Minggu, 03 Januari 2010

Roti Gandum Abu Thalhah

Sepanjang hidupnya Rasulullah Saw tak pernah bergelimang harta dunia. Bahkan, meski rizki Allah selalu saja hadir dengan berbagai jalan, Rasulullah tak pernah menyimpannya untuk waktu yang lama. Beliau lebih senang bersedekah dan memilih hidup amat sederhana sebagaimana kebanyakan kaum muslimin. Tak heran, bukan sekali dua Rasulullah harus menahan lapar karena tak memiliki sedikitpun makanan di rumahnya.
Pada suatu hari, Rasulullah kembali berangkat dari rumahnya dalam keadaan lapar. Tak ada sepotong rotipun di rumahnya. Namun, dengan sabar, beliau tetap beranjak menuju masjid untuk mengajarkan Islam pada kaum muslimin. Di saat Rasulullah tengah mengajar itu, lewatlah sahabat Nabi yang bernama Abu Thalhah al-Anshori. Dia adalah seorang sahabat mulia yang halus dan peka perasaannya. Dilihatnya Rasulullah yang saat itu mengajar kaum muslimin dengan tekun dan sabar. Namun, setelah memperhatikan dengan seksama, Abu Thalhah tahu bahwa suara Rasulullah sedikit berbeda, terdengar melemah.
Abu Thalhah mengenal betul sifat Nabinya yang tak pernah hidup bermewah-mewah. Maka, Abu Thalhah pun menyimpulkan bahwa suara Rasulullah yang terdengar tak seperti biasanya itu tentu dikarenakan beliau dalam keadaan lapar.
Bergegas Abu Thalhah pulang ke rumah dan bertanya pada isterinya.
"Aku mendengar Rasulullah berbicara di masjid. Suaranya terdengar sedikit lemah. Apakah engkau memiliki sesuatu yang dapat disuguhkan kepada Rasulullah?"
"Ya, kita masih mempunyai sedikit gandum. Akan kuolah gandum itu menjadi roti untuk disuguhkan pada Rasulullah."
Maka, Ummu Sulaim, isteri Abu Thalhah pun mengolah gandumnya yang hanya sedikit sehingga menjadi sepotong roti.
Begitu roti itu siap, Abu Thalhah membungkusnya dan memanggil seorang sahabat, Anas.
"Tolong antarkan roti ini pada Rasulullah Anas," ujarAbu Thalhah. Dia juga mengingatkan Anas untuk tidak berbicara keras-keras karerra rotinya hanya ada satu, cukup untuk Rasulullah saja.
Anas pun mengambil roti itu, meletakkannya di balik lipatan bajunya dan menemui Rasulullah di masjid. Namun, baru saja Anas mengucapkan salam dan hendak berkata pelan pada Rasulullah, Rasulullah sudah berkata:
"Apakah engkau diutus oleh Abu Thalhah?" "Benar ya Rasulullah," jawab Anas seraya mengangguk membenarkan.
"Apakah urusan ini soal makanan?" Anas kembali mengangguk.
"Baiklah. Kalau begitu, ayo bangkitlah kalian semua. Kita menuju rumah Abu Thalhah," kata Rasulullah seraya bangkit berdiri diiringi oleh sekitar 80 jamaah masjid yang lain.
Anas sungguh tidak tahu harus berkata apa. Dia cemas juga mengingat pesan Abu Thalhah yang menyatakan bahwa rotinya hanya ada satu. Namun, diikutinya juga 'angkah Nabi ke rumah Abu Thalhah.
Sesampainya di sana, segera Anas menemui Abu Thalhah dan menceritakan apa ; ang terjadi. Tentu saja Abu Thalhah dan Jmmu Sulaim cemas dibuatnya.
"Aduh, bagaimana ini? Rotinya tak akan .ukup untuk semua..." pikirAbu Thalhah dengan gugup.
"Sudahlah, Allah dan Rasulnya tentu lebih tahu," jawab isterinya berusaha menenangkan.
Di saat mereka sedang kebingungan, Rasulullah beserta rombongan jamaah masjid tiba di depan pintu. Abu Thalhah segera menyambutnya dan Rasulullah pun masuk ke dalam rumah Abu Thalhah, meninggalkan sahabat-sahabat yang lain di teras rumah.
Di dalam rumah, Rasul berkata pada Ummu Sulaim:
"Bawa kemari apa yang tadi hendak kauhidangkan wahai Ummu Sulaim."
Maka, setelah menghangatkan dan membumbui kembali sepotong roti yang tadi dibawa Anas, Ummu Sulaim pun menghidangkan roti itu di hadapan Rasulullah. Di depan roti itu Rasulullah mengangkat tangannya dan berdoa. Lalu ia berkata:
"Panggilah sepuluh orang dari tamu-tamu di depan itu."
Maka masuklah sepuluh laki-laki dan dipersilahkan menyantap hidangan roti yang tersedia. Setelah mereka kenyang semua, diperintahkan lagi oleh Rasulullah untuk memanggil sepuluh laki-laki berikutnya. Maka bergantian, mereka pun makan hingga kenyang.
Setiap sepuluh tamu-tamu dari masjid itu selesai makan hingga kenyang, maka Rasulullah terus memanggil sepuluh lelaki berikutnya, hingga ke delapan puluh orang jamaah masjid itu selesai makan dan merasa kenyang.
Abu Thalhah, Ummu Sulaim dan Anas amat takjub melihat bahwa roti yang terhidang di meja masih bersisa cukup banyak untuk dimakan oleh Rasulullah dan mereka sendiri.
Rupanya setelah didoakan, dengan izin Allah, Rasulullah mendapatkan mukjizat sehingga sepotong roti yang dhidangkan dengan ikhlas oleh Abu Thalhah dan Ummu Sulaim mampu mengenyangkan seluruh jamaah masjid pada saat itu. Sungguh Maha Berkuasanya Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar