Senin, 04 Januari 2010

Kedermawanan Seorang Pedagang

Di masa pemerintahan Abu Bakar Ra. terjadilah masa paceklik yang berlangsung cukup panjang. Hujan tak kunjung turun. Sungai dan pepohonan mongering sementara ternak-ternak menjadi kurus. Kebun-kebun tiada menghasilkan buah dan sayur sementara hewan ternak tak dapat diambil air susunya. Akibatnya, penduduk Madinah mulai terancam kelaparan.
Ketika masa paceklik ini semakin membahayakan kondisi penduduk, sebagian dari warga Madinah mengunjungi Abu Bakar dan mengadukan keluh kesah mereka.
"Wahai Khalifah Rasulullah, masa paceklik ini sungguh terasa berat bagi kami. Tanah yang mongering, panen yang gagal, persediaan makanan yang menipis, sementara hujan tak kunjung turun. Apa yang dapat kau lakukan hai Abu Bakar?"
Abu Bakar sungguh amat prihatin dengan kondisi rakyatnya. Namun, beliau sendiri sesungguhnya juga mengalami hal yang sama, tiada lagi memiliki persediaan makanan bagi dirinya dan keluarganya.
"Pulanglah kalian dan bersabarlah," bujuk Abu Bakar. "Aku sungguh memohon kepada Allah agar sore ini Dia Yang Maha Kuasa dapat mengangkat kesulitan dari diri kita semua," begitu doanya penuh harap.
Sore harinya terdengarlah kabar bahwa kafilah dagang Utsman bin Affan yang baru kembali dari negeri Syam telah mendekati pintu gerbang kota. Berduyun-duyun masyarakat menyongsongnya dan mata mereka pun terbelalak. Utsman membawa seribu unta yang penuh dengan perbekalan. Ada gandum, kismis, minyak, mentega, dan banyak lagi. Utsman memang seorang pedagang. Dia biasa membeli barang dagangan di negeri lain untuk dijual di negerinya sendiri. Tetapi, pada saat rakyat sedang miskin begini, bagaimana mungkin mereka sanggup membelinya?
Para pedagang di kota Madinah tak ketinggalan menyongsong kafilah dagang milik Utsman itu. Mereka bermaksud membeli dagangan Utsman dan kemudian menjualnya lagi di dalam kota kepada masyarakat. Tentu saja, mereka berharap dapat memperoleh keuntungan besar. Bukankah pada saat ini persediaan makanan penduduk telah sangat menipis? Bukankah hujan tak kunjung turun dan panen telah gagal? Ini berarti berapapun harga yang mereka tetapkan, penduduk yang masih memiliki uang dan sedikit harta toh akan membeli juga dagangan mereka untuk mencegah keluarga mereka kelaparan.
Maka merekapun mendekati Utsman dan melakukan penawaran.
"Hai Utsman, juallah barang daganganmu kepadaku. Aku akan membelinya dengan memberimu keuntungan dua kali lipat," kata seorang pedagang.
Utsman menggelengkan kepalanya:
"Sayang sekali, sudah ada yang menawarnya lebih tinggi dari itu," jawab Utsman.
"Kalau begitu aku menawarkan keuntungan empat kali lipat," kata pedagang lain.
"Ada yang menawariku keuntungan lebih dari itu," jawab Utsman lagi.
"Baiklah. Lima kali lipat," seorang pedagang lainnya berkata dengan sedikit jengkel, "dan tak akan ada pedagang lain yang bisa melebihi tawaranku itu."
"Ah, tetapi memang ada yang menawariku keuntungan jauh lebih besar dari tawaranmu," tegas Utsman lagi.
"Mana mungkin!" para pedagang berseru tidak percaya.
"Di Madinah ini tidak ada pedagang lain lagi kecuali kami, wahai Utsman, dan kami tahu tidak seorang pun dari kami telah membuat perjanjian denganmu. Jadi, mana mungkin ada yang menawar daganganmu lebih tinggi lagi! Kalaupun ada, katakan pada kami, siapa dia?"
Dengan jernih Utsman pun berkata pada mereka semua:
"Sesungguhnya Allah telah menjanjikan akan membalas tiap-tiap kebaikan dengan ganjaran 10 kali lipat. Maka seluruh daganganku ini akan diberi-Nya keuntungan 10 kali lipat. Bisakah kalian memberikan hal yang sama padaku?"
"Tentu tidak! Bagaimana mungkin kami sanggup melakukannya?"jawab mereka.
"Karena itu, saksikanlah wahai penduduk Madinah, sesungguhnya seluruh perbekalan yang ada di atas seribu untaku ini aku jadikan sedekahku kepada kaum fakir dan miskin di segenap penjuru negeri ini, lillahi ta'ala."
Hampir saja penduduk kota Madinah yang saat itu tengah kesulitan dengan adanya musim paceklik tidak percaya mendengarnya. Namun benarlah adanya, Utsman telah menyedekahkan seluruh dagangannya bagi penduduk kota dan mulai membagi-bagikanya. Maka mereka pun berucap Alhamdulillah dan amat berterima kasih pada kedermawanan Utsman.
Utsman telah memilih berdagang dengan Allah yang menjanjikan keuntungan sepuluh kali lipat pada setiap kebaikan yang kita lakukan, maka berkahlah perdagangan Utsman dan sungguh ia telah menjadi seorang pedagang yang sangat beruntung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar