Senin, 04 Januari 2010

Fudhail bin ‘Iyadh Bertaubat

Tasawuf merupakan sikap hati dimana seseorang dalam mengarungi kehidupan dunia ini selalu menjauhkan batinnya dari segala kepentingan duniawi yang bisa menyeret jauh dari mendapat ridha Allah, dan berusaha sekuat kemampuan untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai amal sunnah, apalagi yang fardhu. Pelakunya itu pada lazimnya dikatakan sebagai sufi.
Tersebutlah di Baghdad seorang pemimpin sufi yang sudah tidak diragukan lagi keberadaannya, Fudhail bin ‘Iyadh namanya. Dia bekas perampok jalanan dan pembegal ulung yang selalu berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain sesuai dengan situasi dan kondisi yang menuntutnya. Para kafilah yang melewati kawasan tertentu sudah paham mengenai keberingasan Fudhail dan pengikutnya.
Pada suatu malam, Fudhail menaruhkan kepalanya di pangkuan salah satu anak buahnya, bermakasud agar dia dinina bobokkan layaknya anak kecil yang bermanja-manja dengan ibunya. Pada saat itulah sebuah kafilah yang pulang dari menjualbelikan harta perniagaan ingin melintas di kawasan Fudhail berada, karena memang itulah satu-satunya jalan yang harus dilewati. Namun sepertinya perasaan mereka begitu gamang. Sebagian mereka mencoba mendahului yang lain, namun tampak kembali lagi mengadukan kegalauan hati kepada kafilah yang lain. Akhirnya mereka sepakat mengambil sikap untuk berhenti saja beberapa saat dengan mengadakan terobosan-terobosan tertentu agar kebimbangan mereka sirna.
Pimpinan para kafilah ini membagi pengikutnya dalam tiga kelompok yang akan membacakan ayat-ayat tertentu agar menjadi anak panah yang tidak kasat mata. Dengan demikian jika saja anak panah itu mengenai sasaran, mereka akan meneruskan perjalanan. Dan jika tidak menemukan suatu tanda apa pun, mereka akan berhenti dan mencari solusi yang terbaik.
Syahdan, majulah kelompok kafilah pertama dengan mengangkat seorang pemimpin yang akan membacakan suatu ayat yang diyakini akan bisa mencederai diri Fudhail. Dengan suara lantang dia mengumandangkan ayat:
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk bertunduk hati mengingat Allah( 57 : 16).
Tiba-tiba Fudhail menjerit dalam keadaan pingsan. Seketika itu pula anak buah yang memangkunya kebingungan. Jangan-jangan junjungannya itu terkena lembing yang dilemparkan seseorang. Seluruh badan Fudhail diraba, terbukti tidak ditemukan suatu apa pun yang mengenainya. Dan setelah Fudhail siuman, dia mengatakan:
“Aku telah terkena lemparan lembing Allah hingga badanku gemetar, sekarang selimutilah aku.”
Selanjutnya majulah kelompok kafilah yang kedua dengan seorang pemimpin yang membacakan ayat:
Maka segeralah kalian kembali kepada Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatana yang nyata dariNya ( 51 :50).
Kali kedua ini Fudhail berteriak lebih keras lagi lalu pingsan sehingga anak buahnya lebih kebingungan dibuatnya. Mereka pun meraba seluruh badan Fudhail, namun tidak juga ditemukan sesuatu. Dan setelah siuman, Fudhail mengatakan sebagaimana ucapannya yang pertama.
Maju pula kelompok kafilah yang ketiga dengan membacakan ayat :
Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum adzab datang kepadamu kemudian kamu tidak akan dapat ditolong lagi (39 : 54).

Pada kali ini Fudhail berteriak melebihi yang pertama dan kedua. Kemudian dia bangkit berkata pada para pengikutnya:
“Kembalilah kalian ke jalan Allah untuk bertaubat, dan aku sendiri sebagai pemimpinnya. Betapa aku sangat menyesali perbuatan ini. Kini aku berikrar untuk meninggalkan perbuatanku selama ini, aku takut sekali kepadaNya.”
Beserta pengikutnya, Fudhail pergi menuju Baitullah, namun setelah melintasi daerah Nahrawan, dia disambut oleh baginda Harun Ar-Rasyid dengan mengatakan:
“Wahai Fudhail!, aku telah bermimpi berjumpa dengan seseorang yang mengatakan: “Ingatlah, sekarang Fudhail telah insaf dan kembali menghamba kepada Allah, sambutlah dia!.”
Demi mendengar ucapan baginda Harun Ar-Rasyid ini, Fudhail menjerit lagi kemudian merintih seraya mengatakan:
“Wahai Tuhanku, demi keagungan-Mu dan kedermawanan-Mu, sudilah Engkau menerimaku kembali yang telah berlari menjauh dari-Mu selama empat puluh tahun.”
Demikianlah kisah perampok yang bertaubat kepada Allah kendati pada mulanya berhati kesat membatu, namun jika Allah menghendaki untuk memilih menjadi kekasih-Nya, tidaklah sulit memberi petunjuk terhadap mereka.
Manusia sebagai makhluk sosial, satu dengan yang lain akan saling membutuhkan, bukan terbatas urusan duniawi saja, bahkan menyangkut kepentingan ukhrawi, meliputi saling menasehati apa pun yang dirasa mengandung kebenaran dan kesabaran atau pun yang lain.
Rasulullah telah mengatakan bahwa Allah akan mengurungkan siksaan terhadap mereka yang tidak mau menunaikan shalat disaat masih ditemukan orang lain yang mau menjalankannya. Menahan adzab mereka yang tidak mau membayar zakat tatkala masih dijumpai orang yang sudi membayar zakat. Namun jika saja ummatku itu telah bersepakat untuk meninggalkan shalat atau membayar zakat, maka siksa Allah tidak akan diurungkan lagi, ia akan segera menimpa pada mereka. Demikian pula mengenai puasa dan jum’atan. Hal ini sesuai dengan firman:
Jika saja Allah tidak menolak keganasan manusia yang satu dengan yang lain, tentulah bumi ini sudah hancur ( 2 : 252).



■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar