Jumat, 01 Januari 2010

Membendung Amarah

Muktamir bin Sulaiman mengatakan bahwa dulu pernah hidup seorang ahli hikmah yang amat tanggap terhadap gejolak nafsunya. Sebagaimana manusia biasa, ia sering pula dilanda marah. Maka untuk menyiasati agar kemarahannya dapat dikendalikan, ia segera memanggil tiga orang yang akan dibebani tugas menyiasati kemarahannya jika saja pada sekali waktu muncul. Orang pertama diberi secarik kertas. Ketika memberikannya, si ahli hikmah itu berpesan:
“Jika nanti saya sedang marah, maka kertas ini segera berikan kepadaku,” begitu ia mengatakan. Pada orang kedua pun ia memberi secarik kertas. Demikian pula pada orang ketiga. Benar saja apa yang menjadi prediksinya, pada suatu hari ia marah besar kepada seorang lelaki yang menjadi tetangganya tersebab suatu urusan yang berbelit-belit. Maka orang pertama itu langsung memberikan secarik kertas yang dulu pernah diberikan. Setelah dibuka, ternyata isinya sebuah kalimat:
“Mengapa engkau marah, padahal engkau bukan tuhan, engkau hanyalah sebagian manusia yang seringkali antara mereka makan bersama, atau malah seringkali sebagian mereka menjadi makanan yang lain.”
Setelah membaca kalimat ini, marahnya agak reda, namun sisanya yang lebih besar belum bisa dihilangkan. Segera saja orang kedua memberikan kertas yang pernah diterimanya. Di mana di situ tertuliskan:
“Berbelas kasihlah terhadap makhluk yang menjadi penghuni dunia ini, dengan sebab itu engkau akan mendapat belas kasih Dia Yang berada di langit.”
Setelah membaca kalimat ini, marahnya berangsur reda pula, namun belum hilang secara keseluruhan. Maka orang ketiga memberikan kertas pula. Yang ternyata bertuliskan:
“Bertindaklah sesuai ketentuan Allah, engkau tidak akan bisa memperbaiki mereka kecuali dengan aturan yang telah ditentukan-Nya. Jangan pula sekali-kali engkau melalaikan ketentuan Allah itu.”
Ketika membaca kalimat yang terakhir ini, marahnya langsung hilang sehingga normal sebagaimana semula. ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar