Minggu, 03 Januari 2010

Aisyah, sang Wanita Astronom

Thalhah bin Ubaidillah adalah salah satu sahabat Rasulullah Muhammad Saw. Ia termasuk satu dari sepuluh sahabat yang dijanjikan masuk surga oleh Allah SWT. Ia adalah seorang pemberani yang selalu hadir dan menemani Rasul dalam setiap peperangan.
Thalhah juga seorang kaya harta yang dermawan. Ia pernah dengan rela menyembelih untanya untuk kaum Muslimim ketika perang Tabuk berkecamuk, dimana saat itu kaum Muslimin sedang kelaparan. Ia seorang yang rajin menuntut ilmu dan telah meriwayatkan 38 hadist dari Rasulullah Muhammad saw. Thalhah bin Ubaidillah meninggal pada tahun 36 Masehi karena terbunuh. Ia terkena panah musuh saat perang Jamal terjadi.
Sang istri, Ummu Kultsum menjadi seorang istri sekaligus ibu yang tegar dan mampu menyembunyikan kesedihan hatinya dari tatapan seorang gadis kecil yang tidak mengetti akan kematian ayahnya. Dengan kekuatan cinta, sang ibu membesarkan gadis kecil itu. Diberinya lingkungan yang bak, juga pendidikan dan kesejahteraan yang cukup. Apalagi sang ibu memang berasal dari keluarga yang baik Ummu Kultsum adalah salah satu anak Abu Bakar bin Shiddiq, sahabat mulia Rasulullah.
Selang beberapa tahun setelah kematian Thalhah bin Ubaidillah, gadis kecil itu telah menjadi wanita yang terkenal karena kecantikannya dan kebaikan budinya, juga kecerdasannya. Aisyah binti Thalhah adalah nama gadis kecil itu.
Masa kecilnya ia lalui tidak hanya dengan ibunya, tapi dalam asuhan bibinya, Aisyah binti Abu Bakar, istri Rasulullah Muhammad Saw dan Asma' binti Abu Bakar, wanita yang memiliki dengan “dua ikat pinggang."
Sejak kecil ia sudah terbiasa melihat banyak ulama dan orang-orang besar datang kepada Aisyah binti Abu Bakar untuk menimba ilmu hadis dan fiqih. Ia tidak hanya menjadi keponakan, tapi juga menjadi murid Aisyah binti Abu Bakar. Karena belajar langsung dari sumbernya, Aisyah binti Thalhah mewarisi banyak ilmu. Ia menjadi pakar sastra, sejarah Arab, syair-syair, juga ilmu astronomi.
Kecerdasan Aisyah telah membuat kagum Hisyam bin Abdul Malik, khalifah dari dinasti Bani Umaiyah. Kala itu musim kemarau dan sultan sedang bertindak zalim, Aisyah mendatangi Hisyam bin Abdul Malik. Khalifah terkejut dengan kedatangan Aisyah dan menanyakan maksud kedatangannya. Aisyah pun berkata:
"Wahai Amirul Mulkminin, langit menahan hujan dan sultan menahan hak, karena itu aku datang kepadamu," begitu ia megatakan kebenaran dengan berani.
Khalifah mengagumi keberanian Aisyah dan menghargainya. Malam itu ia mengundang para tetua dari Bani Umaiyah untulk berbincang dan menjelaskan kedatangan Aisyah binti Thalhah. Jadilah malam itu para tetua berkumpul dan mendengarkan Aisyah berbicara. Aisyah membincangkan banyak hal, terutama masalah astronomi. Hisyam bin Abdul Malik juga para tetua yang hadir semakin mengagumi kecerdasan Aisyah. Khalifah bertanya dari mana Aisyah belajar ilmu tersebut? Lalu Aisyah binti Thalhah bercerita bahwa sumber ilmunya selama ini adalah Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq, istri Rasulullah Muhammad Saw. Aisyah binti Thalhah juga memuji kecerdasan yang dimiliki oleh bibinya itu.
Karena kekagumannya, Hisyam bin Malik menghadiahkan Aisyah uang seratus dirham, memenuhi seluruh keperluannya, dan memulangkannya ke Madinah dengan sangat mulia dan terhormat.
Aisyah binti Thalhah wafat pada tahun 101 Hijriah. Rasanya, kecerdasan dan keberanian Aisyah binti Thalhah wajib kita warisi, Apalagi bila itu untuk kebenaran dan kemaslahatan umat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar