Senin, 04 Januari 2010

Kucing Guru I’tikaf

Seorang pemuda pada suatu pagi melintasi beberapa orang yang sedang latihan memanah, namun dilihatnya salah seorang duduk termenung menjauh dari kawan-kawannya yang sedang bersuka cita itu. Ternyata ia merupakan seorang yang begitu rajin beribadah (Abid). Maka si pemuda segera mendekati dan mengadakan perbincangan dengannya untuk mengusir kejenuhan. Maka si Abid itu pun segera menyergah:
“Aku sedang tidak bernafsu untuk berbicara, akan lebih baik aku selalu berzikir, ingat kepada Allah.”
“Kalau demikian lebih baik kau menyendiri!?,” sambung si pemuda.
“Aku akan selalu bersama Allah,” sahud Abid itu.
“Kalau begitu siapa yang akan menang di antara para kawanmu dalam perlombaan memanah itu,” tukas si pemuda lagi.
“Seorang yang bisa meraih ampunan Allah, ia yang akan menang,” tegas si Abid.
“Ya Allah, ternyata kebanyakan makhluk-Mu itu selalu lalai untuk mengingat-Mu,” begitu sambung si Abid itu lagi sehingga tawaran perbincangan dari pemuda itu tampak tidak mendapat sambutan dan gayung pun tidak bersambut.
Ada kisah yang lain lagi, pada suatu hari Syeikh Syibali bertandang ke rumah Abu Husein An-Nuri, namun kebetulan Abu Husein sedang melaksanakan i’tikaf di masjid. Maka Syeikh Syibali segera datang ke masjid itu untuk menemuinya. Dilihatnya Abu Husein sedang duduk begitu khusyu’, khudhu’ dan tidak bergerak sama sekali, namun juga tidak sedang tertidur. Asy-Syibali begitu sabar menunggunya sampai kapan pun Abu Husein selesai melakukan ibadahnya. Maka setelah Abu Husein keluar dari masjid, Syeikh Syibali segera bertanya kepadanya:
“Siapa yang menjadi gurumu dalam melaksanakan ibadah sekhusyu’ itu?.”
“Ah, ada-ada saja pertanyaanmu itu, wahai Syeikh Syibali,” jawab Abu Husein sekenanya.
“Tunjukkanlah gurumu, aku sangat berkeinginan untuk mengikuti langkahmu itu, sebab selama ini i’tikafku tidak sebaik apa yang kau lakukan,” begitu desak Syeikh Syibali.
“Kau betul menginginkannya?,” tanya Abu Husein lebih lanjut.
“Betul, aku tidak bergurau,” jawab Syeikh Syibali.
“Mari ke rumahku!,” ajak Abu Husein.
Keduanya pun berjalan beriringan menuju rumah Abu Husein. Namun setelah memasuki rumahnya, Syeikh Syibali segera diajak ke belakang. Di sanalah keduanya menyaksikan seekor kucing yang sedang mengintai dan membidik seekor jengkerik yang berada di dekat liangnya. Maka segera saja Abu Husein mengatakan:
“Wahai Syeikh Syibali, kucing itulah guru saya dalam beri’tikaf. Ia begitu khusyu’ dan tidak bergerak sama sekali, kalau tidak percaya kau boleh melihatnya.”
“Memang betul katamu, ha… ha…!.”



■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar