Rabu, 30 Desember 2009

Ketika Kemarau Melanda Ummat

Dikisahkan oleh Ka’ab Al-Ahbar bahwasannya di zaman Nabi Musa pernah terjadi paceklik panjang dan hujan tidak pernah turun, maka beliau segera keluar bersama Bani Israel untuk memohon hujan dengan melakukan shalat istisqa’. Aktivitas ini berlangsung sampai tiga kali, namun anehnya Allah belum juga memperkenankan do’a Nabi Musa. Akhirnya Allah berbelas kasihan juga terhadap Nabi Musa, maka Dia memberi wahyu kepadanya :

“Wahai Musa !, sekali-kali Aku tidak akan memberi hujan kepadamu, tidak pula kepada kaummu. Ingatlah Musa, pada kaummu bercokol seorang provokator (nammam).”

Mendengar wahyu Allah ini, Nabi Musa tersentak kaget, kemudian mengatakan :

“Wahai Tuhanku, siapa sang provokator itu, akan segera aku usir dari kalangan kaumku ini ?.” begitu sergah Nabi Musa lebih lanjut.

“Wahai Musa,. Aku sangat membenci provokasi. Dengan demikian jika Aku menentukan orang yang kau tanyakan itu, secara tidak langsung Aku akan terjebak sebagai provokator.”

Setelah mendengar jawaban ini, Nabi Musa langsung mengatakan kepada seluruh kaumnya :

“Wahai Bani Israel, bertaubatlah kalian dari perbuatan provokasi dan mengadu-adu, semuanya saja tanpa kecuali !”.

Dan setelah mereka betul-betul bertaubat, maka Allah segera menurunkan hujan yang begitu lebat sehingga mencukupi kebutuhan mereka.

Dikisahkan pula oleh Sa’id bin Jubair bahwa pada suatu masa Bani Israel pernah dikuasai oleh seorang raja yang terkenal zalim sehingga Allah memberikan azab berupa kemarau panjang. Namun sang raja itu tampaknya betul-betul biadab, ia malah mengancam Allah :

“Wahai Tuhan, turunkanlah hujan. Jika tidak, Engkau akan kami sakiti !.”

Sekumpulan orang mengatakan : “Bagaimana kita bisa menyakiti Tuhan, padahal Dia tidak kasat mata ?”.

“Kita bunuh para kekasih-Nya di persada ini, kita tumpas orang-orang ahli ibadah, dimana tindakan sedemikian itu jelas akan menyakitkan Allah.” sahut raja biadab itu.

Beberapa saat kemudian, hujan pun turun cukup lebat dan disambut gembira oleh seluruh penduduk bumi.

Berkata pula Syeikh Sufyan Ats-Tsauri bahwa Bani Israel pernah mengalami kekeringan selama tujuh tahun sehingga mereka terpaksa makan bangkai yang terbuang di tempat kotoran dan anak-anak manusia atau apa pun yang didapatkan untuk menahan nyawa mereka. Setelah mengalami kondisi yang sulit ini, mereka pun berbndong-bondong keluar menuju sebuah gunung untuk menumpahkan tangis disertai hati yang begitu tulus dan kerendahan jiwa. Dalam keadaan seperti itu, Allah langsung memberi wahyu kepada seorang Nabi dari kalangan mereka :

“Kendati pun mereka berjalan dengan telapak kaki sehingga mengalami lecet, dan kendati tangan mereka dalam memanjatkan do’a itu sampai menjulur ke langit, dan kendati mulut mereka sampai berbuih-buih mengucapkan do’a, Aku tidak akan memperkenankan do’a mereka, tidak pula akan berbelas kasihan pada tangis mereka terkecuali jika mereka saling mencabut perbuatan zalim dan aniayanya.”

Setelah Nabi itu mengabarkan apa yang diwahyukan Allah kepadanya, Bani Israel segera bertaubat sepenuh hati dan langsung mencabut perbuatan aniaya mereka. Terbukti tidak seberapa lama, Allah pun menurunkan hujan.

Syeikh Malik bin Dinar mengatakan pula :

“Pada suatu masa, Bani Israel dilanda paceklik yang hebat sehingga mereka terpaksa keluar untuk memohon hujan sampai beberapa kali. Namun Allah malah memberi wahyu pada seorang Nabi dari mereka :

“Kabarkan pada kaummu bahwa mereka keluar untuk memohon kepada-Ku itu dengan tubuh-tubuh yang penuh najis, mereka menengadahkan telapak tangan yang penuh noda darah, sedangkan perut mereka masih dipenuhi makanan haram. Sekarang amarah-Ku betul-betul sampai titik didih. Dengan demikian usaha mereka itu tidak akan menambah apa pun terkecuali menjauh dari-Ku.” begitu bunyi wqashyu.

Pernah pula dikatakan pada Syeikh Malik bin Dinar :

“Mohonkan hujan kepada Allah, wahai Syeikh Malik !”.

“Kalian begitu mengharap turunnya hujan, namun aku malah mengharap turunnya hujan batu”. begitu jawab Syeikh Malik sengit.

Abu Shiddiq An-Najiy mengatakan bahwa pada sekali kesempatan Nabi Sulaiman pernah memohon turunnya hujan. Namun ketika masih berangkat beliau bertemu dengan seekor semut yang terlentang di atas punggungnya seraya menengadahkan seluruh kakinya ke arah langit. Semut itu terdengar mengucapkan sebuah do’a : “Ya Allah, sesungguhnya kami merupakan bagian dari para makhluk yang telah Engkau ciptakan, dimana selama ini kami tidak bisa terlepas dari karunia rizki-Mu. Dengan demikian janganlah kami Engkau hancurkan tersebab dosa-dosa mereka selain kami.”

Ketika Nabi Sulaiman mendengar ucapan semut itu, beliau segera memerintahkan agar seluruh kaumnya segera kembali seraya mengatakan :

“Pulanglah kalian, sebab permohonan hujan telah dilaksanakan oleh makhluk selain kalian.

Al-Auza’I mengatakan pula :

Pada suatu hari ummat Islam keluar ke sebuah lembah untuk memohon hujan. Maka pimpinan mereka yang bernama Bilal bin Sa’ad segera berdiri memuji, membesarkan dan mengagungkan Allah, kemudian ia mengatakan :

“Wahai para hadirin, adakah kalian menyadari atas bebrbagai dosa yang telah kalian perbuat ?.”

“Kami menyadari semua itu, wahai Bilal”. jawab mereka serentak.

Segera saja Bilal mengatakan :

“Ya Allah, kami telah mendengar dan membaca ayat yang telah Engkau turunkan :

“Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik (At-Taubah :92 ).

Dan kami, “lanjut Bilal”, telah mengakui terhadap segala kesalahan kami, dengan demikian ampunan-Mu mestilah lebih berhak kami terima. Untuk itu hendaklah kami Engkau ampuni, kemudian curahkan kasih sayang-Mu dan berilah kami hujan.”

Ketika do’a itu mulai diucapkan, Bilal segera memerintahkan agar seluruh hadirin segera menengadahkan kedua belah tangan dengan serentak. Beberapa saat kemudian hujan pun turun dengan lebatnya.



Dikisahkan pula oleh Yahya Al-Ghisaniy bahwa di zaman Nabi Daud pernah terjadi kemarau panjang. Maka kaum Bani Israel segera mengajiukan tiga orang ulama untuk memohon hujan. Demi melihat bndertaan mereka, tiga orang itu segera memanjatkan do’a. Orang pertama mengatakan :

“Ya Allah, Engkau menurunkan kitab Taurat itu tiada lain bermaksud agar kami saling memberi maaf terhadap mereka yang bertindak aniaya kepada kami. Ya Allah, kami menyadari bahwa diri kami saling menganiaya dan berbuat zalim pada sesama. Kami menyadari pula bahwa kami berbuat aniaya kepada diri kami sendiri. Dengan demikian ampunilah dosa-dosa kami.”

Orang kedua mengatakan :

“Ya Allah, dalam kitab Taurat yang telah Engkau turunkan, Engkau telah menyuruh kami untuk memerdekakan hamba sahaya kami. Ya Allah, kami merupakan hamba-hamba-Mu, dengan demikian merdekakanlah diri kami”.

Orang ketiga mengatakan :

“Ya Allah, dalam kitab Taurat yang telah Engkau turunkan, Engkau menyuruh kami agar tidak menolak terhadap orang miskin yang minta-minta kepada kami. Kami merupakan keluarga-Mu yang sangat miskin, dimana sekarang telah mengetuk pintu-Mu, maka dari itu janganlah Engkau menolak permohonan kami.”

Setelah selesai memanjatkan do’a itu, hujan pun turun disertai guntur yang membahana.

Dikisahkan pula oleh ‘Atha’ As-Salamy bahwa pada suatu hari ia keluar bersama-sama masyarakat untuk memohon hujan, namun ketika melintasi sebuah pekuburan, ia bertemu dengan Sa’dun Majnun yang menyapa dengan ucapan :

“Wahai ‘Atha’, adakah ini merupakan hari kebangkitan. Adakah ini merupakan hari seluruh penghuni kubur dikeluarkan ?”.

“Bukan, bukan !, namun kami dilanda kemarau panjang sehingga terpaksa keluar rumah uuntuk memohon pertolongan kepada Allah”. jawab ‘Atha’.

“Wahai ‘Atha’ masyarakat yang keluar rumah itu menggunakan hati yang bertaut dengan langit atau dengan bumi ?”. tanya si Majnun lagi.

“Dengan hati yang berpaut dengan langit, mengapa !”. sahut ‘Atha’ lebih lanjut.

“Ah, tidak mungkin itu. Begini saja, katakanlah kepada para penyandang kebatilan, jangan lagi mereka tetap bercengkerama dengan kebatilannya, sebab Dia Maha Melihat apa pun yang diperbuat mereka”. sergah si Majnun lagi.

Sejenak kemudian si Majnun melirik ke arah langit seraya memanjatkan do’a :

“Tuhanku, janganlah Engkau hancurkan negeri ini tersebab dosa-dosa hamba-Mu. Demi asma-Mu yang sampai kini masih tersamar, dan demi nikmat-nikmat-Mu yang sampai kini masih belum tersingkap, berilah kami hujan yang tawar, dimana tersebab air itu hamba-hamba-Mu akan memulai lembaran kehidupan baru, dan negeri-Mu akan merasakan segar kembali. Wahai Yang menguasai segala sesuatu.”

Belum sampai do’a itu berselang, kilat sudah tampak bersahutan kemudian hujan turun dengan lebatnya. Si Majnun itu segera beranjak pergi dengan mendendangkan sya’ir :

Zahid dan abid berhati mulia.

Mereka lapar demi Tuhannya,

Karena rindu, mata terjaga.

Untuk bersujud panjang malamnya.

Banyak ibadah jadi tengara.

Hingga disangka mereka gila.



Mendengar ucapan yang memikat hati ini, ‘Atha’ hanya bisa tertegun kemudian segera mencari tempat berteduh.

Ibnul Mubarak mengatakan :

“Pernah pada suatu tahun, Madinah terlanda kemarau yang sangat menyengsarakan sehingga masyarakat kota itu berbondong-bondong keluar untuk memohon hujan. Aku pun mengikuti mereka. Namun di tengah jalan aku bertemu dengan seorang sahaya hitam yang mengenakan pakaian kasar. Kainnya hanya diikatkan begitu saja sebatas pusat, sedangkan yang lain juga hanya diselempangkan di atas pundaknya. Sahaya itu tampak duduk di sebelahku, dimana tidak begitu lama aku mendengar ia berdo’a :

“Ya Allah, akankah orang-orang terhormat akan binasa tersebab dosa-dosa hamba yang lain, sehingga hujan pun Engkau tahan untuk memberi pelajaran pada hamba-hamba-Mu. Sekarang aku memberanikan diri untuk bermohon kepada-Mu, wahai Yang tidak dikenal hamba selain kebaikan-Nya. Berilah mereka hujan sekarang jua, sekarang jua….”

Sejenak kemudian awan tampak berarakan kemudian turun hujan dengan lkebatnya.

Demi melihat kejadian yang sangat mengherankan ini, “kata Ibnul Mubarak”, aku segera menemui Al-Fudhail. Namun setelah kami berjumpa dengannya, ia tampak begitu galau dan memendam penyesalan yang tiada henti. Aku pun segera mengutarakan pertanyaan kepadanya :

“Mengapa tuan tampak begitu susah, apa gerangan penyebabnya ?”.

“Tiada lain suatu peristiwa (istisqa’) dimana diriku terdahului orang lain”. begitu jawab Al-Fudhail.

Segera saja, “sambung Ibnul Mubarak”, aku ceritakan si hamba hitam yang memanjatkan do’a yang begitu mustajabah itu. Namun tiba-tiba Al-Fudhail berteriak keras kemudian pingsan.

Pada suatu ketika pernah pula Umar bin Khathab memohon hujan dengan pengantar Abbas selaku pamannya. Dan ketika Umar telah selesai memanjatkan do’a, Abbas segera menyambung do’a itu dengan ucapannya :

“Ya Allah, selama ini tiadalah azab turun dari langit terkecuali tersebab dosa-dosa yang diperbuat para hamba. Dan semua itu tidak akan ada yang bisa menyingkirkannya terkecuali dengan taubat. Sekarang masyarakat telah mengajukan diriku untuk bermohon kepada-Mu tersebab aku begitu dekat dengan Nabi-Mu. Inilah tangan-tangan kami yang menjulur kepada-Mu kendati dengan penuh dosa. Ini pula ubun-ubun kami yang telah pasrah dan bertaubat kepada-Mu. Engkau merupakan penggembala yang tidak pernah membiarkan hamba tersesat, tidak pula pernah menelantarkan mereka yang kesusahan. Padahal sekarang orang-orang tua begitu berharap, banyak pula anak kecil yang tersia-sia. Suara mereka membahana mengadu dan memohon pertolonga-Mu, Engkau Maha Tahu terhadap semua itu, bahkan apa pun yang lebih samar lagi. Ya Allah, berilah mereka hujan sebelum mereka berputus asa, dimana keputus-asaan dari rahmat-Mu itu akan menyebabkan mereka celaka, selamatkanlah kehidupan mereka, selamatkan iman mereka, sebab tidak akan berputus asa dari rahmat Allah terkecuali mereka yang engkar.”

Begitu do’a ini selesai dipanjatkan, hujan pun turun dengan lebatnya sehingga awan-awan tampak beriringan bagaikan gugusan gunung ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar