Jumat, 01 Januari 2010

Ketegaran Abu Hazim

Ketika Sulaiman bin Abdul Malik, seorang raja dari dinasti Umayyah berkunjung ke Madinah untuk berziarah makam Rasulullah Saw. maka setelah puas, Baginda ingin meneruskan lagi ke Makah untuk melaksanakan umrah. Sebelum keberangkatannya itulah, Baginda berkehendak untuk bertemu Abu Hazim, yang merupakan ulama besar ketika itu. Dan setelah perbincangan di mulai, Baginda mengemukakan beberapa pertanyaan:
“Wahai Abu Hazim, mengapa diriku begitu membenci maut,” sebuah pertanyaan yang lazim pada setiap orang normal.
“Tiada lain,” jawab Abu Hazim, “tersebab Baginda telah menghancurlumatkan akhirat milik Baginda sendiri, dan telah membangun dunia begitu rupa sehingga Baginda tidak berkehendak atau malah membenci untuk berpindah dari daerah makmur menuju daerah hancur.
“Bagaimana kondisi menghadap Allah nanti,” tanya Baginda lebih lanjut.
“Wahai Amiril Mukminin, adapun mereka yang amal kebajikannya cukup banyak, maka ia akan menghadap Allah bagaikan seorang lelaki yang telah lama pergi dan sekarang kembali menemui isterinya. Ia akan disambut begitu hangat. Dan mereka yang keburukannya begitu banyak, ia akan datang bagaikan seorang budak yang telah lama melarikan diri dari tuannya. Sekarang ia bermaksud kembali pada tuannya itu. Ia akan sangat takut,” begitu jawab Abu Hazim.
Mendengar penuturan Abu Hazim ini Baginda tidak bisa menahan derai air matanya. Selanjutnya Baginda mengatakan:
“Alangkah baiknya jika aku tidak mengalami tahapan-tahapan seperti itu, mengingat aku belum tahu mengenai persiapan apa yang bakal di timpakan Allah pada diriku.
Kalau demikian,” sambung Abu Hazim lagi, “timbanglah diri Baginda dengan ayat yang telah difirmankan Allah:
Sesungguhnya orang-orang yang banyak kebajikannya, benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka, benar-benar berada dalam neraka Jahim (QS. 82 : 13 – 14 )
“Kalau setegas itu, bagaimana fungsi rahmat Allah,” kejar Baginda lagi.
“Rahmat Allah akan selalu dekat pada mereka yang berbuat kebajikan,” 1 begitu sergah Abu Hazim sangat tangkas.
“Wahai Abu Hazim, siapa di antara hamba-hamba Allah ini yang akan mendapat kemuliaan?,” tanya Baginda lebih lanjut.
“Mereka yang banyak kebajikannya dan ketakwaannya,” sahut Abu Hazim.
“Kalau demikian, amal apa yang sekiranya akan sangat utama?,” tanya Baginda lagi.
“Tiada lain menunaikan tugas-tugas fardhu dan sedapat mungkin menjauhi yang haram,” tukas Abu Hazim.
“Ucapan bagaimana yang akan lebih diperhatikan Allah?,” tanya Baginda lagi.
“Ucapan hak (benar) yang disampaikan pada orang yang engkau takuti dan engkau harapkan kebaikannya,” jawab Abu Hazim lagi.
“Sikap bagaimana yang harus diperhatikan seorang mukmin hingga diperhitungkan sebagai orang yang genius,” tanya Baginda lagi.
“Yaitu seseorang yang selalu berusaha untuk berbakti kepada Allah dan mengajak orang lain agar bersikap demikian pula,” sambung Abu Hazim.
“Orang mukmin bagaimana yang akan dianggap merugi?,” tanya Baginda lagi.
“Yaitu seseorang yang memperturutkan hawanafsu saudaranya, pahadal saudaranya itu pada pihak yang tidak benar. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa dia telah menjual akhiratnya dengan keduniaan yang dimiliki orang lain,” jawab Abu Hazim sangat diplomatis.
“Bagaimana pendapatmu mengenai keberadaanku, wahai Abu Hazim,” begitu pancing Baginda.
“Adakah jika ada kalimat yang menyakitkan, Baginda akan bisa bersikap dewasa?,” tanya balik Abu Hazim agar tidak terjadi siksaan yang akan menimpa dirinya.
“Tentu saja aku akan bersikap dewasa, sebab kata-katamu adalah nasihat yang sangat layak aku terima,” sahut Baginda memberi angin harapan.
“Wahai Amiril Mukminin, sesungguhnya kakek-kakekmu dulu telah memaksa masyarakat Islam dengan kekuatan pedang, kemudian mengambil alih kekuasaan dengan kekerasan pula, bahkan dengan tanpa berdasar musyawarah dan kerelaan ummat Islam. Dalam peristiwa itu telah banyak ummat Islam yang menjadi korban. Ternyata kakek-kakekmu itu sekarang tidak seorang pun yang kekal. Dengan demikian akan lebih baik jika Baginda mencurigai ucapan-ucapan kakek-kakek Baginda dan memperhatikan pendapat rival mereka,” begitu ucapan Abu Hazim betul-betul menyakitkan ulu hati.
Ketika itulah seorang pengawal mengatakan pada Abu Hazim:
“Wahai Abu Hazim, betapa busuk ucapanmu.”
“Allah telah mengikat janji pada para ulama bahwa mereka wajib menerangkan pada masyarakat dan sedikit pun tidak diperbolehkan menyembunyikan sebuah kebenaran, betapa pun mengandung resuiko besar,”1 begitu jawab Abu Hazim sangat tegas.
“Bagaimana solusi terbaik untuk membenahi kahancuran yang terjadi,” tanya Baginda lagi.
“Baginda harus menapak dan mengambil jalur yang benar, kemudian meletakkannya pada posisi yang benar pula,” jawab Abu Hazim.
“Siapa yang akan mampu bertindak seperti itu,” tanya Baginda seakan memojokkan Abu Hazim.
“Barang siapa betul-betul merindukan surga dan takut terhadap neraka, ia akan mampu berbuat seperti itu,” jawab Abu Hazim mantap.
“Do’akan saya agar bisa bersikap sebagaimana apa yang tuan nasihatkan itu,” pinta Baginda dengan raut muka memelas.
“Allahumma, Jika saja Sulaiman itu termasuk orang yang Engkau kasihi, permudahkan dia kepada perilaku yang mengantarkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun jika termasuk musuh-Mu, maka peganglah ubun-ubunnya, kemudian taruhkan dia ke arah apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai,” begitu ucap seorang ulama mendo’akan kebaikan pada seorang pemimpin.
“Nasihatilah aku sekali lagi, wahai Abu Hazim,” pinta Baginda seakan kehausan.
“Aku nasihati diri Baginda dengan petuah yang ringkas saja, “Agungkan dan sucikan Tuhanmu. Jangan sampai Dia melihatmu dalam keadaan engkau durhaka. Jangan pula ketika sebuah ibadah dilaksanakan, namun engkau sendiri tidak tampak di dalamnya,” begitu Abu Hazim mengatakan pesan terakhir.
Akhirnya pertemuan itu ditutup dengan kepuasan masing-masing. Pihak ulama dengan bijaksana membenahi dan meluruskan apa yang tampak keliru. Sedangkan pihak umara’ menyadari dan menerima apa yang difatwakan para ulama. Sebuah indikasi yang menunjukkan baldatun thaiyibatun wa Rabbun Ghafuur ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar