Senin, 04 Januari 2010

Menjadi Keledai

Imam Abu Tsaur atau yang terkenal dengan Syeikh Sufyan Ats-Tsauri merupakan ulama besar pendiri madzhab yang akhirnya dikenal dengan nama dirinya, namun pengikut madzhab itu makin hari makin berkurang hingga sekarang tidak terdengar lagi.
Dulu, ketika musim haji telah datang, dia bermaksud untuk menunaikan rukun Islam itu. Maka berangkatlah dia bersama sebuah kafilah dari negerinya (Irak) menuju Makkatul Mukarramah untuk menunaikan thawaf qudum yaitu thawaf ketika seseorang baru datang di Baitullah untuk menghormat Rumah Allah itu sebagaimana shalat tahiyatal masjid. Namun anehnya ketika sedang berthawaf, di sampingnya ada seorang lelaki yang selalu mebaca shalawat, baik ketika memulai thawaf dari Hajar Aswad atau pun ketika membaca talbiyah, padahal mestinya pada setiap tempat atau setiap jenis ibadah itu telah ada do’a-do’a tertentu, sedangkan orang ini hanya membaca shalawat.
“Tiada lain mesti ada sebab-sebab yang mengilhami dia untuk berbuat seperti itu,” begitu gumam Abu Tsaur.
Beberapa saat kemudian, Abu Tsaur memberanikan diri untuk bertanya kepadanya:
“Wahai saudaraku, kulihat kau selalu membaca shalawat, padahal setiap bentuk ibadah itu telah ada do’a-do’a yang khusus untuknya. Apa yang menyebabkan saudara terus membaca shalawat?.”
“Oh, Tuan heran melihat ulahku ini. Begini, akan kuceritakan mengenai asal-usul amalku ini. Sebetulnya sebelum musim haji yang sekarang ini, aku telah berangkat haji dari Khurasan (Utara Iran) bersama orang tuaku. Namun ketika sampai di Kufah, tiba-tiba saja dia jatuh sakit hingga menemui ajalnya. Segera saja seluruh badannya aku tutupi dengan kain secukupnya dan kurawat baik-baik.
Namun ketika akan aku mandikan, maka wajahnya kubuka terlebih dahulu. Betapa terperanjatku, kepalanya telah berubah menjadi kepala keledai. Aku betul-betul mengalami tekanan batin yang begitu hebat, bagaimana nanti jika masyarakat mengetahui, dan pasti mengetahui. Mungkinkah setelah pemakaman nanti aku masih berani muncul di hadapan para tetangga. Begitu bayanganku hingga aku hanya mondar-mandir sampai penat. Untuk mengembalikan tenagaku yang terkuras itu, segera aku merebahka diri. Dalam sekejap saja aku telah tertidur. Dan ketika tidur itulah aku merasa didatangi seorang laki-laki yang amat tampan, tampan sekali dimana kepalanya ditutup dengan sorban.
“Mengapa kau begitu gundah, hai kawan ?,” tanya lelaki itu.
“Bagaimana aku tidak susah menanggung ujian seberat ini,” jawabku.
Sejenak kemudian lelaki itu mendekati ayahku dan membuka kain yang menutupi bagian wajahnya, kemudian diusapnya sekali. Seketika itu pula wajah ayahku kembali seperti semula bahkan lebih tampan lagi bagaikan rembulan ketika purnama. Setelah itu baru aku bertanya:
“Maaf, siapakah Tuan?.”
“Saya utusan Allah, Muhammad Rasulullah,” jawabnya.
Setelah itu tampak beliau akan segera pergi, namun segera kupegang tepi baju luarnya seraya kutanyakan:
“Wahai Rasulullah, mengapa ayahku mengalami siksaan seperti ini, bukankah dia termasuk orang yang sangat rajin beribadah?.”
“Begini saudaraku, ayahmu itu pemakan riba, seorang rentenir. Telah menjadi sunnatullah bahwa mereka itu mesti akan dijelmakan sebagai keledai, boleh jadi ketika masih di dunia atau di akhirat nanti. Namun untung saja ayahmu itu sangat rajin membaca shalawat kepadaku. Ketika akan tidur dia mesti membaca sampai seratus kali. Sehingga ketika dia mendapat siksaan seperti itu, tiba-tiba saja seorang malaikat menghadapku seraya mengabarkan keadaan ayahmu itu. Ketika itulah aku memohon syafaat kepada Allah agar ayahmu itu dikembalikan seperti sedia kala, dan ternyata permohonanku itu diperkenankan.”
Setelah merasakan mimpi seperti itu, aku pun terbangun dan segera membuka wajah ayahku, ternyata dia betul-betul telah kembali seperti semula. Betapa girang hatiku, dan seketika itu pula aku segera mengambil air wudhu dan melakukan sujud syukur dengan berlinangan air mata. Tidak berlangsung lama, para tetangga berdatangan untuk merawat dan menguburkan ayahku. Sampai selesesai memakamkan tidak terjadi lagi peristiwa yang aneh.
Begitulah Syeikh Abu Tsaur!, mengapa aku memperbanyak membaca shalawat ketika melaksanakan thawaf kali ini.


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar