Senin, 04 Januari 2010

Mempertahankan Prinsip

Ketika kami pergi untuk bertempur,” kata Abdullah bin Qais, “Seorang lelaki ikut bersama kami. Sikapnya tampak begitu aneh, ia selalu berpuasa di siang hari dan shalat panjang di malam hari, ibadahnya sangat padat. Namun ketika musuh telah datang, segera saja pimpinan prajurit berteriak untuk segera berbaris. Kebetulan hari itu angin menerpa begitu kuat. Lelaki itu tampak maju di barisan paling depan seraya mengucapkan beberapa kalimat yang dapat kami dengar dengan jelas.
“Wahai badan, dulu pernah terjadi pertempuran, ketika itu kau aku ajak untuk ikut bertempur. Namun kau menjawab, “Hendaknya kali ini aku lebih memperhatikan kepentingan keluarga.”
Ucapan yang seperti itu akhirnya aku ikuti. Lagi, pada tahun sesudahnya terjadi lagi pertempuran yang lain, dimana ketika itu kau mengucapkan pula kalimat-kalimat sejenis itu sehingga aku tidak bisa mengikuti. Namun untuk hari ini, sungguh aku bersumpah kepada Allah untuk mengikuti pertempuran ini. Aku tidak akan peduli lagi, apakah akhirnya Allah akan menyelamatkanmu atau tidak, aku tidak peduli”, begitu lelaki tu berucap pada dirinya sendiri.
“Akan aku lihat, “kata Abdullah, “Apakah lelaki itu betul-betul konsisten dengan ucapannya atau hanya sekedar pamer keberanian. Maka ketika para prajurit Islam seluruhnya maju menggempur pertahanan musuh, aku lihat lelaki itu berada pada barisan paling depan. Ia begitu sigap memainkan senjatanya sehingga banyak musuh telah berhasil dirobohkan.
Namun pada kesempatan berikutnya, kini musuh yang berganti mengejar kami sehingga para prajurit tampak berpencar, namun lelaki itu malah dengan gagahnya selalu menyongsong kedatangan mereka. Hal ini terjadi sampai beberapa kali. Dan ketika hari menjelang petang, kami telah melihat lelaki tersebut dalam kedaan sudah tidak bernyawa lagi. Setelah kami teliti tubuhnya, tidak kurang dari enam puluh luka telah mendera dirinya atau malah lebih banyak lagi.


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar