Senin, 04 Januari 2010

Wasiat Kepada Nabi Daud

Allah telah memberi wahyu kepada Nabi Daud :
“Wahai Daud, janganlah kau sekali-kali berharap dekat kepada-Ku dengan penghantar seorang ‘alim yang mabuk duniawi. Orang seperti itu malah akan menjauhkan dirimu dari-Ku. Mereka itulah rampok-rampok yang selalu menghalang seorang hamba untuk berdekatan dengan-Ku. Masalahnya jika saja sebuah hati itu telah ditutupi dengan rakus keduniaan, ia akan tertutup pula dari cahaya-Ku, karena sumber kebeningan hati itu berpusat dari kedekatannya dengan-Ku. Bagaimana hati akan menjadi bersinar jika saja selalu membelakangi cahaya Allah, dan malah merangkul musuh yang berupa syahwat keduniaan?.”
Ali bin Abi Thalib juga mengatakan:
“Hawa nafsu merupakan penyebab kebutaan hati. Akan termasuk mendapat pertolongan Allah jika saja seseorang berpikir panjang ketika dilanda kebingungan. Sebuah keyakinan yang mantap akan bisa menolak berbagai kesusahan, sedangkan berdusta akan membawa sebuah penyesalan pada akhirnya. Dan bersikap benar akan membawa keselamatan. Banyak terjadi sesuatu yang dikatakan jauh, namun tiba-tiba begitu dekat, bahkan lebih dekat dari apa saja yang selama ini dianggap dekat.
Yang dikatakan orang asing yaitu mereka yang tidak memiliki seorang pun yang dikasihi. Dan yang disebut kawan, yaitu mereka yang selalu menjaga rahasia karibnya. Janganlah sebuah sangkaan yang buruk itu menyeret pada kesenjangan antar sahabat. Sikap dermawan merupakan akhlak yang amat terpuji, sedangkan malu merupakan penyebab berbagai kebajikan.
Ketakwaan merupakan sebuah tali kebajikan yang sangat kuat. Dan sebaik-baik hubungan adalah hubungan seorang hamba dengan Tuahannya. Yang dikatakan harta bendamu yaitu apa yang kau pergunakan untuk membahagiakan dirimu ketika kau telah kembali ke pangkuan Allah.
Dan rizki itu ada dua macam, yaitu rizki yang kau cari dan rizki yang selalu mencari dirimu, sehingga jika saja kau tidak mencarinya, maka ia akan datang mencarimu. Jika kau sekarang berputus asa atas apa yang tidak bisa kau dapatkan, maka jangan berputus asa terhadap apa pun yang kau cita-citakan dalam masa yang akan datang, sebab pada biasanya seseorang akan bersuka cita jika memperoleh apa yang belum pernah diperolehnya, dan akan beduka bila tidak berhasil mengejar buruannya.
Bercerminlah dengan sejarah masa lalu, sebab orientasi sejarah yang akan datang tidak akan jauh berbeda dengan yang telah terjadi di masa lampau. Jangan terlalu gembira dengan keduniaan yang telah berhasil kau capai. Jangan pula keduniaan yang hilang itu kau ikuti dengan susah yang tak kunjung henti.
Hendaklah kau bahagia dengan kebajikan yang telah berhasil kau laksanakan, begitu pula bersusah hati dengan amal baik yang tidak berhasil kau jangkau. Curahkan kesibukanmu untuk memperkaya modal akhirat. Bersusahlah dalam menghadapi perihal yang akan kau temui setelah maut menjemput.”
Semoga penuh manfaat.

■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar