Senin, 04 Januari 2010

Akhir Hayat si Penggali Mayat

Pada suatu hari Umar bin Khathab memasuki rumah Rasulullah dalam keadaan menangis.
“Gerangan apa yang menyebabkan Anda menangis, wahai Umar,” tanya Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, di depan pintu ada seorang pemuda yang kondisinya betul-betul memprihatinkan. Apa yang ia ceritakan membuat hatiku pilu, dia terus menerus menangis dan tidak dapat aku hibur,” begitu Umar mengadukan.
“Wahai Umar, alangkah baiknya jika dia kau suruh masuk kemari, siapa tahu hatinya akan terobati,” sahut Rasulullah.
Sejenak kemudian, Umar telah menyuruhnya masuk dan dipersilahkan duduk di samping Rasulullah Saw. hingga terjadi dialog antara keduanya.
“Siapa namamu?, tanya Rasulullah.
“Saya. saya … Mudznib, ya Rasul.”
“Gerangan apa yang menyebabkan kamu menangis, wahai pemuda?.”
“Begini, ya Rasulullah, saya telah melakukan dosa yang besar sekali hingga aku sendiri begitu takut membayangkan siksa akhirat yang akan aku terima nanti,” jawab Mudznib.
“Adakah kau menyekutukan Allah?,” tanya Rasulullah.
“Tidak, tidak pernah aku berbuat begitu,” sahut pemuda itu.
“Adakah kau pernah membunuh seseorang dengan tanpa alasan yang benar,” tanya Rasulullah lagi.
“Juga belum pernah,” jawab pemuda itu.
“Allah masih bisa mentolelir dosamu itu kendati sepenuh tujuh langit dan tujuh bumi dan ditambah semisal gunung yang tertancap di muka persada ini,” sabda Rasulullah.
“Dosaku lebih besar lagi dari pada langit, bumi dan gunung yang baginda sebutkan itu, ya Rasulullah,” tandas pemuda itu.
“Adakah dosamu lebih besar dari pada Kursi Allah?,” tanya Rasulullah lagi.
“Dosaku masih lebih besar lagi wahai Rasulullah,” jawab pemuda itu.
“Adakah dosamu lebih besar dari pada ‘Arsy Allah?,” tanya Rasulullah.
“Bahkan dosaku masih lebih besar dari pada Arsy Allah,” jawabnya lagi.
“Adakah dosamu lebih besar dari pada rahmat Allah selaku Tuhanmu?” tanya Rasulullah.
“Saya kira akan lebih besar rahmat Allah,” tukas pemuda itu.
“Sesungguhnya tidak akan ada yang mampu mengampuni dosa-dosa besar selain hanya Allah. Dia Yang Maha Besar, besar pula ampunan-Nya,” sambung Rasulullah.
“Bolehkah saya tahu, apakah dosamu itu,” tanya Rasulullah lagi.
“Saya sangat malu untuk menceritakannya wahai Rasulullah,” tukas pemuda itu.
: “Sekarang ceritakan saja, apa dosamu itu,” tegas Rasulullah.
Kemudian pemuda itu menceritakan:
“Wahai Rasulullah!, selama tujuh tahun ini saya telah melakukan perbuatan durjana, yaitu jika saja ada seseorang yang mati, maka akan kugali lagi kuburnya untuk kuambil kafannya. Namun pada suatu ketika matilah seorang gadis dari kaum Anshar. Begitu dia dikuburkan, malamnya langsung aku bongkar kuburnya dan aku keluarkan dia lalu kuambil kafannya. Sejenak kemudian aku pun beranjak untuk pergi meninggalkannya, namun syetan berhasil meniupkan rayuannya kepadaku. Maka aku pun kembali mendekati gadis itu lagi lalu kusebadani beberapa kali. Dan setelah puas, dia kugeletakkan begitu saja. Namun belum sampai aku beranjak jauh, mayat gadis itu bangkit berdiri tegak seraya berteriak:
“Celakalah kau wahai biadab!, adakah kau tidak malu terhadap Yang Maha Membalas, ketika Dia nanti menaruhkan Kursi-Nya untuk memutus keadilan bagi orang-orang yang teraniaya terhadap mereka yang menganiaya. Apalagi kau tinggalkan aku dalam keadaan telanjang berkumpul dengan kawan-kawanku yang telah mati. Dan kau biarkan aku dalam keadaan berhadats mengahadap Allah Azza wa Jalla,” begitu pemuda itu menuturkan ceritanya.
Demi mendengarkan cerita ini, Rasulullah tersentak sampai terpental dari tempat duduknya kemudian memegang kuduk pemuda itu seraya bersabda:
“Celaka kau, betapa rakusmu untuk memasuki dan memakan api neraka. Keluarlah dan menjauhlah dariku dengan segera agar tidak ada siksaan yang akan ditimpakan Allah ditempat ini.”
Dengan hati yang remuk redam, akhirnya pemuda itu tadi pun segera beranjak pergi. Seakan langit lebih baik runtuh menimpa dirinya, lebih baik bumi menelannya hidup-hidup. Tidak ada harapan bahagia lagi di dunia, masa depan akhirat pun begitu kelam. Namun dia punya satu keyakinan: “ Semoga taubatnya diterima Allah SWT.” Selanjutnya dia terus berlari ke sahara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ditinggalkan anak bininya, dia terus berkelana empat puluh hari empat puluh malam seraya menyesali seluruh perbuatannya. Dan setelah malam terakhir itulah dia berani mendongakkan kepalanya ke langit seraya mengadukan nasibnya kepada Allah:
“Wahai Tuhan Nabi Muhammad, Tuhan Nabi Adam dan Hawa, aku bertaubat kepada-Mu, ya Allah. Betapa hina hambamu ini, hamba yang penuh beban dosa. Namun hamba akan sanggup menerima apa pun hukuman yang akan Engkau timpakan di dunia ini. Sekali lagi aku bertaubat atas segala dosa itu kepada-Mu, kemudian jikalau taubatku ini Engkau terima, aku mohon agar Engkau memberi tahu terhadap Nabi-Mu beserta para shahabatnya. Dan bila Engkau tolak, kiranya akan lebih baik jika Engkau kirim saja api dari langit yang akan membakarku. Namun pintaku, hendaklah diri ini jangan Engkau bakar di akherat dengan neraka-Mu. Engkau Maha Pemurah ya Allah,” begitu rintih si Mudznib itu
Disaat itulah Jibril As datang kepada Rasulullah Saw seraya bersalam kemudian mengatakan:
“Allah membacakan salam sejahtera untukmu wahai Rasulullah,” begitu Jibril membuka percakapan.
“Memang Dia yang memberi keselamatan, dan dari-Nya pula kesejahteraan kemudian pada akhirnya seluruh yang ada ini akan kembali kepada-Nya,” sahut Rasulullah.
“Allah bertanya: Adakah Anda yang menjadikan makhluk?,” kata Jibril.
“Bahkan Dia yang telah menjadikanku dan menjadikan mereka,” jawab Rasulullah.
“Adakah Anda yang memberi rizki mereka?,” tanya Jibril lagi.
“Bahkan Allah yang memberi rizki kepadaku dan kepada mereka,” jawab Rasulullah.
“Adakah anda yang menerima taubat mereka,” cecar Jibril lagi.
“Bahkan Allah yang menerima taubatku dan taubat mereka,” jawab Rasulullah yang telah menyadari arah pembicaraan.
“Allah telah mengatakan: Hendaknya anda segera menerima taubat seorang pemuda dimana pada beberapa waktu yang lalu telah anda usir, Allah telah menerima taubatnya,” lanjut Jibril.
Kemudian Rasulullah segera memanggil para shahabat untuk mencari pemuda itu. Dan setelah diketemukan, dia pun segera diajak untuk menghadap Rasulullah serta diberi kabar sedikit tentang nasib dirinya yang akan diterima baik. Dan ketika telah menghadap Rasulullah itulah beliau memberi kabar gembira bahwa Allah telah menerima taubatnya. Maka segera saja pemuda itu bersujud syukur atas segala karunia yang telah diterimanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar