Minggu, 03 Januari 2010

Berjalan di atas Hamparan Mutiara

Fatih mengatakan: “Aku termasuk seorang yang berdiam di Makkah cukup lama, dimaana pada suatu kesempatan uangku cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga aku berkeinginan untuk menyedekahkan yang sebagiannya. Kebetulan sekali pada suatu hari aku mendengar suara seorang fakir yang telah selesai menjalankan thawaf yang mengatakan:
Aku lapar sebagaimana yang Engkau lihat
Ku telanjang sebagaimana yang Kau lihat.
Apa yang baik menurut yang Engkau lihat.
Wahai Yang Melihat dan tidak pernah terlihat.
“Kemudian aku,” kata Fatih lebih lanjut, “Melirik si fakir tersebut sedang membenahi dua helai pakaian dekil yang membalut tubuhnya namun tidak sempurna. Segera saja hatiku mengatakan:
“Sekarang merupakan kesempatan yang bagus untuk bersedekah!”
Ketika itulah aku menjulurkan uang dirham yang cukup banyak kepadanya, namun anehnya, ia hanya mengambil yang lima dirham.
“Yang empat dirham akan aku belikan dua helai kain yang akan aku kenakan. Sedangkan yang satu dirham akan aku pergunakan untuk keperluan diriku, dan yang selebihnya aku tidak membutuhkan. Untuk itu terimalah kembali sisanya yang lebih banyak ini,” begitu si fakir mengatakan.
“Setelah aku terima kembali,” kata Fatih lebih lanjut, “Sisanya yang lebih banyak itu, maka segera aku bagikan kepada orang-orang fakir yang lain. Kemudian aku segera kembali ke tempatku lagi.
Esok malamnya, aku melihat lagi pada si fakir kemarin, ketika itu ia telah mengenakan dua pakaian yang baru. Melihat pemandangan itu, hatiku begitu puas. Setelah aku menoleh, segera saja si fakir itu meraih lenganku seraya mengajakku untuk berthawaf. Anehnya, segera saja tempat thawaf itu menurut penglihatanku telah berubah menjadi hamparan mutiara, emas dan perak yang bersuara berisik ketika terinjak kaki sampai sebatas lutut, mengagumkan memang. Dan yang tahu hanyalah dia dan aku, orang lain sama sekali tidak menyadari. Pada kesempatan ini si fakir itu mengatakan:
“Sebenarnya aku telah ditawari untuk membawa semua ini, tetapi aku tidak menghiraukan. Malah aku lebih senang mendapatkan kebutuhan hidupku dari pemberian orang. Barang-barang berharga ini merupakan beban yang akan memberatkan diriku, salah-salah menjadi fitnah. Lain dengan pemberian orang, di mana di balik itu mengandung belas kasihan kepada mereka, disamping akan sebagai nikmat pula.” begitu si fakir itu mengastakan.
Dengan demikian, mendapatkan harta melebihi kadar kebutuhan, pada lazimnya akan menjadi bencana dan fitnah. Karena Allah bermaksud melihat, bagaimana diri kita mempergunakannya. Akan lain dengan harta yang sekedar untuk menutup hajat, sehingga datangnya rizki akan dianggap sebagai belas kasih-Nya. Dengan demikian janganlah kita terlena untuk bisa membedakan antara yang menjadi belas kasih Allah dan yang menjadi bencana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar