Senin, 04 Januari 2010

Sebuah Penyesalan

Dikisahkan oleh Malik bin Dhaigham bahwa pada saat selepas Ashar, Rabah Al-Qaisiy datang ke rumahku dengan maksud ingin bertemu dengan ayahku. Ia lalu menanyakan keberadaan ayahku. Dan segera saja aku jawab bahwa ayah sedang tidur.
“Adakah sekarang ini waktu tidur,” kata Rabah begitu sengit.
Namun segera saja ia beranjak pergi dengan tanpa bertanya lebih lanjut, mengherankan!. Padahal rumahnya cukup jauh.
Agar kedatangannya tidak sia-sia, segera saja aku suruh adikku untuk mengejar Rabah agar mau kembali lagi, seraya aku berpesan pada adikku itu bahwa aku akan sanggup membangunkannya. Adikku segera bangkit menunggangi keledainya sehingga bisa bertemu dengan Rabah. Namun ketika adikku itu telah kembali, ia mengatakan kepadaku bahwa Rabah lebih sibuk mengurus dirinya sehingga tidak lagi mau diajak bicara.
“Apa yang dia katakan?,” tanyaku kepada adikku.
“Ia sekarang berada di sebuah kuburan dalam keadaan menangis seraya mengumpat habis terhadap nafsunya sendiri dengan mengatakan:
“Mengapa kau, wahai nafsu, begitu lancang mengatakan: “Adakah sekarang waktu tidur!. Mengapa kau begitu usil terhadap urusan orang lain. Mestinya seseorang akan bertindak sesuka hatinya, apakah dia akan tidur atau akan berak, itu urusan dia, kau tidak perlu ikut campur. Kau telah mencampuri urusan orang lain yang tidak kau ketahui masalahnya. Demi Allah, sekarang aku mengikat janji kepada-Nya bahwa kau tidak akan aku baringkan di atas tanah selama satu tahun terkecuali jika terlanda sakit atau kesadaranmu hilang. Buruk sekali sikapmu itu, berapa kali kau sudah mempermalukan aku, berapa kali pula kau sudah bertindak keterlaluan, namun ternyata sampai sekarang belum kau sadari, juga tidak kau hentikan.”
“Begitu ucapannya,” kata Malik bin Dhaigham, “Dengan tangis yang tiada henti, padahal adikku telah berada di belakangnya. Ia tidak mengerti kalau di dekatnya ada seseorang yang melihatnya. Setelah mengetahui keadaan Rabah yang demikian itu, adikku segera beranjak untuk kembali ke rumah mengabarkannya kepadaku.”
Diriwayatkan pula oleh seorang shahabat Rasulullah Saw yang bernama Thalhah bahwasannya pada suatu hari seorang lelaki berangkat menuju padang pasir, kemudian segera melepas pakaian yang melekat di tubuhnya dan langsung merebahkan diri berguling-guling di atas pasir panas seraya mengatakan kepada nafsunya:
“Wahai tubuh, rasakanlah panasnya terik matahari ini, sadarilah bahwa neraka Jahanam lebih panas dari pada pasir ini. Adakah kau selalu menjadi bangkai di malam hari dan menjadi pengangguran di siang hari.” begitu kalimat yang diucapkan.
Dari kejauhan Rasulullah yang berada di bawah sebuah pohon besar melihat sendiri perbuatan yang dilakukan lelaki tersebut. Maka beliau segera mendekatinya dan bertanya mengenai perbuatan aneh itu.
“Wahai Rasulullah, hampir-hampir saja nafsuku selalu akan mengalahkan kemauan baikku, sehingga aku beri pelajaran seperti ini.” jawab lelaki tersebut.
“Adakah kau tidak memiliki alternatif yang lain?. Ingatlah, saat ini beberapa pintu langit telah terkuak lebar, kemudian Allah berbangga dengan sikapmu itu di depan para malaikatnya,” begitu dengan teduh Rasulullah menenteramkan hati lelaki tersebut.
Sejenak kemudian para shahabat yang lain segera dipanggil oleh beliau seraya mengatakan :
“Hendaklah kalian segera meraup keuntungan yang besar berupa mustajabahnya do’a lelaki ini,” begitu Rasulullah menghimbau.
Maka para shahabat pun segera mendekati lelaki tersebut agar sudi mendo’akan kebaikan kepada mereka. Dengan cermat lelaki itu mendo’akan kebaikan satu persatu. Maka Rasulullah pun mengatakan:
“Berdo’alah secara umum!.”
Lelaki itu pun berdo’a:
“Ya Allah Tuhanku, jadikanlah ketakwaan sebagai bekal mereka, himpunlah urusan mereka dalam petunjuk yang Engkau berikan.”
Rasulullah kemudian menyambung :
“Ya Allah, buktikan apa yang dia minta.”
Lelaki itu pun menyahut lagi:
“Ya Allah, jadikanlah surga sebagai tempat mereka kembali.”
(Hadits Ibnu Abid Dunia dari riwayat Laits bin Sulaim).



■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar