Senin, 04 Januari 2010

Hujan Yang Sangat Aneh

Muhammad bin Munkadir mengatakan:
“Aku pernah mendengar keterangan bahwa ketika orang kafir itu memasuki kubur, maka akan segera disiksa oleh semacam hewan yang buta dan tuli. Hewan itu membawa sebuah cambuk dari besi. Dan di kepalanya terdapat semisal taring onta jantan. Ia akan menyiksa orang kafir irtu sampai datangnya hari kiamat. Tidak pernah sekali pun merasa kasihan. Si hewan itu tidak bisa melihat sehingga tidak mungkin akan menjauh dari tubuh si kafir itu. Tidak pula bisa mendengar suaranya sehingga menaruh kasihan kepadanya.
Diriwayatkan pulaoleh Abu Ayub Al-Azdi, dari Abdullah bin Amru bin Ash Ra mengatakan:
“Nanti ketika hari kiamat telah tiba, maka penduduk neraka akan memanggil malaikat Malik, dimana dalam jangka empat puluh tahun panggilan itu baru dijawab.
“Sesungguhnya kalian akan tetap berada di neraka.”
Itulah jawaban yang pertama. Mereka pun memanggil Allah dengan mengatakan:
“Ya Allah, keluarkanlah kami, jika saja kami nanti kembali beramal buruk, memang kami sebagai orang-orang zalim.”
Ucapan ini tidak juga mendapat jawaban selama umur dunia ini sampai dua kali. Setelah itu mereka baru mendapat jawaban:
“Tinggallah dengan hina di dalamnya. Dan janganlah kalian berbicara dengan-Ku” (Al-Mu’minun: 109).
Setelah itu mereka tidak bisa berbicara lagi terkecuali hanya mengeluh bagaikan suara keledai.
Ketika mendengar keterangan seperti ini, Qatadah mengatakan kepada kaumnya:
“Wahai kaumku, kalian sekali-kali tidak akan bisa terlepas dari neraka itu, tidak pula akan bisa bersabar di dalamnya. Wahai kaumku, beribadah kepada Allah adalah lebih ringan dari pada menderita di neraka separah itu, untuk itu kalian hendaklah taat beribadah.”
Dan penghuni neraka nanti akan berkeluh kesah selama seribu tahun, namun sikap itu tidak pernah meringankan beban mereka. Menyadari akan kegagalan sikapnya itu, mereka lantas mengatakan kepada kawan-kawannya:
“Dahulu, sewaktu hidup di dunia ketika kami terlanda musibah, kemudian kami tindak lanjuti dengan bersabar, maka kesabaran itu akan memberi manfaat. Sekarang hendaklah kita bersabar!,” begitu ucapan pemimpin mereka.
Mereka pun lantas bersabar selama seribu tahun. Namun sikap itu ternyata tidak membawa perubahan. Maka mereka mengambil kesimpulan:
“Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh atau bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri (Ibrahim : 21).
Kemudian selama seribu tahun lagi mereka memohon diberi awan karena haus yang tidak terperikan sehingga seakan leher-leher mereka putus karenanya. Hal itu dimaksudkan agar sebagian siksaan yang berupa panas atau haus menjadi ringan. Namun setelah genap seribu tahun, Allah lantas mengatakan kepada Jibril:
“Apa kemauan mereka”.
“Ya Allah, Engkau lebih tahu terhadap semuanya,” begitu jawab Jibril.
“Mereka itu minta hujan, wahai Jibril,” sambung Allah lebih lanjut.
Sejenak kemudian telah tampak awan berarakan, namun anehnya berwarna merah. Para penghuni neraka menyangka bahwa awan itu mengandung hujan yang akan menyiram mereka. Setelah awan itu berjatuhan, ternyata berupa kala sebesar keledai-keledai sehingga langsung menyengat mereka seluruhnya, dan rasa sakitnya tidak bisa hilang selama seribu tahun. Kemudian mereka masih saja memohon hujan air, maka ketika itu segera tampak awan hitam yang beriringan. Pemandangan ini yang memancing kegembiraan mereka. Dan ternyata setelah turun, ternyata berupa ular-ular sebesar leher onta dan langsung menggigit dan menyembur mereka sehingga rasa sakitnya tidak bisa hilang selama seribu tahun. Itulah sinyalemen Allah dalam sebuah ayat:
“Maka Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan (kekafiran)(An-Nahl: 88)”.


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar