu. Lebih tegasnya belum tentu mereka mau mengangkatmu sebagai amir (penguasa) mereka. Dari itu aku menghindar dari sikap bohong dan dusta.” begitu Abu Abdir Rahman membuat Baginda lebih terbengong. Namun Abu Abdir Rahman terus saja nyerocos tak terkendalikan bagai kuda binal :
“Mencermati ucapanmu bahwa aku tidak memanggilmu memakai gelar. Sikap ini tiada lain karena aku teringat pada panggilan Allah terhadap para Nabi-Nya dengan tanpa memakai gelar sedikit pun. Sehingga dia memanggil mereka dengan kalimat :”Wahai Yahya, wahai Isa, ya Musa, ya Harun, ya Zakariya, namun ketika memanggil musuh-musuh-Nya, barulah Dia menyematkan gelar musuh-Nya itu, sebagaimana :
Tabbat yadaa Abi Lahabin wamaa kasaba.
Padahal nama asli Abu Lahab adalah Abdul Uzza bin Abdul Muthalib.
“Sedangkan untuk menanggapi ucapanmu bahwa aku langsung duduk di hadapanmu. Mengertilah kau bahwa Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib telah mengatakan :
“Jika saja dirimu berkehendak untuk melihat pada seorang penduduk neraka, maka lihatlah pada seorang yang ketika duduk selalu dikelilingi kaum pengikutnya yang selalu berdiri”.
Setelah Baginda merasa terpojok begitu rupa, untuk menyelamatkan mukanya, ia mengatakan : “Berilah aku nasehat .. !”.
“Aku telah mendengar, “ kata Abu Abdir Rahman”, bahwa Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib telah mengatakan ; “Di neraka Jahanam itu dipersiapkan ular-ular yang kepalanya sebesar tempayan, dan kala sebesar keledai. Semua itu akan mematuk dan menyengat setiap pemimpin yang tidak bisa berbuat adil ketika memerintah rakyatnya.”
Setelah itu Abu Abdir Rahman segera bangkit dari duduknya dan melarikan diri. Sedangkan Baginda hanya bisa terpaku dan tertegun, tanpa mengerti apa yang harus diperbuatnya. Maka dibiarkan saja Abu Abdir Rahman berlalu. Aneh…! ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar