Senin, 04 Januari 2010

Dua Pemuda Penghuni Benteng

Abu Abdillah Ibnu Khafif mengatakan :
“Pada suatu hari aku bepergian dari Mesir menuju Ramlah untuk menjumpai seorang sahabat yang bernama Abu Ali Ar-Raudzabari. Namun ketika itu pula Isa bin Yunus Al-Misri yang terkenal zuhudnya itu mengatakan kepadaku:
“Anda pergi ke kawasan yang begitu dekat dengan Benteng Shur di kawasan Syria. Di sana terdapat seorang paroh baya dan pemuda yang keduanya selalu berkumpul dalam satu sikap yang begitu dekat dengan Allah. Aku sarankan hendaklah kau singgah barang beberapa saat untuk melihat dengan mata kepalamu. Siapa tahu kau akan memperoleh manfaat dari keduanya.” begitu kata Isa bin Yunus.
Informasi sedemikian itu menambah semangatku untuk segera pergi menemui kedua orang itu terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Abu Ali. Maka setelah sampai di Syria aku pun menuju tempat yang dikataan oleh Yunus. Dan benar saja di sana aku segera memasuki sebuah masjid dan melihat dua orang yang sedang duduk menghadap Kiblat, kemudian aku mengucapkan salam dengan suara lembut. Namun setelah beberapa saat, keduanya tidak juga menjawab salamku. Aku ulang salam itu sampai tiga kali, namun keduanya tetap terdiam. Dalam keadaan seperti itu, aku segera mencari terobosan agar keduanya mau menjawab salamku:
“Aku bersumpah kepada Allah, hendaklah kalian menjawab salamku!,” begitu kalimat itu aku ucapkan dengan keras.
Tiba-tiba saja salah satunya yang masih muda mengatakan:
“Wahai Ibnu Khafif (aneh, belum berkenalan sudah tahu namaku), duniawi itu tinggal sedikit. Dengan demikian sisanya juga tinggal sedikit. Dari itu pergunakanlah sisa yang sedikit itu untuk menggapai pahala yang lebih banyak.”
“Wahai Ibnu Khafif,” lanjut pemuda itu lagi, “Betapa banyak waktu luangmu sehingga kau masih sempat untuk menemui kami.”
Namun segera saja pemuda itu memegang pundakku kemudian aku diajaknya duduk terpekur di situ pula. Aku hanya bisa memperturutkan keduanya sehingga datang shalat Dhuhur dan ‘Ashar. Anehnya ketika itu aku tidak lagi merasakan lapar. Maka ketika menjelang Maghrib, aku mengatakan:
“Wahai pemuda, berilah aku sebuah nasihat!.”
Segera saja pemuda itu mendongakkan kepalanya seraya mengatakan :
“Wahai Ibnu Khafif, kami merupakan figur-figur yang mencermati hikmah di balik musibah. Dengan demikian tidak akan ada sebuah nasihat yang akan kami sampaikan,” begitu jawab pemuda itu dengan singkat.
“Aku pun bersama keduanya sampai tiga hari dengan tanpa sesuap makanan dan seteguk air yang kami telan. Namun ketika menginjak hari yang ketiga, aku memaksakan diri untuk bergumam dalam hati:
“Aku bersumpah dengan nama Allah, berilah aku nasihat agar aku bisa mengambil manfaat darinya.”
Dengan segera pemuda itu mendongakkan kepala seraya mengatakan:
“Wahai Ibnu Khafif, bersahabatlah dengan orang yang ketika melihat sosok tubuhnya bisa mendorongmu untuk segera ingat kepada Allah, juga mengajakmu untuk takut kepada Allah. Ia hanya mau memberi nasehat dengan sikap, bukan dengan pengucap. Demikian pesanku terakhir, dan kau segeralah beranjak dari tempat ini, wassalam,” begitu ucapan pemuda yang terakhir.
Ibnu Khafif segera keluar dari masjid itu dengan ketakjuban yang tiada henti-hentinya. Kemudian apa yang telah disarankan kedua pemuda itu dengan semaksimal mungkin dilaksanakan dalam kehidupannya.



■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar