Minggu, 03 Januari 2010

Kehidupan sang Faqih

Abdullah bin Abbas adalah salah satu tokoh yang lahir di dalam masa Islam. Ibunya adalah Ummu Fadhl Lubabah binti Harits, saudara kandung Maimunah binti Harits, isteri Rasulullah Saw. Ayahnya adalah Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah. Maka, Abdullah bin Abbas merupakan kemenakan sekaligus sepupu Nabi Saw.
Sejak kecil, Abdullah bin Abbas telah menunjukkan tanda-tanda kecerdasan yang luar biasa. Ia gemar bertanya, senang belajar dan tak segan untuk meminta penjelasan akan hal-hal yang tidak dimengertinya. Apa yang didengar dan diajarkan kepadanya mampu diserap dan diingatnya dengan baik. Tak heran, dalam usia masih sangat muda ia sudah banyak menghapal ayat-ayat Qur'an dan memahami pejelasan-penjelasannya.
Kecerdasan dan kehausan belajar Abdullah bin Abbas menjadi terpenuhi secara maksimal karena sejak kecil, ia biasa tinggal dan bermalam di rumah sepupu sekaligus pamannya, Muhammad Saw. Maka, ia pun menyerap ilmu Islam, hafalan Qur'an, tafsir, penjelasan hukum dan berbagai sunnah dari sumber pertamanya. Bukan sekali dua Abdullah kecil terlihat beriringan dengan Rasul dalam berbagai majelis ilmu dan shalat berjamaah. Abdullah melihat sendiri kehidupan mulia sang paman hingga ia mencintai sang paman dengan sepenuh hati dan begitu pula sebaliknya.
Pada suatu hari, sangat tengah berjalan bersama, Rasulullah berkata dengan penuh kasihnya kepada Abdullah: "Wahai anakku, maukah kamu dengarkan beberapa kalimat yang sangat berguna? Jagalah Allah SWT. (ajaran-ajarannya) maka engkau akan mendapatkan-Nya menjagamu. Jagalah Allah SWT. (dalam larangan-larangannya) maka engkau akan mendapatkanNya selalu dekat di hadapanmu. Kenalilah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam dukamu. Bila engkau meminta, mintalah kepada Allah, jika engkau memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Allah. Semua hal (yang terjadi denganmu) telah selesai ditulis. Ketahuilah, seandainya semua makhluk bersepakat untuk membantumu dengan apa yang tidak ditakdirkan Allah. untukmu, mereka tidak akan
mampu membantumu. Atau bila mereka bersatu menghalangi engkau memperoleh apa yang sudah Allah takdirkan bagimu, mereka juga tidak akan dapat melakukannya. Semua aktivitasmu, kerjakanlah dengan keyakinan dan keikhlasan. Ketahuilah, bersabar dalam musibah itu akan memberikan hasil yang positif dan bahwa kemenangan itu dicapai dengan kesabaran. Dan kesuksesan itu sering dilalui lewat cobaan berat dan bahwa kemudahan itu akan tiba setelah kesulitan" (HR Ahmad, Hakim dan Tirmidzi).
Begitupula, di saat yang lain, Rasulullah diketahui beberapa kali mendoakan Abdullah bin Abbas lewat perkataannya: Ya Allah, faqihkan, pahamkanlah ia dalam perkara agama-Mu dan ajarilah dia tafsir kitab-Mu. Maka, dengan bekal tarbiyah Rasulullah inilah Abdullah bin Abbas tak pernah lepas bergiat mencari ilmu, mengkaji dan memahaminya. Al-Qur'an dihafalnya dengan cepat dan ribuan hadits melekat erat dalam ingatannya berikut penjelasan dan pemahaman yang langsung didapatnya dari Rasulullah Muhammad Saw.
Ketika Rasulullah Saw wafat, Abdullah bin Abbas baru berusia 13 tahun. Namun ia terus menjalani hari-harinya untuk belajar Islam dengan mendatangi para sahabat dan sahabiyah untuk mengkaji uraian ayat atau hadits yang mungkin saja belum diketahuinya. Tak heran, Abdullah benar-benar menjadi seorang faqih di tengah masyarakat, sebagaimana doa Rasulullah, dalam usianya yang begitu belia.
Hari-hari Ibnu Abbas setelah itu banyak diisi dengan menjadi seorang guru dengan membentuk berbagai majelis tadzkir (pendidikan) termasuk di rumahnya. Dia aktif sebagai seorang da'i dan pernah pula menjabat sebagai gubernur kota Bashrah di zaman kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.
Dalam usia 71 tahun, Abdullah bin Abbas wafat. Para sahabat yang hadir menyaksikan betapa umur panjang ibnu Abbas benar-benar diisinya dengan penuh manfaat sejak semula hingga di akhir hayat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar