Senin, 04 Januari 2010

Abdul Wahid Dan Bikshu

Dikisahkan pula oleh Abdul Wahid bin Zaid bahwa pada suatu hari ia melintasi sebuah kampung yang dihuni orang-orang Cina. Ketika itulah ia menjumpai sebuah Vihara yang dihuni para Bikshu. Maka segera saja Abdul Wahid memanggil mereka. Namun sampai beberapa lama tidak ada sebuah jawaban. Panggilan itu diulanginya lagi sampai tiga kali. Baru pada kali yang keempat muncul seorang Bikshu dari sebuah pintu seraya langsung mengatakan.
“Wahai saudaraku, kami bukanlah seorang Bikshu. Yang dinamakan Bikshu adalah mereka yang selalu merasa takut kepada Tuhan, selalu menghormati keagungan-Nya dan selalu sabar terhadap berbagai ujian-Nya, ridha pula mengenai segala apa yang menjadi keputusan-Nya, di samping memuji berbagai karunia-Nya dan bersyukur terhadap segala kenikmatan yang telah diberikan-Nya, kemudian merendah di haribaan kemuliaan-Nya dan pasrah pada kekuasaan-Nya serta memikirkan mengenai berbagai siksaan-Nya.
Dengan demikian ia akan selalu berpuasa di siang hari dan akan tekun beribadah di malam hari. Ingatan mereka kepada neraka telah menjadikannya tidak bisa memicingkan mata, ditambah dengan berbagai do’a yang harus dipanjatkan kepada-Nya. Itulah aktivitas seorang Bikshu.
Adapun kami bukanlah sebagaimana apa yang kau perkirakan itu. Malah kami akan lebih pantas kau sebut sebagai anjing-anjing kurap dan galak yang memasuki Vihara ini agar masyarakat tidak terluka oleh perbuatan kami,” begitu penjelasan Bikshu itu dengan panjang lebar.
“Kalau begitu, wahai Bikshu, apa saja yang menyebabkan seseorang terjauh dari pandangan Allah?,” tanya Abdul Wahid seakan mendapat kesempatan.
“Wahai saudaraku, sebenarnya tidak ada yang memutus pertalian seorang makhluk dengan Allah terkecuali tersebab mereka begitu dimabuk keduniaan dan segala perhiasannya, sebab pada dasarnya dunia merupakan tempat kemaksiatan dan dosa. Dengan demikian seorang yang cerdas, akan segera melemparkan keduniaan itu lantas bergegas untuk bertaubat kepada Allah dari segala dosanya. Dan ia melaksanakan apa pun yang menyebabkannya bisa dekat kepada Allah,” begitu nasehat Bikshu itu.
Mendengarkan nasehat seperti ini, hati Abdul Wahid seakan disiram salju - begitu menyejukkan. Kemudian ia berpamitan dengan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.

■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar