Senin, 04 Januari 2010

Ibadah Uwais Al-Qarani

Dikisahkan oleh Rabi’, pada suatu hari ia menemui seorang tabi’in yang bernama Uwais Al-Qarani bertepatan ketika ia melaksanakan shalat Shubuh. Setelah itu ia duduk begitu panjang, kemudian Rabi’ juga segera duduk di belakangnya. Ketika itu Rabi’ bergumam:
“Aku tidak akan mengganggu tasbihnya.”
Aktivitas ini terus dilakukannya sapai waktu shalat Dhuhur datang. Kemudian Uwais pun bangkit untuk melakukan shalat Dhuhur. Setelah itu diteruskan lagi dengan berbagai shalat sunnah sehingga waktu Ashar tiba, maka ia pun menjalankan shalat Ashar. Kemudian diteruskan dengan duduk membaca tasbih sampai waktu Maghrib tiba. Dan setelah melakukan shalat Maghrib, ia tetap pada tempatnya sampai datang shalat Isya’, kemudian diteruskan lagi dengan membaca tasbih sampai datangnya fajar. Ia pun bangkit untuk menjalankan shalat Shubuh. Kemudian ia duduk meneruskan amalnya lagi. Namun ketika itu tampaknya kantuk tidak dapat ditahannya lagi. maka segera saja ia mengatakan :
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, semoga terjauhkan dari mata yang selalu mengantuk, terhindarkan pula dari perut yang tak pernah kenyang.”
Ketika itulah aku bergumam dalam hatiku:
“Pengetahuanku mengenai ibadahnya, sudah cukup sebagai cambuk diriku untuk lebih rajin lagi.”
Setelah penyaksian itu, aku pun segera beranjak pulang. Dan pada keesokan harinya aku bertandang lagi kepadanya. Ketika itu aku melihat tubuhnya laksana orang yang sedang sakit. Maka segera saja aku utarakan sebuah pertanyaan :
“Wahai Abu Abdillah, mengapa aku lihat tubuh Tuan tampak sebagaimana orang yang sedang sakit.?”
“Malah melebihi orang sakit,” kata Uwais, “Perut mereka masih kemasukan makanan, sedangkan perut Uwais seakan tidak pernah kemasukan makanan. Mereka masih bisa tidur, sedangkan Uwais tidak pernah tidur.”
Pernah pula seorang ahli ibadah mengintai peribadahan Ibrahim bin Adham. Lelaki itu mengatakan:
“Pada suatu malam aku ingin bertemu dengan Ibrahim bin Adham, beertepatan dia sedang melaksanakan shalat Isya’. Maka aku segera duduk agak jauh darinya untuk melihat peribadahan yang dilakukannya. Setelah menjalankan shalat, ia tampak membebat tubuhnya dengan sehelai selimut begitu ketat kemudian menghadap ke Kiblat dengan tanpa bergerak sampai fajar menyingsing sehingga dikumandangkan azan. Ketika itulah dia baru bangkit untuk menjalankan shalat Shubuh dengan tanpa berwudhu terlebih dahulu. Hal ini yang membuat hatiku tidak nyaman. Adakah dia menjalankan shalat fardhu dengan tidak berwudhu terlebih dahulu. Segera saja aku mengatakan:
“Semoga Tuan diliputi rahmat Allah. Bukankah tuan telah tidur sepanjang malam, namun mengapa ketika akan melaksakan shalat Shubuh tuan tampak tidak berwudhu terlebih dahulu?.”
“Semalam suntuk alam fikiranku aku pergunakan untuk menjelajahi seluruh pelosok surga kemudian aku beralih untuk menjelajahi seluruh pelosok neraka. Adakah yang demikian itu aku sempat untuk tidur!.”
Masya Allah, begitulah seorang figur yang seluruh hidupnya untuk mengabdi kepada Allah. Semoga kita bisa mengambil suri tauladan darinya. Amin.


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar