Senin, 04 Januari 2010

Merasa Dilihat Allah

Seorang guru tasawuf terlihat akrab dengan seorang muridnya yang masih muda, sehingga ke mana pun sang guru pergi, murid itu selalu diajak untuk mendampinginya. Hal ini yang menjadikan murid-murid senior merasa dianak tirikan. Maka sang guru pun mengambil kebijaksanaan.
Pada suatu kesempatan si guru membeli beberapa burung, kemudian murid-murid senior dipanggil untuk menghadap. Dan setelah mereka berada di depan guru, segera saja burung-burung itu diserahkan kepada mereka untuk disembelih di suatu tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun alias bersembunyi. Tidak lupa sang guru juga memberikan seekor burung pada murid pilihannya itu. Maka pergilah seluruh murid untuk menyembelih burung-burung pemberian guru itu.
Dan dalam waktu sekejap mereka telah kembali dengan membawa burung yang seluruhnya hampir terputus lehernya. Namun anehnya murid pilihan itu masih mondar-mandir dengan membawa burung yang masih hidup belum disembelih. Maka sang guru segera memanggil seluruh murid untuk berkumpul lagi seraya mengatakan:
“Wahai pemuda, mengapa burung yang berada di tanganmu belum juga kau sembelih, adakah kau mau mendurhakai perintah gurumu?.”
“Bukan begitu wahai guru, sebenarnya aku telah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari tempat yang tidak dilihat siapa pun. Namun selama itu pula aku tidak bisa menemukannya. Maafkan diriku, wahai guru!,” begitu jawab murid yunior.
“Mengapa?,” tanya sang guru lebih lanjut.
“Ternyata Allah selalu melihatku sehingga aku tidak mampu lagi untuk mencari tempat yang terlepas dari pengawasan-Nya,” begitu sahut pemuda itu.
“Memang betul ucapanmu. Bagaimana pendapatmu wahai para murid senior!.”
Mereka pun serempak membenarkan tindakan gurunya untuk memilih murid yunior itu sebagai anak pilihannya, dan malah mengatakan:
“Memang dia lebih berhak untuk menerima sebuah kehormatan”.




■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar