Senin, 04 Januari 2010

Memberi Pelajaran Kepada Nafsu

Para ulama salaf begitu intensif dalam memerangi nafsu dirinya. Sebab jika saja dicermati, maka nafsu akan selalu mengajak berbuat maksiat atau minimal teledor dalam menjalankan kewajiban kepada Allah. Sehingga akan lebih utama jika seseorang selalu menghindar dalam memperturutkan kehendak nafsunya. Sebab jika nafsu itu dibiarkan tanpa sebuah kendali, maka akan terbiasa melakukan kemaksiatan yang pada akhirnya akan sulit untuk dicegah. Padahal yang demikian itu jelas akan menyebabkan celaka yang tiada kunjung sirna.
Sebagai misal jika saja nafsu selalu berkeinginan untuk memenuhi perut, maka hendaknya dicegah dengan memperbanyak puasa. Demikian pula jika selalu mendorong untuk melihat pemandangan yang diharamkan, hendaklah dicegah dengan memalingkan penglihatan. Yang demikian itu sudah menjadi kebiasaan orang-orang salaf .
Dikisahkan bahwa di komunitas Bani Israel pernah hidup seorang lelaki yang selalu beribadah di suraunya. Sikap hidup seperti ini telah menjadi kebiasaannya dalam jangka yang cukup lama. Namun pada suatu hari ia melihat seorang wanita yang begitu jelita. Segera saja ia mendekatinya untuk berbincang-bincang yang tidak tentu arahnya. Setelah wanita itu terpikat, ia segera mengajak bercengkerama. Ternyata wanita itu juga mengharapkan sentuhan nakal lelaki tersebut. Namun untunglah Allah segera memberi taufik kepadanya berkat ibadahnya selama ini begitu khidmat. Dengan bergegas ia tinggalkan wanita itu untuk kembali memasuki suraunya. Dan ketika kakinya akan memasuki pintu, ia bergumam:
“Wahai kaki, adakah kau akan ikut masuk ke dalam surau ini, padahal baru saja kau telah bermaksud untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah. Haihata, betapa lancangmu. Tidak akan kubiarkan kau ikut masuk dalam tempat ibadahku ini.”
Segera saja kaki tersebut ditinggalkan di luar surau terpanggang terik matahari dan tertimpa hujan sampai membusuk dan hancur. Perbuatan seperti ini terbukti malah mendapat pujian dari Allah sehingga kisahnya tertulis dalam lembaran sebuah kitab mereka.
Dikisahkan pula oleh Al-Junaidi bahwa Ibnul Karibi pernah mengatakan:
“Pada suatu malam aku terkena janabat yang mewajibkan mandi besar. Namun nafsuku seakan selalu menghindar untuk segera mandi. Memang ketika itu cuaca begitu dingin, disamping angin menerpa sangat kuat.
Nafsuku selalu mengajak agar aku mandi esoknya saja dengan memakai air hangat akan lebih menyegarkan tubuh, atau pergi ke pemandian air panas akan membuat perasaan cukup bahagia dengan panorama yang masih alami. Segera saja perkataan nafsu yang demikian itu aku ungkit-ungkit:
“Bah, betapa mengherankan. Aku merupakan hamba Allah yang berkewajiban melaksanakan perintah dengan sebaik-baiknya.”
Aku utarakan kalimat seperti itu tampaknya nafsuku tetap membandel untuk tetap menghentikan langkah menuju kamar mandi. Maka segera saja aku mengatakan lagi:
“Aku bersumpah, sekarang juga harus pergi ke kamar mandi dengan tanpa melepas pakaian yang aku kenakan agar kau, nafsu, akan lebih merasa tersiksa. Setelah itu tidak akan aku jemur pakaian tersebut, juga tidak akan aku lepas untuk dibilas.”
Akhirnya Ibnul Karibi malam itu juga pergi ke kamar mandi dengan tanpa melepas pakaian yang dikenakan, dan segera mengguyur badannya kendati menggigil kedinginan sampai pakaian itu kering sendiri di tubuhnya ketika hari sudah beranjak siang.


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar