Senin, 04 Januari 2010

Ketika Umar bin Abdul Aziz Sakit

Sebuah rombongan pada suatu hari memasuki kerajaan Bani Umayah untuk menjenguk Baginda Umar bin Abdul Aziz yang sedang sakit. Dan ketika telah dipersilahkan masuk istana, mereka segera mendekati Baginda yang sedang berbaring lemah di sebuah kastil. Namun yang lebih menarik perhatian Baginda, dalam rombongan itu ada seorang pemuda yang sangat kurus, dengan mata yang cukup cekung dan sangat bersahaja.
“Mengapa kau begitu kurus, wahai pemuda. Adakah kau terserang suatu penyakit menahun atau kesehatanmu sendiri tidak begitu kau perhatikan,” begitu tanya Baginda kendati sedang sakit.
“Memang aku terlanda sakit yang tidak pernah sembuh sampai sekarang, wahai Baginda,” jawab pemuda itu.
“Demi Allah, menjawablah dengan benar, sebab aku sendiri sebenarnya telah melihat kelainan pada dirimu. Rasa-rasanya kekurusanmu itu bukan tersebab sakit. Mengakulah wahai pemuda,” desak Baginda lebih lanjut.
“Wahai Baginda, selama ini aku telah didera merasakan pahitnya keduniaan, malah seluruh kemegahannya akan sangat hina dalam pandanganku, sehingga debu dan bebatuan akan sama saja dengan emas dan permata. Pada segi yang lain aku seakan begitu dekat dan melihat sendiri terhadap Arsy Allah, seakan dengan mata telanjang, ketika itu seluruh manusia dihela menuju surga atau neraka. Untuk menanggulangi penderitaan yang bakal aku hadapi, mulai sekarang aku selalu berjaga di malam hari dan selalu berpuasa di siang hari, dan sangat sedikit aku menjalani tidur. Semua itu masih aku anggap sangat kecil jika saja dibanding dengan pahala Allah yang telah disediakan untukku,” begitu pemuda itu menuturkan sehingga dengan tidak tersadar air mata Baginda telah menetes membasahi bantal di bawah kepalanya.
“Memang benar apa yang kau katakan itu semua. Kalau begitu teruskanlah rangkaian ibadahmu itu,” sambung Baginda lebih lanjut.
Abu Nu’aim mengatakan bahwa Syeikh Daud Ath-Thaiy tidak pernah makan nasi atau makanan lain yang harus dikunyah. Ia hanya mengkonsumsi bubur lembut dan sejenisnya yang tidak perklu dikunyah. Maka Abu Nu’aim bertanya mengenai kebiasaan yang aneh itu.
“Jeda waktu untuk mengunyah dan menyedot bubur itu, aku hitung sudah bisa untuk membaca Al-Qur’an lima puluh ayat,” begitu jawabnya.
“Masya Allah, betapa jeli Tuan mempergunakan umur sehingga tidak ada waktu satu jam pun yang akan tersia-siakan tanpa beribadah kepada Allah.”
“Memang umur merupakan modal pertama untuk menangguk segala pahala”. begitu sambung Syeikh Daud.
Begitu pula pada suatu hari, Syeikh Daud diberi kabar bahwa kayu bandar sebagai penjangga atap rumahnya telah keropos dimakan usia. Maka dengan halus dia mengatakan:
“Wahai anak saudaraku, sejak dua puluh tahun belakangan ini aku tidak pernah melihat ke arah atas.”
Sebuah jawaban yang sangat aneh. Hal ini berpangkal pada sebuah prinsip ulama salaf bahwa mereka akan menahan pandangan yang dirasakan berlebihan sebagaimana mereka juga menahan ucapan yang berlebihan.


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar