Jumat, 01 Januari 2010

Menyikapi Musibah

Ketika nabi Isa As melintas di keramaian orang-orang Yahudi, di saat itulah mereka langsung memperolok nabi Isa dengan ucapan-ucapan yang tak pantas didengar telinga, namun semua itu disikapi oleh beliau dengan begitu arif. Malah sempat menjawab dengan ucapan yang sangat santun. Hal ini yang mengundang takjub para pengikutnya.
“Mengapa tuan begitu sabar dalam menghadapi mereka, padahal mereka telah bersikap menyakitkan begitu rupa?,” begitu tanya para pengikutnya.
“Setiap seseorang akan mengeluarkan sedekah mengenai apa saja yang ia punyai. Jika yang dimiliki itu barang buruk, ia tidak mungkin akan bersedekah dengan barang baik. Sedangkan yang aku punyai barang baik, maka yang aku keluarkan juga perkara yang baik,” begitu jawab nabi Isa sangat edukatif.
Pada suatu pagi Ibnu Mas’ud pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan pokok sehari-hari. Ketika itu suasana pasar begitu ramai sehingga sempat berjubel di sebuah pintu masuk. Ketika itulah tangan-tangan jahil menggerayangi serban di kepalanya, padahal uang belanjanya ditaruhkan di tempat itu. Setelah Ibnu Mas’ud mendapatkan barang dan akan membayarnya, uang itu ternyata telah raib berpindah tangan. Mengetahui musibah yang menimpa seorang shahabat besar ini, orang-orang pasar segera menyumpahserapahi pencopet dengan berbagai do’a yang mengandung kutukan. Malah ada yang mengatakan:
“Ya Allah, potonglah tangan pencopet itu dengan segera.”
Namun begitu aneh, Ibnu Mas’ud pun membalas do’a itu:
“Ya Allah, jika saja si pencopet itu mengambil uangku memang dalam keadaan terdesak ekonominya, hendaklah uang itu Engkau beri berkah. Namun jika saja karena kedurhakaannya, maka jadikanlah pencopetan ini sebagai akhir perbuatan buruknya.” Masya Allah, betapa lapang hatinya, dan betapa luas kesabarannya.
Begitu pula al-Fudhail mengatakan:
“Tidak pernah aku mempunyai seorang shahabat dimana sikap zuhudnya begitu tinggi melebihi seorang lelaki dari Khurasan (Iraq barat) yang pernah aku kenal. Pada suatu hari ketika kami duduk bersama di Masjidil Haram, ia segera bangkit untuk berthawaf. Namun karena berdesak-desakan, tega-teganya seorang copet merogoh saku bajunya sehingga uang dinarnya yang cukup banyak itu melayang seketika. Mengalami kejadian tragis ini, ia tidak henti-hentinya menangis sesenggukan. Ketika itulah aku sempat bertanya:
“Sudahlah, hapuskan air matamu. Jangan terlalu berduka menyesali rezeki yang hilang itu?,” begitu aku melipurnya.
“Tangisku bukan karena uang itu, namun dalam benakku terbayang, bagaimana nanti jika aku harus dipanggil di muka Allah berhadapan dengan si pencopet itu. Kemudian aku jelas bisa menyanggah alasan yang dikemukakannya. Bukanlah minimal ia akan mendapat malu yang tak tertahankan! Tangisku tiada lain tersebab kasihan kepadanya ketika terjadi hisab di muka Allah nanti,” demikian tukas lelaki Khurasan itu.
Seorang Rahib Nasrani pernah bertandang ke istana Baginda Hisyam bin Abdul Malik. Setelah berbincang-bincang seperlunya, Baginda menanyakan:
“Apakah Dzil Qarnain itu seorang nabi atau bukan?”
“Bukan, ia bukan seorang nabi,” jawab rahib, “Namun ia telah mendapatkan martabat yang begitu tinggi berkat empat macam sikapnya. Pertama, tatkala dia mampu melampiaskan kemarahannya, malah disikapi dengan mencurahkan maaf. Kedua, jika ia berbicara, semaksimal mungkin ia akan bersikap jujur. Ketiga, jika dia berjanji maka akan menepati kendati dirasakannya berat. Keempat, ia tidak pernah menumpuk pekerjaan hari ini untuk dikerjakan hari esok.” ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar