Senin, 04 Januari 2010

Cambuk Ajaib

Diriwayatkan dari seorang lelaki yang menjadi sahabat Ali bin Abu Thalib Ra. bahwasannya dia selalu menjadi makmum Ali ketika melaksanakan shalat maktubah. Pada suatu hari ketika telah selesai menjalankan shalat Shubuh, Ali segera beranjak pergi dengan rona wajah yang tampak begitu susah. Namun sekejap kemudian ia memasuki mihrab lagi dan menghadap Kiblat sampai matahari terbit. Kemudian ia membalikkan telapak tangannya seraya mengatakan:
“Aku telah menyaksikan sendiri mengenai sikap para shahabat Rasulullah Saw, dimana untuk era sekarang ini aku sudah tidak bisa lagi menyaksikan figur-figur seperti mereka. Rambut mereka akan tampak begitu kusut dengan wajah memucat ketika di pagi hari. Sebagian besar malam mereka untuk bersujud kepada Allah dan berdiri menjalankan shalat, di samping membaca Al-Qur’an sampai menjelang petang. Dan ketika mereka berdzikir, maka tubuh-tubuh mereka akan bergerak-gerak sebagaimana pepohonan yang diterpa angin kuat. Air mata mereka selalu mengalir sehingga pakaian yang dikenakan akan basah kuyup karenanya. Sedangkan pada era sekarang ini, ternyata masyarakat telah melalaikan begitu saja perilaku para shahabat itu.” begitu kata Ali.
Demikian pula apa yang dilakukan oleh Abu Muslim Al-Khaulani. Tampak di mushallanya sebuah cemeti yang digantungkan yang berfungsi untuk menakut-nakuti dirinya ketika berat untuk melaksanakan berbagai ibadah. Pada sekali waktu ia mengatakan pada dirinya sendiri.
“Wahai tubuh, berdirilah. Demi Allah, kau akan aku buat beribadah sampai tidak mampu berdiri lagi, namun biasanya ujung-ujungnya kau pula yang bosan terlebih dahulu, bukan saya.”
Dan ketika tubuhnya sudah berat untuk meneruskan peribadahannya, ia akan meraih cemeti itu kemudian betisnya sendiri disebat begitu rupa dengan mengatakan:
“Wahai nafsu, kau lebih utama aku beri pelajaran dengan berbagai sebatan ini dari pada binatang ternak tungganganku. Adakah kau berpendirian bahwa para shahabat Rasulullah saja yang rajin menjalankan ibadah, aku tidak perlu. Jangan begitu wahai badan. Demi Allah, kau akan aku buat untuk beribadah sekuat kemampuan sehingga arwah para shahabat Rasulullah mengerti bahwa di belakang mereka masih ada generasi yang menyambung perilaku mereka, bukan terputus begitu saja.


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar