Kamis, 31 Desember 2009

Isi sebuah Khutbah

Seorang khalifah tempo dulu, secara langsung ia juga menjadi panglima perang tertinggi, juga memimpin ritual keagamaan, baik menjadi imam shalat lima waktu atau pun memberi ceramah dan khutbah. Ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, ia pun sering memberi nasihat yang amat berarti bagi ummat untuk mernggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Di antara khutbah-khutbah beliau, adalah apa yang terulis di bawah ini.
Amma ba’du:
Sadarilah wahai para hadirin bahwa kalian akan mati dan dibangkitkan. Kalian akan diperlihatkan pada amal-amal kalian serta mendapat balasan darinya. Dengan demikian janganlah kehidupan dunia ini menipu kalian, sebab dunia itu memang telah dikenal sebagai kawasan ujian, juga daerah kehancuran, di samping terkenal pula dengan bujukannya. Apalagi segala apa yang di dalamnya akan menuju sirna. Namun para pemburunya begitu bersemangat untuk meraih, kendati kekuasaannya hanya bergilir. Keduniaan tidak akan kekal bagi para penguasanya. Begitu pun mereka yang bertempat di situ tidak akan merasa aman dari berbagai keburukan. Sehingga ketika para penduduknya dalam keadaan aman dan tenteram, tiba-tiba saja terkena bencana dan bahaya dalam kondisi yang selalu berubah-ubah. Sering pula kebahagiaan hidup di dalamnya tiba-tiba berpaling. Kegembiraan yang tak pernah kekal dan kehidupan yang tak pernah terlepas dari cela. Sehingga para penghuninya sering kali sebagaimana papan latihan menembak, papan itu selalu terkena sasaran pelor penderitaan sehingga mereka selalu menderita karenanya. Apalagi mereka mesti berakhir dengan kematian dengan mendapatkan bagian dan balasan yang sudah ditentukan pula.
Sadarilah oleh kalian, wahai para hamba Allah, bahwa apa yang kalian alami dan apa yang kalian peroleh, tiada akan jauh berbeda dengan apa yang telah dialami oleh kaum yang hidup sebelum kalian, malah umur mereka lebih panjang, lebih kuat pula tubuhnya dan lebih hebat dalam memakmurkan persada ini serta lebih banyak dalam memberikan bekas peninggalan. Namun ternyata suara mereka kini telah hilang setelah mereka berusaha sekuat kemampuan untuk mengekalkan keharuman namanya. Tubuh-tubuh mereka pun hancur dengan meninggalkan rumah-rumah yang tidak perpenghuni lagi. Kejayaan mereka ternyata tidak memberi bekas lagi, malah istana, kastil dan alas tidur indah mereka, kini telah berganti dengan batu-batu besar yang tersandar di alam kubur.
Dengan demikian para penghuni dunia itu tidak berjangka lama, padahal ketika hidup telah didera dengan berbagai keluh kesah tersebab harus berebut dengan kawan yang lain. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang telah diusahakan, mereka pun selalu didera dengan berbagai kesibukan. Kehidupan mereka tidak pernah tenteram secara hakiki kendati rumah mereka berdekatan dengan para tetangga dan sanak saudara. Bagaimana seseorang akan bisa hidup bahagia jika saja pada setiap hari harus waspada dari berbagai bencana, bahkan harus berhadapan berbagai bahaya yang berakhir dengan kematian.
Tiada lagi setelah hidup ini terkecuali menemui kematian. Tiada pula setelah keceriaan hidup ini terkecuali menjadi belulang yang akan berserakan. Kubur cukup sebagai tempat berkumpul mereka. Mereka terpaksa harus menghuni rumah bawah tanah yang tidak diharapkan lagi bisa kembali ke dunia. Jangan berharap seperti itu wahai saudara sekalian, terlalu jauh. Kendati kalimat sepeti itu diucapkan mereka yang menyesali, malah dibalik mereka terpasang tirai sampai hari mereka dibangkitkan. Kalian pasti menempuh tahap seperti itu, dan tubuh kalian pasti hancur, serta mengalami kesendirian di tempat kembali kalian masing-masing. Kalian akan ditahan di tempat itu, malah sebagian dari kalian ada yang harus dijepit dengan tempat itu. Bagaimana usaha kalian nanti jika saja telah mengalami dan menyaksikan penderitaan dengan mata kepala. Pada hari itu seluruh apa yang ada di dalamnya akan dimuntahkan, dan segala apa yang tersimpan dalam dada akan dikeluarkan, malah kalian akan di seret di depan Yang Maha Agung sehingga akal kalian tidak berfungsi lagi tersebab ketakutan yang memuncak dari akibat berbagai dosa yang telah kalian lakukan. Di hari itu pula seluruh tirai akan segera disingkap sehingga berbagai cela dan dosa akan tampak begitu nyata. Di sanalah setiap tubuh akan menerima balasannya masing-masing sesuai dengan perilaku mereka ketika hidup, sesuai dengan janji Allah sendiri yang telah mengatakan:
Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik pula (QS. An-Najm: 31).
Berfirman pula:
Dan ditaruhkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang durhaka ketakutan terhadap apa-apa yang ada di dalamnya (QS. Al-Kahfi: 49).
Tiada lain harapan saya, semoga Allah menjadikan diriku dan diri kalian selalu bersikap sesuai dengan Kitab-Nya, mengamalkan isinya dan selalu menapak perilaku para kekasih-Nya sehingga Dia menempatkan kita di daerah kekal dengan mendapat karunia-Nya. Dia Mahaterpuji dan Mahaagung. ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar