Kamis, 31 Desember 2009

Ummul Mukminin berhadapan Nenek Sihir

Ketika menjelang terbenam matahari, ‘Aisyah beristirahjat di rumah Sejenak kemudian datanglah seorang wanita tua bersilatur rahmi padanya. Setelah dipersilahkan duduk, wanita itu lantas bertanya :
“Wahai Ummul Mukminin !, saya sebagai seorang nenek sihir, apakah masih ada kesempatan untuk bertaubat bagiku ?.”
“Oh begitu, sebaiknya dilihat dulu bagaimana bentuk sihirmu itu.” sahut ‘Aisyah.
“Begini Ummul Mukminin, pada suatu hari aku berkunjung ke tempat Harut dan Marut untuk mempelajari ilmu sihir. Maka segera saja keduanya menasehati diriku dengan mengatakan :
“Wahai hamba Allah, janganlah kau memilih siksa Allah yang abadi hanya karena memburu kenikmatan dunia yang sebentar ini.”
Ketika itu tidak kuperhatikan lagi nasehat itu, sebab memang niatku dari rumah sudah bulat untuk mempelajari ilmu spektakular itu sampai mahir, apapun bentuk dan macamnya. Setelah kedua malaikat itu mengetahui sikapku, mereka lantas mengatakan :
“Kalau begitu pergilah ke gundukan pasir itu, kencinglah kau di sana.”
Dengan segera aku menuju sebuah gundukan pasir dan berusaha untuk kencing di sana, namun tiba-tiba saja pikiranku berubah hingga tidak jadi melakukan kencing, malah aku segera kembali ke tempat Harut dan Marut. Kemudian dengan bohong aku mengatakan :
“Aku telah kencing di sana.”
“Kau melihat apa di sana ?.” begitu tanya kedua malaikat itu.
“ Aku tidak melihat apapun jua.” kataku berdusta lagi.
Namun ketika itu pikiranku berobah lagi, ingin rasanya aku menguasai segala ilmu sihir. Maka sekali lagi aku mengatakan pada kedua malaikat itu :
“Aku betul-betul ingin mendalami ilmu sihir itu, mengapa tidak juga bisa ?.”
“Takutlah ibu kepada Allah, jangan sampai hidup yang sekali ini menghamba kepada syetan dengan melakukan sihir yang begitu dimurkai Allah.” begitu keduanya menasehatiku sekali lagi.
“Tidak, aku tetap ingin memiliki ilmu sihir yang sangat kudambakan.” sahutku.
“Kalau ibu tetap nekad, pergilah sekarang jua ke gundukan pasir tadi dan kencinglah di sana.” keduanya menjawab seakan sudah merasa patah arang karena nasehatnya tidak dihiraukan lagi.
Dengan segera aku pergi lagi ke gundukan pasir tersebut dan melakukan kencing di sana. Maka ketika itulah aku melihat siluet dan bayangan seorang yang menunggang kuda bertopi baja seakan keluar dari kemaluanku laantas naik ke langit. Betapa terkejutku sehingga secepatnya aku berlari tanpa membetulkan kainku menuju tempat Harut dan Marut seraya aku jelaskan mengenai kejadian yang baru saja aku alami. Maka segera saja keduanya mengatakan :
“Penunggang kuda itu merupakan wujud imanmu yang sekarang telah keluar dari tubuhmu. Sekarang secara langsung kau betul-betul sudah pandai untuk menjalankan sihir, ibu.” demikian kata kedua malaikat itu.
“Bagaimana caranya.” tanyaku.
“Jika saja ibu bermaksud mempunyai suatu barang, maka cukuplah ibu membayangkan dalam angan, barang itu mesti bakal berada di depan ibu.” sahut malaikat lagi.
Segera saja aku mencoba membayangkan biji gandum dalam anganku, ternyata dalam sekejap saja biji itu telah terwujud di depanku. Kemudian aku mengatakan :”tumbuhlah”, seketika itu ia tumbuh begitu subur hingga keluar tangkai dan bunga yang mekar menakjubkan, lantas berbuah dalam sekejap. Kemudian aku mengatakan lagi ”jadilah tepung.” Maka seketika itu juga ia menjadi tepung. Lantas ku katakan pula “ sekarang jadilah roti” maka segera saja menjadi roti. Pendeknya setiap apa saja yang aku mau kemudian aku bayangkan dalam pikiran, semuanya mesti terlaksana dan terwujud seketika, mudah kan !.
“Sekarang bagaimana taubatku itu, wahai Ummul Mukminin.” tanya nenek sihir lagi.
“Ibu selamanya tidak akan diterima taubatnya.” jawab ‘Aisyah begitu tegas.
Kemudian si ibu tadi segera beranjak meninggalkan Ummul Mukminin untuk pulang ke rumah dengan tanpa menghasilkan maksud (taubat) yang akan menghelanya menuju ridha Allah.
Itulah resiko mempunyai ilmu sihir. Kemudian bagaimana syari’at menghadapi ilmu terkutuk itu. Marilah kita periksa tindakan seorang shahabat terhadap mereka yang menjalankan sihir.
Pada suatu pagi yang cerah, sebuah pasar desa telah begitu ramai dikunjungi berbagai lapisan masyarakat dengan hiruk pikuknya yang khas. Ketika itulah ‘Amir Adz-Dzahabi menyaksikan pagelaran sihir spektakular beserta Al-Walid bin ‘Uqbah. Pada sesi pertama, seorang tukang sihir berjalan di atas tali yang dibentangkan. Para hadirin segera bertepuk tangan kegirangan melihat kejadian ganjil ini, riuh rendah dan tepuk tangan begitu gegap gempita menambah kebanggaan si tukang sihir itu.
Kemudian pada sesi selanjutnya tali itu dimasukkan ke dubur keledai hingga ditarik dari arah depan melalui mulutnya. Kebetulan saja shahabat yang bernama Jundab juga menyaksiakan pagelaran itu. Ketika itulah dia segera menghunuskan pedang kemudian si tukang sihir itu langsung ditebasnya hingga tewas berkalang tanah. Dengan adanya kejadian tragis ini mereka yang menyaksikan langsung bubar dan lari lintang pukang tidak menentu arah.
Shahabat tegas itu nama lengkapnya Jundab bin Ka’ab Al-Azdi. Ketika Rasulullah Saw. Masih hidup pernah memprediksi bahwa dalam ummatnya nanti akan ada seseorang yang bernama Jundab, dimana jika saja dia menebaskan pedang maka antara hak dan batil akan segera terpisahkan. Ternyata para shahabat yang telah mendengar sabda itu menyaksikan sendiri. Jundab telah menghukum seorang tukang sihir dengan menghabisi nyawanya.
Begitu berat konsekuensi perbuatan sihir ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar