Jumat, 01 Januari 2010

Memerangi Hawa Nafsu

Ketika Umar bin Khathab masih menjabat Khalifah, ia berjumpa dengan seorang pemuda yang sedang mabuk minuman keras. Segera saja sikap tegas Umar timbul. Ia akan menangkap lelaki itu kemudian dijatuhi hukuman sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun tiba-tiba saja lelaki itu memperolok Umar begitu rupa. Hal inilah yang membuat Umar surut ke belakang. Ia mengurungkan penangkapan itu, kemudianm ia melepaskannya begitu saja. Dalam peristiwa inilah seorang shahabat bertanya:
“Wahai Amiril Mukminin, mengapa pemuda itu engkau lepaskan begitu saja ketika memperolokmu?”
“Aku takut jika hukuman yang akan aku jalankan nanti terpengaruh oleh kemarahanku. Hal ini yang akan menyeleweng dari aturan yang telah digariskan Allah. Tegasnya, aku tidak menghendaki jika terjadi suatu hukuman terpengaruh dengan emosi atau bercampur dengan kepentingan pribadi,” begitu kata Umar.
Yazid bin Abu Sufyan adalah seorang lelaki yang terkenal banyak makannya. Hal ini didengar oleh Umar bin Khathab. Maka pada suatu hari Umar mengatakan kepada sahaya Yazid:
“Jika makan sorenya telah dipersiapkan, hendaklah engkau memberi tahu kepadaku,” begitu pesan Umar.
Setelah saat makan sore Yazid dipersiapkan, Umar pun datang untuk makan bersamanya. Ketika itu seorang pelayan membawakan makanan tsarid (tepung bercampur daging). Yazid tampak segera melahapnya sebelum mempersilakan Umar makan bersamanya. Umar tampak mengikuti kehendak Yazid – ikut makan bersamanya. Sejenak kemudian datang lagi ikan bakar yang mengundang selera, di mana tangan Yazid segera meraih dan melahapnya. Dalam kondisi inilah Umar tidak mau lagi makan, ia malah mengatakan:
“Wahai Yazid, takutlah kepada Allah. Adakah engkau makan lagi sebelum makanan yang pertama dicerna usus. Demi Allah, jika saja kamu menyalahi kebiasaan perilaku para shahabat Rasulullah, engkau jelas akan ditinggalkan oleh mereka di akhirat nanti,” begitu Umar mengungkapkan nasihatnya seraya beranjak keluar rumah.
* * *
Pada suatu hari Umar bin Khathab melihat anaknya yang bernama Abdullah sedang makan dengan memakai lauk daging dan minyak samin. Hal ini yang membuat Umar naik pitam. Segera saja anaknya itu dituding-tuding dengan tongkat seraya mengatakan:
“Betapa buruk kau, makanlah satu hari dengan lauk daging, hari esoknya memakai lauk susu, esoknya lagi memakai minyak samin dan esoknya lagi memakai minyak zait dan esoknya lagi dengan garam.”
Sebuah sikap yang kini sangat sulit didapatkan. Saking sulitnya, sepertinya sudah tidak dapat diketemukan lagi. ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar