Senin, 04 Januari 2010

Darah Dan Air Mata

Seorang Abid pada suatu hari bertandang ke rumah Syeikh Fath Al-Moshuli, namun didapatinya Syeikh Fath sedang menangis begitu panjang sehingga air matanya tampak menetes di antara jari-jari tangannya. Dan setelah didekati, ternyata warna air mata itu sangat aneh, agak memerah – berarti dia menangis dengan bercampur darah.
“Demi Allah, Tuan menangis bukan dengan air mata lagi, namun telah bercampur darah. Apa penyebab semua itu, wahai Syeikh Fath?,” begitu tanya Abid.
“Jika saja kau tidak menyebut nama Allah, selamanya aku tidak akan mengaku, wahai Abid. Memang benar aku menangis air mata dan darah. Air mata itu untuk menyesali sebuah kewajiban Allah yang pernah aku tinggalkan. Sedangkan tangis darah adalah untuk memperkuat tangis air mata itu,” begitu jawab Syeikh Fath.
Setelah dia wafat, aku melihatnya dalam mimpi. Ketika itulah aku bertanya kepadanya.
“Bagaimana tindakan Allah terhadapmu, wahai Syeikh Fath?.”
“Dia telah mengampuni dosa-dosaku,” sahut Syeikh Fath.
“Khusus mengenai tangis darah itu, bagaimana tanggapan Allah,” sambung Abid lagi.
“Allah telah mendekatkan diriku kepada-Nya. Malah Dia bertanya kepadaku:
“Wahai Fath, mengapa kau menangis air mata.”
“Ya Allah, itu semua tersebab keteledoranku meninggalkan sebuah kewajiban yang Engkau bebankan kepadaku,” begitu aku menjawab.
“Mengapa disertai darah segala?,” sergah Allah kemudian.
“Sebab tangis air mata itu aku rasa belum cukup untuk menyesali kesalahanku,” sambungku.
“Kemudian apa maksud di balik semua itu, wahai Fath. Padahal kedua malaikat hafazhah yang selalu menuliskan seluruh amalmu, selama empat puluh tahun belakangan ini tidak pernah lagi menuliskan sebuah kesalahan yang kau perbuat. Sebab memang kau tidak pernah berlaku salah.” begitu penjelasan Allah lebih lanjut.
“Segala puji bagi-Mu, wahai Tuhan. Itu semua hanya kemurahan-Mu. Dalam arti jika saja aku tidak mendapatkan rahmat-Mu, diriku tidak pernah bisa terlepas dari berbagai kedurhakaan. Terima kasih wahai Tuhan,” begitu tukas Fath dalam mimpi si Abid.

■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar