Jumat, 01 Januari 2010

Sebuah Toleransi

Rasulullah bersama para sahabat pernah mengadakan perjalanan ke Thaif, di mana ketika melintasi sebuah pemakaman, Abu Bakar segera mengatakan:
“Wahai Rasulullah, inilah sebuah kubur yang ketika penghuninya masih hidup tidak habis-habisnya selalu memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Penghuni itu tiada lain adalah Sa’id bin‘Ash.”
Mendengar perkataan demikian itu, anak Sa’id bin Ash yang bernama Amru bin Sa’id yang ketika itu juga ikut dalam rombongan segera marah. Kemudian mendekati Rasulullah dan mengatakan:
“Wahai Rasulullah, ini merupakan makam seorang yang ketika hidupnya begitu rajin mengulurkan tangan, baik dalam memberi makan mereka yang kelaparan atau yang lain. Begitu pula telah banyak kepala musuh yang telah berhasil dipenggal dibandingkan Abi Quhafah (ayah Abu Bakar).”
Abu Bakar tampak naik pitam juga sehingga mengatakan kepada Rasulullah:
“Wahai Rasulullah, adakah aku diperlakukan demikian kasar oleh orang itu!”
Rasulullah kemudian melerai:
“Sudah, janganlah engkau berkata kasar terhadap Abu Baklar,” begitu nasihat Rasulullah.
Amru segera menjauh dari Abu Bakar. Kemudian Rasulullah mendekati Abu Bakar seraya mengatakan:
“Wahai Abu Bakar, jika saja engkau menyebut kejelekan orang kafir hendaklah bersifat umum, karena jika saja engkau menentukan setiap individunya, anak-anak mereka akan marah demi membela ayahnya.”
Semenjak itu pula kaum Muslimin tidak lagi mencela dan memperolok pribadi-pribadi orang kafir secara khusus terkecuali apa yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an. Hal ini demi menjaga perasaan anak-anak mereka yang telah masuk Islam.
(HR. Abu Daud dari Ali bin Rabi’ah).
Begitu ajaran Rasulullah kepada para ummatnya. ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar