Selasa, 29 Desember 2009

Kedengkian Yahudi Terhadap Nabi Sulaiman

Kedengkian Yahudi Terhadap
Nabi Sulaiman

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syetan-syetan pada masa kerajaan Sulaiman. Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak melakukan sihir). Syetan-syetan itu mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut (Al-Baqarah:102 )

Ayat tersebut turun berkenaan dengan tuduhan orang Yahudi bahwa Sulaiman As bukanlah seorang nabi. Malah ketika Rasulullah menyebut beliau dalam jajaran para nabi, segera saja orang-orang Yahudi mengatakan:
“Lihatlah, betapa aneh, Muhammad menyebut Sulaiman dalam jajaran para nabi”.
Sebenarnya ketika nabi Sulaiman berkuasa, masyarakat telah begitu keranjingan dengan berbagai ilmu sihir yang menyebabkan kafir itu, sebagaimana masyarakat dan kerajaan Fir’aun yang berdiri kokoh dengan dukungan tukang-tukang sihir. Beliau dengan semaksimal mungkin telah berusaha untuk menghapuskan ilmu terkutuk itu. Maka beliau pun mengadakan pembersihan di seluruh penjuru negeri dari perbuatan sihir, terutama dengan merampas berbagai buku ajaran sihir yang banyak dikumpulkan oleh tukang-tukang tenung. Kemudian buku-buku itu ditanam di bawah singgasana kerajaan beliau (sayangnya tidak dibakar). Namun apa lacur ketika beliau telah wafat, para jin memberi tahu kepada manusia bejat bahwa buku-buku sihir mereka terpendam dengan utuh di bawah singgasana kerajaan. Maka dengan berbondong-bondong manusia tidak bermoral itu menggali lagi buku-buku tersebut sehingga berhasil mengeluarkan keseluruhannya. Malah akhirnya marak sebuah opini bahwa keberhasilan nabi Sulaiman dalam memerintah itu dengan bantuan berbagai ilmu sihir yang tercantum dalam buku-buku yang telah mereka gali. Sehingga masyarakat Yahudi hanya mengenal beliau sebagai raja (King of Solomon) sebagaimana ayahnya(King of David). Hal inilah yang menyebabkan Allah tidak terima jika seorang hamba pilihan dituduh dengan perbuatan yang bukan-bukan. Maka dengan kebijaksanaan-Nya diturunkan ayat di atas tadi sebagai pemulihan nama baik. Memanglah beliau memahami berbagai ucapan burung dan binatang-binatang yang lain, dan rakyatnya bukan saja terdiri dari bangsa manusia, namun jin-jin dan syetan patuh dan tunduk di hadapannya, sehingga beliau sendiri pernah berdo’a:
Ia mengatakan: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan karuniakan kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi (Shad: 35).
Dikisahkan bahwa pada suatu ketika beliau mengutus seorang ifrit dari bangsa jin untuk mengadakan pemeriksaan bersama beliau mengenai aktivitas masyarakat di sebuah pasar. Beliau itu juga diikuti oleh beberapa pengawal yang terdiri dari bangsa manusia agar hasil inspeksinya dapat dipertanggung jawabkan. Namun ketika telah sampai di pasar itu, ifrit segera mendongakkan kepala ke atas, kemudian mamandang begitu lama kepada orang-orang pasar itu, lantas menggeleng-gelengkan kepada sebagai tanda takjub.
Segera saja beliau mengatakan:
“Ada apa kau menggelengkan kepala!”.
“Aku begitu takjub mengenai kesigapan para malaikat yang begitu cepat menuliskan apa yang dikatakan oleh para manusia. Lebih takjub lagi betapa cepat pula mulut-mulut manusia itu membacakan apa yang dituliskan para malaikat”.begitu jawab ifrit.
Apa saja yang kita perbuat, seluruhnya akan ditulis oleh dua orang malaikat.dan nanti kita mesti harus mempertanggung jawabkan kesemuanya. Dengan demikian akan lebih baik kita mencermati apa yang telah dikatakan Rasulullah Saw.
“Sungguh bahagia mereka yang bisa menahan ucapan yang berlebih dan menyedekahkan harta mereka yang berlebih”
(HR. Al-Bazzar dari Anas bin Malik).
Begitu pula dikisahkan bahwa ketika nabi Isa As mengembara, tiba-tiba saja di depannya melintas seeokor babi. Ketikka itulah beliau mengatakan:
“Segeralah kau melintas dengan aman dan membawas keselamatan”
Para pengikut beliau merasa takjub atas ucapan yang begitu halus terhadap binatang kotor itu.
“Mengapa tuan berkata begitu hormat terhadap bintang buruk itu?” tanya para pengikutnya.
“Aku takut jika saja berucap kotor, maka akan terbiasa pula berucap kotor pada saat-saat yang lain”. demikian jawab nabi Isa.
Semoga bermanfaat.

o0o

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar