Senin, 04 Januari 2010

Semut-semut Abadan

Syeikh Bisyr Al-Hafi mengatakan:
“Pada suatu hari aku pergi ke Abadan. Tiba-tiba saja di tengah jalan aku bertemu dengan seorang lelaki yang menderita kusta, pingsan dan buta sekalian. Ia tampak tidak sadarkan diri dengan terlentang dikerumuni semut. Perasaanku betul-betul tersentuh sehingga segera saja aku mendekatinya, kemudian aku angkat kepalanya dan aku taruhkan di pangkuanku. Untuk menggugah kesadarannya, aku berusaha mengajaknya bicara banyak-banyak. Namun setelah ia sadar segera saja dari mulutnya meluncur:
“Siapa yang menjadi penghalangku ini, mengapa ada sekat antara aku dan Tuhanku. Kendati Dia akan memotongku sedikit demi sedikit, semua itu tidak akan mempengaruhiku terkecuali bertambahnya cintaku kepada-Nya dengan bertahap pula.
Ketika itulah Bisyr baru menyadari bahwa pertolongan yang diberikan pada seseorang itu belum tentu tepat sasaran, sehingga ia bergumam:
“Seseorang yang tampak sebagai penyandang penderita, ternyata batinnya belum tentu menderita. Bahkan banyak pula mereka yang dari luar tampak bahagia, namun batinnya menjerit menahan derita yang tidak ada akhirnya.”
Dikisahkan pula bahwa pada suatu hari Sa’ad bin Abi Waqash datang ke Makkah. Ia merupakan figur yang berwibawa dan sangat mustajabah do’anya, namun telah buta. Ketika itu pula banyak orang yang bertandang untuk memohon berkah dari do’anya. Dengan ikhlas Sa’ad melayani mereka satu persatu sampai akhirnya.
Seseorang yang bernama Abdullah bin Saib yang belum dewasa juga segera mendekat padanya dan mencoba untuk memperkenalkan diri. Anehnya Sa’ad segera mengenalinya, malah mengatakan:
“Adakah kamu sebagai pembaca Al-Qur’an Makkah yang petah itu?,”begitu tanya Sa’ad.
“Betul kek, apa yang kakek katakan memang benar,” sahut Abdullah.
Kemudian segera terjadi berbincangan panjang antara keduanya, terutama mengenai ayah Abdullah sendiri yang ternyata masih saudara Sa’ad bin Abi Waqash. Dengan demikian Sa’ad merupaan pamannya. Dalam perbincangan itu Abdullah sempat bertanya:
“Wahai paman, engkau telah begitu banyak mendo’akan kebaikan pada orang lain, dan tampaknya do’a paman begitu mustajabah. Namun mengapa paman sendiri tidak pernah berdo’a agar mata paman disembuhkan Allah?,” sebuah pertanyaan yang mengejutkan.
Mendengar pertanyaan ini, Sa’ad hanya mengulum senyum, dan sejenak kemudian mengatakan:
“Wahai anakku, keputusan Allah yang telah diberikan padaku adalah lebih baik dari pada kesembuhan mataku sendiri.”
Mendengar jawaban ini Abdullah hanya bisa manggut-manggut keheranan.



■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar