Kamis, 31 Desember 2009

Jariah Dan Orang Negro

Tersebutlah seorang yang amat shaleh yang sedang menunaikan ibadah haji. Maka ketika dia hendak mengerjakan suatu rukun haji yang ketiga yaitu thawaf, berangkatlah dia menuju Baitullah beserta kawan-kawannya dan memluai thawaf dari Hajar Aswad. Namun belum lama kewajiban itu dilakukan, pandangannya tertuju pada seorang wanita yang berdo’a dengan kalimat yang begitu asing di telinganya.
“Ya Karim, wahai Yang Maha Mulia, janjiMu selalu tepat sejak semula.”
Do’a itu selalu diulang-ulang hingga menggelitik hati si Shaleh untuk menanyakan, rahasia apa yang terkandung di dalamnya. Maka si Shaleh menyempatkan diri untuk mendekati si ibu itu seraya mengenalkan namanya. Setelah berkenalan seperlunya, ibu itu bernama Jariah. Kemudian si Shaleh bertanya :
“Apa yang melatar belakangi ibu berdo’a seperti itu, bukankah dalam thawaf ini ada do’a khusus yang akan lebih utama diucapkan?.” begitu tanya si Shaleh.
“Oh, baru kali ini ada yang bertanya mengenai latar belakang do’aku yang aneh itu, baiklah akan kuceritakan kepada bapak.” sahut ibu tadi.
Beberapa waktu yang lalu aku naik sebuah kapal penumpang bersama anakku ini dan para pedagang yang sarat membawa barang perniagaan. Namun tiba-tiba saja angin bertiup sangat kencang hingga ombak laut begitu ganas. Karena suasana begitu mengkhawatirkan dan ombak ternyata bertambah besar, akhirnya kapal yang kami tumpangi tenggelam beserta para penumpangnya. Dalam kecelakaan itu tidak ada seorang pun yang selamat kecuali aku dan anakku ini. Dan ketika kapal mulai tenggelam itu, dengan sekuat tenaga anak ini aku taruh di atas sebilah papan pelampung dimana aku sendiri menopangnya dari bawah sambil berenang sekuat kemampuanku dengan menyimpan harapan hidup yang semakin tipis. Kejadian ini berlangsung pada malam hari hingga menambah trauma yang tidak terperikan lagi. Namun ketika mendekati pagi dan pandangan mulai bisa menembus kegelapan, maka tampaklah seorang lelaki hitam yang tidak jauh dariku. Setelah dia melihat wajahku, dia pun mendekatiku dengan pelampung lain yang dipakainya. Dan ketika betul-betul dekat denganku, tiba-tiba pelampungnya itu ditinggalkan begitu saja, dia sendiri beralih meraih pelampungku hingga aku, dia dan anakku ini berada dalam satu pelampung.
Tanpa aku bayangkan sebelumnya, si hitam itu mencolek tubuhku dan mengajakku untuk berbuat mesum di muka air layaknya perilaku kodok. Dengan segala kearifan aku katakana padanya :
“Wahai hamba Allah, kita dalam keadaan tertimpa musibah, dimana memperbanyak ibadah pun akan sangat tipis bisa menyelamatkan diri kita, apalagi dengan kedurhakaan tentulah akan begitu cepat mengundang murka Alah. Hendaklah anda takut dan mendekatkan diri kepadaNya.” begitu dia aku nasehati.
Tampaknya si hitam itu betul-betul nekad dan tidak bisa menerima kebaikan lagi, malah dia mengatakan :
“Kali ini merupakan kesempatan terbaik untuk bersama mereguk nikmat nerakawi. Selagi sempat, mari kita puaskan bersama-sama.” begitu si hitam merayuku.
Ketika itulah aku berusaha untuk menghindar dengan cara mencubit tubuh anakku ini agar dia menangis, maka dia pun menangis sejadi-jadinya di atas pelampung. Kemudian aku katakan :
“Tunggu dulu, aku akan menina bobokkan anakku ini biar kita lebih leluasa menumpahkan hasrat yang menggelora.” begitu alasanku.
Namun ternyata anak ini tidak mau diam, malah tangisnya semakin histeris. Ketika itulah tiba-tiba dengan sigap dan tanpa belas kasihan, anak ini dilemparkan oleh si hitam ke air, khawatir terganggu perbuatan mesumnya. Terperanjat aku dibuatnya, hati ini bagaikan disayat-sayat melihat anak satu-satunya pergi meninggalkan ibunya dalam dua bahaya, yakni bahaya tenggelam dan bahaya dinodai si hitam itu. Batinku menjerit seraya aku dongakkan kepalaku ke arah langit untuk mengadukan nasibku ini kepada Allah. Dalam do’a itu aku sempat mengatakan :
“Wahai Dzat Yang menghalangi seseorang dan hatinya !, halangilah aku dari perbuatan si hitam ini dengan segala upaya dan kekuatanMu. Engkau atas segala sesuatu Maha Kuasa.”
Belum sampai do’a itu selesai aku ucapkan, tiba-tiba muncul ikan besar kemudian mendekati si hitam itu lalu menelannya dan menghilang begitu saja. Kini tinggallah aku sendiri diombang-ambingkan gelombang kesana kemari, namun hatiku terus terpancang untuk menghingat kebesaran Allah. Lama kelamaan gelombang itu menggiringku mendekati sebuah pulau kecil. Betapa girang hatiku hingga aku sempat bergumam :
“Kali ini aku akan bertahan dengan memakan pucuk dedaunan dan meminum air tawar pulau itu jika saja ada.”
Terbukti aku bisa mendarat di pulau itu sampai empat hari lamanya. Kemudian pada hari yang terakhir aku melihat sebuah kapal besar melintas dengan jarak yang cukup jauh. Segera saja aku berlari meuju tempat yang lebih tinggi kemudian aku melambaikan baju luarku agar mereka melihat reaksiku itu. Alhamdulillah mereka melihatku, lalu kapal itu tampak berhenti menurunkan sebuah skoci yang ditumpangi tiga orang menuju ke tempatku. Setelah menepi, mereka menanyakan kehendakku. Walhasil, aku segera naik skoci itu menuju kapal besar. Tidak sampai memakan waktu yang lama, aku segera naik ke kapal besar itu.Namun betapa takjub dan terkejutku, anakku ini telah berada di dekat seorang kelasi hingga aku segera lari memeluknya. Ku ciumi dia sepuas-puasku, kutumpahkan segala kerinduanku hingga para kelasi terbengong-bengong dan malah ada yang mengatakan:
“Apakah penumpang ini perempuan gila !.”
“Tidak, ingatanku tidak sakit, jiwaku normal-normal saja, ini anak kandungku sendiri.” sahutku.
Kemudian aku ceritakan semua apa yang telah ku alami sampai selesai. Demi mendengar penuturanku ini, mereka tertunduk seluruhnya, heran bercampur haru hingga situasi ketika itu menjadi hening. Selanjutnya seoang kelasi yang membawa anakku tadi mengatakan :
“Sekarang aku yang akan bercerita kepadamu ibu, mengenai asal mula anak ini menjadi penumpang. Pada suatu pagi yang cerah, angin pun bertiup dengan baik tiba-tiba saja dari arah depan kapal ini ada ikan besar yang melintang hingga laju kapal ini terhambat, kami lihat pula di punggung ikan itu bertengger seorang anak. Ketika itulah kami mendengar suara dengan lantang :
“Jika kalian tidak memungut anak ini, kapal kalian akan segera karam.” begitu suara itu mengancam.
Dengan segera salah seorang dari kami nekad menceburkan diri kelaut lalu naik ke punggung ikan itu untuk memungut anak ini. Setelah berhasil dia segera kembali memasuki kapal ini dengan selamat, namun ikan itu segera saja menghilang dari pandangan kami. Dengan demikian selama lima hari ini telah terjadi dua keajaiban.” begitu tutur seorang kelasi dengan penuh ketakjuban.
Setelah mendengar dan melihat peristiwa ini, seluruh penumpang kapal itu dengan serentak membaca takbir. Banyak pula yang berlinangan air mata dan menyatakan taubat dari segala dosa kepada Allah SWT. Aku sendiri tidak henti-hentinya mengucapkan syukur. Pertama, aku telah selamat dari tenggelam dan terjangan ombak. Kedua, aku telah selamat dari perbuatan zina yang dilakukan oleh si hitam yang telah karam itu. Ketiga, diriku ternyata dipertemukan kembali dengan anakku semata wayang ini. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Yang telah mengatur segalanya ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar